IKAN DOMESTIKASI (MSP) FPIK IPB

Jumat, 21 Mei 2010

ANABOLISME DAN KATABOLISME

ANABOLISME DAN KATABOLISME

Anabolisme adalah penyusunan senyawa kimia sederhana menjadi senyawa kimia atau molekul komplek menurut Prawirohartono dan Hadisumarto (1997). Proses ini membutuhkan energi dari luar. Energi yang digunakan dalam reaksi ini dapat berupa energi cahaya ataupun energi kimia. Energi tersebut, selanjutnya digunakan untuk mengikat senyawa-senyawa sederhana tersebut menjadi senyawa yang lebih kompleks. Jadi, dalam proses ini energi yang diperlukan tersebut tidak hilang, tetapi tersimpan dalam bentuk ikatan-ikatan kimia pada senyawa kompleks yang terbentuk. Anabolisme meliputi tiga tahapan dasar. Pertama, produksi prekursor seperti asam amino, monosakarida, dan nukleotida. Kedua, pengaktivasian senyawa-senyawa tersebut menjadi bentuk reaktif menggunakan energi dari ATP. Ketiga, penggabungan prekursor tersebut menjadi molekul kompleks, seperti protein, polisakarida, lemak, dan asam nukleat. Anabolisme yang menggunakan energi cahaya dikenal dengan fotosintesis, sedangkan anabolisme yang menggunakan energi kimia dikenal dengan kemosintesis. Hasil-hasil anabolisme berguna dalam fungsi yang essential menurut Kimbal (1997) Hasil-hasil tersebut misalnya glikogen dan protein sebagai bahan bakar dalam tubuh, asam nukleat untuk pengkopian informasi genetik. Protein, lipid, dan karbohidrat menyusun struktur tubuh makhluk hidup, baik intrasel maupun ekstrasel Kimbal (1997) Bila sintesis bahan-bahan ini lebih cepat dari perombakannya, maka organisme akan tumbuh. Kimbal (1997)
Katabolisme adalah reaksi pemecahan / pembongkaran senyawa kimia kompleks yang mengandung energi tinggi menjadi senyawa sederhana yang mengandung energi lebih rendah. Tujuan utama katabolisme adalah untuk membebaskan energi yang terkandung di dalam senyawa sumber. Bila pembongkaran suatu zat dalam lingkungan cukup oksigen (aerob) disebut proses respirad, bila dalam lingkungan tanpa oksigen (anaerob) disebut fermentasi.Contoh Respirasi :

C6H12O6 + O2 ——————> 6CO2 + 6H2O + 688KKal.(glukosa)

Contoh Fermentasi :C6H1206 ——————> 2C2H5OH + 2CO2 + Energi.
(glukosa) (etanol)
Pengertian lain Katabolisme adalah serangkaian reaksi yang merupakan proses pemecahan senyawa kompleks menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana dengan membebaskan energi, yang dapat digunakan organisme untuk melakukan aktivitasnya. Termasuk didalamnya reaksi pemecahan dan oksidasi molekul makanan seperti reaksi yang menangkap energi dari cahaya matahari. Fungsi reaksi katabolisme adalah untuk menyediakan energi dan komponen yang dibutuhkan oleh reaksi anabolisme.























HUBUNGAN ENERGI TERHADAP STADIA LARVA,
LINGKUNGAN DAN MUSIM

Kebutuhan energi diperlukan dan dipengaruhi juga pada masa stdia larva Menurut Effendi dan muhamad tang (2002) dalam (Cho et al. 1982) kebutuhan energi dipengaruhi oleh stadia dalam siklus hidupnya. Ikan muda yang sedang tumbuh membutuhkan energi persatuan berat badanya lebih banyak dibandingkan ikan dewasa. Kekurangan energi juga dapat menyebabkan kematian ikaorganisme seperti Kematian larva yang tinggi dikarenakan pada fase kritis stadia larva, terjadi peralihan pemanfaatan makanan dari kuning telur (endogenous feeding) ke pemanfaatan pakan dari luar (exogenous feeding). Apabila terjadi kesenjangan pemanfaatan energi dari endogenous feeding ke exogenous feeding maka akan menyebabkan kematian larva (Effendie, 2004).
Kebutuhan energi juga dipengaruhi terhadap musim dan lingkungan. Menjelang musim dingin, ikan akan meningkatkan konsumsi makanan dan menyimpan energi sebagai cadangan, sebagai respon terhadap penurunan suhu pada musim dingin menurut Effendi dan muhamad tang (2002). Karena dalam suhu yang berubah organisme akan menyiapkan sejumlah energi ssebagi ketersediaanya pada waktu yang sulit. Contoh pada ikan menurut Effendi dan muhamad tang (2002) hewan poikilothermal seperti ikan laju metabolisme akan berubah mengikuti perubahan suhu air, dan oleh karna itu kebutuhan akan energi akan meningkat sehubungan dengan meningkatnya suhu air. Tidak hanya musim, factor lingkungan juga mempengaruhi ketersediaan energi. Pada daerah yang buruk seperti DO rendah membuat ikan ikan lele mengelurkan energi lebuh banyak untuk respirasi Doi dan Singharaiwan, (1993) seperti suhu (Kamler, 1989;Effendie, 2002), cahaya (Ekau 2002), oksigen terlarut (Lagler, 1977; Ekau, 2002

Sedangkan adanya perbedaan lama waktu habisnya penyerapan kuning telur disebabkan karena adanya pengaruh lingkungan








DAFTAR PUSTAKA
Prawirohartono, S. dan Hadisumarto, S. (1997). Sains Biologi 3a Untuk SMU Kelas 3 Tengah Tahun Pertama Sesuai Kurikulum 1994. Jakarta: Bumi Aksara
Kimbal, J. (n.d.). (1997)Biologi Edisi kelima. Alih bahasa: Siti Soetarmi Tjitrosomo, Nawangsari Sugiri. Jakarta: Erlangga.
Kimbal, J. (n.d.). (1997) Biologi Edisi kelima. Alih bahasa: Siti Soetarmi Tjitrosomo, Nawangsari Sugiri. Jakarta: Erlangga.
Kimbal, J. (n.d.). (1997) Biologi Edisi kelima. Alih bahasa: Siti Soetarmi Tjitrosomo, Nawangsari Sugiri. Jakarta: Erlangga.

1 komentar:

Sugeng Riyadi's Family mengatakan...

Terima Kasih artikelnya ya...

menurut saudara apa yang perlu ditambahkan?