Selasa, 01 Juni 2010

FITOPLANKTON PENYEBAB HARMFUL ALGAE BLOOMS (HABs) DI PERAIRAN SIDOARJO

AUNUROHIM*, DIAN SAPTARINI*, DEVIE YANTHI** *Biologi FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember-Surabaya
**Alumni Biologi FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember-Surabaya aunurohim@bio.its.ac.id
dian@bio.its.ac.id devie@bio.its.ac.id

ABSTRAK
Harmful Algae Blooms (HABs) adalah suatu fenomena blooming fitoplankton toksik di suatu perairan yang dapat menyebabkan kematian biota lain. Toksin yang dihasilkan HABs dapat mengkontaminasi manusia melalui perantara kerang dan ikan. Perairan Sidoarjo merupakan muara dari beberapa sungai dan penting sebagai area penangkapan perikanan. Data monitoring Dinas Kelautan dan Perikanan tahun 2006 menunjukkan bahwa di perairan Sidoarjo ditemukan spesies yang berpotensi menyebabkan HABs yaitu Ceratium fucus, Ceratium tripos dan Dinophysis caudata. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi dan mengetahui kepadatan serta distribusi fitoplankton yang berpotensi menyebabkan HABs di perairan Sidoarjo. Pengambilan sampel fitoplankton dilakukan pada bulan Mei 2008 d i 12 ti tik pen g am bi lan sa mpel d en gan men g gun a kan jarin g fi toplan kt on 2 0 µm.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 11 spesies penyebab HABs, Nitzschia sp., Chaetoceros sp. Chaetoceros diversus, Chaetoceros pseudocarvisetum dari kelas Bacillariophyceae, Ceratium sp.1, Ceratium sp.2, Ceratium sp.3, Ceratium sp.4, Prorocentrum sp., Dinophysis homunculus dari kelas Dinoflagellata dan Anabaena sp. dari kelas Cyanophyceae. Spesies yang ditemukan di seluruh titik pengambilan sampel yaitu Nitzschia sp., Ceratium sp.1, Chaetoceros sp., Chaetoceros diversus, dan Chaetoceros pseudocarvisetum. Nitzschia sp. merupakan spesies yang mempunyai kepadatan rata-rata tertinggi yaitu sebesar 497 ind/L dan kepadatan tertinggi kedua pada Chaetoceros sp. yaitu 371 ind/L. Kata kunci : Harmful Algae Blooms (HABs), Fitoplankton, Perairan Sidoarjo.

PENDAHULUAN
Fitoplankton memiliki klorofil yang berperan dalam fotosintesis untuk menghasilkan
bahan organik dan oksigen dalam air yang digunakan sebagai dasar mata rantai pada siklus makanan di laut. Namun fitoplankton tertentu mempunyai peran menurunkan kualitas perairan laut apabila jumlahnya berlebih (blooming) [1]. Tingginya populasi fitoplankton beracun di dalam suatu perairan dapat menyebabkan berbagai akibat negatif bagi ekosistem perairan, seperti berkurangnya oksigen di dalam air yang dapat menyebabkan kematian berbagai makhluk air lainnya [2]. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa beberapa jenis fitoplankton yang potensial blooming adalah yang bersifat toksik, seperti dari beberapa kelompok Dinoflagellata, yaitu Alexandrium spp, Gymnodinium spp, dan Dinophysis spp. Dari kelompok Diatom tercatat jenis Pseudonitszchia spp termasuk fitoplankton toksik [3].
Ledakan populasi fitoplankton yang diikuti dengan keberadaan jenis fitoplankton beracun akan menimbulkan Ledakan Populasi Alga Berbahaya (Harmful Algae Blooms – HABs). Faktor yang dapat memicu ledakan populasi fitoplankton berbahaya antara lain karena adanya eutrofikasi adanya upwelling yang mengangkat massa air kaya unsur-unsur hara; adanya hujan lebat dan masuknya air ke laut dalam jumlah yang besar [4].
Beberapa kejadian fatal yang disebabkan oleh fitoplankton beracun tercatat di perairan Lewotobi dan Lewouran (Nusa Tenggara Timur), Pulau Sebatik (Kalimantan Timur), perairan Makassar dan Teluk Ambon. Di beberapa negara maju, ledakan fitoplankton juga mendapat prioritas penanganan mengingat dampak kerugiannya yang tinggi. Beberapa penyakit akut yang disebabkan oleh racun dari kelompok fitoplankton berbahaya adalah Paralytic Shellfish Poisoning (PSP), Amnesic Shellfish Poisoning (ASP), dan Diarrhetic Shellfish Poisoning (DSP). Racunracun tersebut sangat berbahaya karena di antaranya menyerang sistem saraf manusia, pernapasan, dan pencernaan. Semua penyakit di atas berkaitan dengan konsumsi kerang oleh manusia. Dan
1 faktanya, semua jenis fitoplankton yang beracun di atas dijumpai di beberapa perairan pesisir Indonesia [5].
Berdasarkan data monitoring dari Dinas Kelautan dan Perikanan (2006) di perairan Sidoarjo ditemukan spesies yang berpotensi menyebabkan HABs yaitu Ceratium fucus, Ceratium tripos dan Dinophysis caudata. Sedangkan Perairan Sidoarjo merupakan daerah penting bagi nelayan sekitar karena telah lama dijadikan sebagai area penangkapan perikanan. Sehingga pemanfaatan tersebut harus didukung dengan adanya informasi mengenai potensi dan ancaman di perairan Sidoarjo agar dapat digunakan se-optimal mungkin dan untuk mempermudah dalam pengelolaan. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi serta mengetahui kepadatan dan distribusi fitoplankton yang berpotensi menyebabkan HABs di perairan Sidoarjo.
CARA KERJA Lokasi dan waktu penelitian Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Mei 2008 di perairan Sidoarjo, dan dilanjutkan analisis sampel di Laboratorium Ekologi Program Studi Biologi FMIPA ITS.
Gambar 1. Lokasi Pengambilan Sampel di Pesisir Sidoarjo, Jawa Timur (modifikasi Citra LANDSAT 2003; Skala 1:217458)
Keterangan : : titik sampling : titik sampling DKP tahun 2005 : titik sampling DKP tahun 2006
Pengambilan dan pengamatan sampel fitoplankton

Pengambilan sampel fitoplankton dengan mengguna kan jari ng pl an kt on uk uran mes h 2 0 µm hingga diperoleh sebanyak 30 ml dari 30 liter air, kemudian diawetkan dengan lugol 4%. Identifikasi fitoplankton hingga tingkat genus menggunakan mikroskop binokuler dan bilik
Sedgwick Rafter counting cell. Acuan identifikasi dengan menggunakan buku [6] ”Ilustrations of the Marine Plankton in Japan” dan [7] ”Identifying Marine Phytoplankton” .
Pengukuran faktor fisik-kimia perairan Sidoarjo
U
Pesisir Sidoarjo
Untuk mendukung deskripsi tempat pengambilan sampel, maka faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi seperti faktor fisika-kimia air (temperatur, pH, salinitas, kandungan oksigen terlarut dan kandungan nitrat dan fosfat) diambil datanya.
2 Analisis data
Data yang diperoleh dianalisis untuk mengetahui kepadatan, diversitas dan dominansi dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
1. Kepadatan Plankton N =
disaringvolxdiamativol sampelvolxn
x 1000 x pengenceran*
Dimana : N = Kepadatan (sel/liter) n = Jumlah organisme yang didapat * = jika dilakukan
2. Indeks diversitas dari Shannon Weaver [8]
H = -

N ni
ln
N ni

Dimana : H’ = indeks diversitas ni = jumlah individu tiap jenis N = jumlah total individu semua jenis
3. Indeks dominansi formula Simpson [9]
Di =
N ni
x 100%
Dimana : Di = indeks dominansi (%)
ni = jumlah individu tiap jenis N = jumlah total individu tiap jenis
HASIL Fitoplankton di Perairan Sidoarjo
Setelah dilakukan pengamatan pada sampel dari perairan Sidoarjo, maka data hasil pengamatan dan penghitungan dapat dilihat pada Tabel 1. Fitoplankton yang ditemukan pada 12 titik sampling di perairan Sidoarjo berkisar antara 18-27 spesies yang terdiri dari tiga kelas yaitu Bacillariophyceae, Dinophyceae dan Cyanophyceae. Skeletonema costatum merupakan spesies yang hampir dominan di semua titik, dengan jumlah tertinggi pada titik-4.
Kepadatan fitoplankton berkisar antara 405 – 46967 ind/L dengan kepadatan fitoplankton tertinggi di titik-4 dan kepadatan terendah di titik-10. Berdasarkan Tabel 1, diketahui indeks diversitas fitoplankton pada perairan Sidoarjo, memiliki kisaran indeks diversitas dari 0,27 hingga 2,37. Indeks tertinggi didapat pada titik 4 sedangkan indeks terendah pada titik 6.
Ditinjau dari data kondisi lingkungan, faktor suhu, salinitas, pH dan oksigen terlarut tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada ke-dua belas titik lokasi sampling sehingga dianggap tidak memberikan pengaruh. Tabel 1. Data kepadatan fitoplankton di setiap titik pengambilan sampel
Kepadatan fitoplankton pada tiap titik sampling (ind/liter) No Species
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Kelas BACILLARIOPHYCEAE 1 Skeletonema costatum 5050 16840 38700 44973 13 269 648 3332 2006 48 1004 6351
2 Nitzschia sp. 513 243 1480 600 141 398 833 592 475 92 122 476 3 Chaetocheros diversus 115 260 147 120 5 32 63 155 6 3 4 35
4 Chaetocheros pseudocarvisetum 23 20 97 53 7 144 28 32 185 15 2 25
5 Chaetocheros sp. 316 307 437 353 50 297 453 957 654 78 19 535 6 Coscinodiscus sp. 26 46 287 170 39 84 6 3 23 16 3 1
7 Asterionella japonica 4 0 40 0 0 0 2 14 3 1 0 1 8 Rhizosolenia sp. 22 3 33 27 1 1 0 0 10 0 1 8
9 Bacteriastrum sp. 1 2 60 0 0 0 1 1 1 1 0 0 10 Thalassionema
nitzschioides 47 89 130 47 6 23 148 95 22 9 5 12 11 Thalassiothrix sp. 2 5 40 0 1 10 5 6 26 1 2 2
12 Biddulphia sp. 28 47 523 127 7 24 18 8 26 1 0 1 13 Biddulphia mobiliensis 5 8 110 23 0 1 0 0 3 0 0 0 14 Dithylium sp. 52 37 607 153 3 3 7 16 13 1 0 2 15 Pleurosigma sp. 1 11 760 150 0 0 0 0 2 0 0 0 16 Navicula sp. 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 17 Thalassiosira sp. 0 58 93 17 1 96 57 18 53 4 0 14 Kelas DINOPHYCEAE 18 Ceratium sp1 6 240 13 57 29 26 40 13 19 11 1 7 19 Ceratium sp2 1 195 0 13 4 24 64 47 9 54 6 11 20 Ceratium sp3 4 40 0 17 167 28 35 3 4 1 12 9 21 Ceratium sp4 7 9 7 0 0 151 5 1 5 0 2 7 22 Peridinium sp 4 368 0 3 1 18 23 3 5 50 6 8 23 Dinophysis homunculus 0 42 0 0 30 43 16 1 1 0 0 1 24 Prorocentrum sp 0 1 0 0 1 2 4 5 0 5 2 3 25 Ornithocercus sp 0 0 0 0 5 0 0 0 0 0 0 0
26 Pryrophacus horologicum 2 0 160 13 39 60 14 6 0 10 1 3
Kelas CYANOPHYCEAE 27 Anabaena sp 6 12 40 0 25 14 17 19 4 7 1 13
28 Chroococcus sp 4 0 0 0 1 0 3 0 2 0 0 0 29 Oscillatoria sp 0 12 0 40 38 0 11 16 0 0 2 2
Species unknown 1 0 0 0 0 0 0 3 7 4 0 0 4 Species unknown 2 2 4 0 10 1 1 2 0 1 0 0 0
Kepadatan total (N) 6242 18899 43764 46966 615 1749 2506 5350 3563 408 1195 7531
Indeks keanekaragaman (H’) 0.825 0.61 0.621 0.272 2.278 2.378 1.934 1.254 1.417 2.243 0.679 0.65
Fitoplankton Penyebab Harmful Algae Blooms (HABs)
Jenis fitoplankton yang berpotensi menyebabkan Harmful Algae Blooms (HABs) yang ditemukan di perairan Sidoarjo adalah Nitzschia sp., Chaetoceros sp., Chaetoceros diversus, Chaetoceros pseudocarvisetum dari kelas Bacillariophyceae, Ceratium sp.1, Ceratium sp.2, Ceratium sp.3, Ceratium sp.4, Prorocentrum sp., Dinophysis homunculus dari kelas Dinophyceae dan Anabaena sp. dari kelas Cyanophyceae
Lima spesies yang ditemukan di seluruh titik pengambilan sampel, yaitu Nitzschia sp. dengan kepadatan 92-1480 ind/L, Ceratium sp.1 1-240 ind/L, Chaetoceros sp. 19-957 ind/L, Chaetoceros diversus 3-260 ind/L, Chaetoceros pseudocarvisetum dengan kepadatan 2-185 ind/L.
Kepadatan rata-rata dari ke-11 spesies HABs yang ditemukan pada ke-12 titik pengambilan sampel dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Nitzschia sp. merupakan spesies yang mempunyai kepadatan rata-rata tertinggi yaitu sebesar 497 ind/L dan kepadatan tertinggi kedua pada Chaetoceros sp. yaitu 371 ind/L. Kepadatan (ind/L)
500 600
200 300 400
0 100
s c
t z
N i
h i
497
.
s p
a
t i
r a
C e
s
u m
Kepadatan Rata-Rata Spesies HABs
39 36 27
1
p .
t i
r a
C e
p .
s
u m
2
t i
r a
C e
p .
s
u m
3
t i
r a
C e
s
u m
D i
16 11 2
4
p .
y s
p h
n o
o m
h
i s
l u
c u
u n
s
o c
o r
P r
m
t r u
e n
Spesies
.
s p
a e
a b
A n
n a
13
p .
s
t o
a e
C h
s
r o
c e
C h
371
.
s p
c e
t o
a e
C h
d i
s
r o
t o
a e
r s
v e
s
r o
c e
79 53
u s
d o
e u
p s
i s
r v
c a
u m
e t
Gambar 2. Grafik rerata kepadatan sebelas spesies HABS pada 12 titik lokasi pengambilan sampel di perairan Sidoarjo, Jawa Timur


PEMBAHASAN
Spesies dari kelas Bacillariophyceae merupakan spesies yang umum ditemukan di perairan
laut. Kelompok Bacillariophyceae atau lebih dikenal diatom merupakan kelompok terbesar dari algae. Ledakan populasi dari diatom di suatu perairan umumnya menandakan meningkatnya produktivitas perairan tersebut, namun blooming diatom kadang-kadang dapat menyebabkan berkurangnya kandungan oksigen di dalam air laut [5].
Dominansi Skeletonema costatum disebabkan oleh sifatnya yang euryhaline dan eurythermal (mampu tumbuh pada kisaran suhu 3° - 30° C), sehingga lebih toleran terhadap perubahan kondisi lingkungan [10].
Salinitas yang berbeda berpengaruh terhadap komposisi jenis fitoplankton yang ada di perairan [11]. Salinitas pada lokasi pengambilan sampel berkisar antara 5 ‰– 30‰. Dimana titik-1 merupakan estuarin bersalinitas 5‰, sedangkan pada titik lain merupakan perairan laut dengan salinitas ≥ 2 5 ‰. B acill ar i op h ycea e mer upa ka n k el om p o k ya ng d omi n an d a n s elal u a da p a da ti ap titik pengambilan sampel, hal ini menunjukkan bahwa Bacillariophyceae merupakan organisme euryhaline, dimana Bacillariophyceae dapat hidup pada kisaran salinitas 5‰-30‰ [11].
Suhu pada masing-masing titik pengambilan sampel masih berada dalam kisaran yang memungkinkan untuk kehidupan plankton, yaitu 27 – 32.1°C. Suhu optimum untuk kehidupan fitoplankton adalah 25-30°C. Suhu berpengaruh langsung terhadap laju fotosintesis tumbuhan khususnya reaksi enzimatis. Perubahan temperatur merupakan indikator terjadinya proses perubahan kondisi kimia dan biologi perairan [12].
Faktor pembatas bagi kehidupan fitoplankton ialah nitrat dan fosfat. Pada pengamatan dari ke-12 titik didapatkan kandungan nitrat dan fosfat berturut-turut berada pada kisaran 0.02-0.517 mg/L dan 0.04-0.224 mg/L. Pada semua titik nilai nitrat dan fosfat melebihi dari ambang batas yang ditetapkan untuk baku mutu air laut untuk biota laut, berdasarkan KepMen LH no 51 thn 2004 lampiran III kadar nitrat sebesar 0,008 mg/l dan fosfat sebesar 0,015 mg/l. Titik 1 mempunyai kadar nitrat dan fosfat yang paling tinggi, karena daerah muara merupakan perairan yang banyak mendapat masukan zat haradari daratan. Kadar nitrat yang lebih dari 0,2 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi, selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae secara pesat (blooming) [13].
Indeks keanekaragaman (H’) berkisar antara 0,272-2,378 sehingga dapat diasumsikan bahwa struktur komunitas perairan Sidoarjo antara tidak stabil sampai lebih stabil, dengan struktur komunitas tidak stabil untuk titik-4 dan struktur komuntas lebih stabil pada titik-6 (tabel 1). Struktur komunitas dikatakan stabil jika tidak ada suatu spesies yang mendominasi di dalam komunitas tersebut. Sedangkan struktur komunitas dianggap labil atau tidak stabil bisa jadi dikarenakan terjadi tekanan ekologis (stress lingkungan) [14].
5 Spesies HABs yang paling banyak ditemukan berasal dari kelas Dinophyceae. Hal ini dikarenakan Dinophyceae dapat membentuk sista (cyst) sebagai tahap istirahat, sista ini mengendap di dasar laut dan istirahat sampai kondisi lingkungan mendukung kembali untuk tumbuh [15]. Anggota dari kelompok ini diketahui paling banyak mempunyai jenis-jenis toksik [5].
Nitzschia sp. merupakan spesies penyebab Amnesic Shellfish Poisoning (ASP) yang mengeluarkan toksin asam domoic. Toksin yang diproduksi dapat memasuki rantai makanan hingga ke tubuh manusia melalui perantara kerang. Kerang merupakan organisme bentik suspension feeder yang menyaring plankton yang melimpah di kolom air [11]. Ambang batas aku mul as i as a m do moi c p a da k er an g i al ah 2 0 µ g (as a m d o moi c)/ g (b er at jar ing an k er a ng ) [3]. Menurut [16] jenis kerang yang ditemukan di perairan Sidoarjo adalah kerang batik (Paphia undulata) yang mencapai 70 % dari total tangkapan kerang di perairan, kerang darah (Anadara granosa) dan kerang bulu (Anadara antiqua), dan ke-tiga jenis kerang tersebut merupakan kerang yang umum dikonsumsi dan berpotensi untuk diekspor. Sedangkan menurut Dinas Kelautan dan Perikanan, standar untuk ekspor kerang ialah salah satunya dilihat dari adanya fitoplankton berbahaya dengan kepadatan >5000 individu/liter. Dan dari hasil penelitian, kepadatan Nitzschia yang ditemukan kurang dari 5000 individu/liter.
Chaetoceros sp., spesies HABs tertinggi kedua setelah Nitzschia sp., merupakan spesies fitoplankton yang tidak toksik terhadap manusia tetapi secara fisik dapat mengganggu sistem pernafasan ikan dan avertebrata terutama apabila kepadatan individunya relatif tinggi. Diatom jenis ini mempunyai morfologi khas yaitu duri. Duri-duri tersebut dapat merangsang pembentukan lendir pada insang biota laut, sehingga biota tersebut sukar bernafas. Duri-duri ini bahkan dapat menyebabkan pendarahan di insang [5]. Chaetoceros merupakan jenis fitoplankton yang diketahui mampu bertahan di perairan tercemar [14]. KESIMPULAN
1. Fitoplankton yang berpotensi menyebabkan Harmful Algae Blooms (HABs) di perairan Sidoarjo didapatkan 11 spesies yaitu Nitzschia sp., Chaetoceros sp. Chaetoceros diversus, Chaetoceros pseudocarvisetum dari kelas Bacillariophyceae, Ceratium sp.1, Ceratium sp.2, Ceratium sp.3, Ceratium sp.4, Prorocentrum sp., Dinophysis homunculus dari kelas Dinoflagellata dan Anabaena sp. dari kelas Cyanophyceae.
2. Spesies yang ditemukan di seluruh titik pengambilan sampel ialah Nitzschia sp. dengan kepadatan 92-1480 ind/L, Ceratium sp.1 kepadatan 1-240 ind/L, Chaetoceros sp. kepadatan 19-957 ind/L, Chaetoceros diversus kepadatan 3-155 ind/L, Chaetoceros pseudocarvisetum kepadatan 2-185 ind/L.
3. Nitzschia sp. merupakan spesies yang mempunyai kepadatan rata-rata tertinggi yaitu sebesar 497 ind/L dan kepadatan tertinggi kedua pada Chaetoceros sp. yaitu 371 ind/L
DAFTAR PUSTAKA [1]. Anderson, D,M., J,M, Burkholder., W,P, Cochlan., P,M, Gilbert., C,J, Gobler., C,A, Heil.,
R,M, Kudela., M,L, Parsons., J,E, Jack Rensel., D,W, Townsend., V,L, Trainer., G,A, Vargo., 2008, Harmful algall blooms and eutrophication: Examining linkages from selected coastal region of the United Stated, Harmful Algae., 8, 39-53.
[2]. Damar, A, 2006, Musim hujan dan eutrofikasi perairan pesisir, Majalah Tempo, 30 Nopember 2006.
[3]. Mos, L., 2001, Domoic acid: a fascinating marine toxin. Enviromental Toxicology and Pharmacology 9, 79-85.
[4]. Wiadnyana, N,N., 1996, Mikroalga berbahaya di Indonesia. Oseanology dan Limnology di Indonesia, 29, 15 – 28.
[5]. Praseno, D,P. dan Sugestiningsih., 2000, Red tide di perairan Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi – LIPI, Jakarta
[6]. Yamaji, I. 1979. Ilustration of the Marine Plankton of Japan. Hoikusha Publishing Co. Osaka Japan.
[7]. Jomes, C., 1997, Identifying Marine Phytoplankton, Academic Press Harcourt Brace and Company, San Diego California. [8]. Odum, E.P. 1993. Fundamentals of Ecology. W.B. Saunders Co. Philadelpia. [9]. Brower, J. E, J.H. Zar and C. N. Ende. 1997. Field and Laboratory Methods for General
Ecology. Fourth Edition. WMC Co publ. Doboque, Lowa, USA. [10]. Isnansetyo, A dan Kurniastuty., 1995, Teknik kultur phytoplankton dan zooplankton, Penerbit
Kanisius, Yogyakarta. [11]. Nybakken. 1988. Biologi laut suatu pendekatan ekologis. PT Gramedia. Jakarta [12]. Soedarti, Thin. Jayanti Aristiana, Agoes Soegianto. 2006. Diversitas Fitoplankton Pada
Ekosistem perairan Waduk Sutami Malang. Penelitian Hayati Berkala, 11, 97-103. [13]. Effendi, H., 2003, Telaah kualitas air bagi pengelolaan sumber daya dan lingkungan
perairan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. [14]. Fachrul, M F, Haeruman H, Sitepu L C, 2005, Komunitas Fitoplankton Sebagai Bioindikator
Kualitas Perairan Teluk Jakarta, Seminar Nasional MIPA, Universitas Indonesia, Jakarta. [15]. Nontji, A., 2006, Tiada kehidupan di muka bumi tanpa plankton. Pusat Penelitian Oseanografi
– LIPI, Jakarta. [16]. Mukadar, S., 2008, Studi bioakumulasi logam berat untuk pengembangan zona tangkap


kekerangan di pesisir Sidoarjo. Tesis. Bidang Keahlian Teknik Manajemen Pantai, Fakultas Teknologi Kelautan ITS.

Mengapa Hewan Dapat Membuat Cahaya/ berpendar ( biolumenescence) ?

Para ilmuwan tidak tahu mengapa semua bentuk kehidupan bioluminescent cahaya. Sebagai contoh, beberapa jenis cacing tanah menciptakan luminescent sekresi yang tidak memiliki tujuan yang jelas. Alasan untuk beberapa jamur 'cahaya juga tidak jelas, walaupun beberapa ilmuwan berteori bahwa menarik serangga yang menyebarkan jamur' spora. Beberapa hewan menyala ketika binatang terdekat mulai bersinar, dan tidak selalu ada alasan yang jelas perilaku ini.

Ketidakpastian ini ada di laut maupun di darat. Beberapa spesies bersel tunggal yang disebut plankton dinoflagellates cahaya ketika terganggu. Pasang, badai, kolam kehidupan laut dan kapal-kapal yang lewat dapat menyebabkan sejumlah besar plankton ini untuk menghasilkan cahaya secara bersamaan. Dinoflagellates bertanggung jawab atas fenomena yang dikenal sebagai susu laut, yang menyebabkan laut bercahaya. Dalam beberapa kasus, ini begitu terang cahaya itu mengganggu navigasi laut.

Alarm pencuri-teori ini adalah penjelasan yang mungkin untuk bagaimana respons terhadap gangguan ini membantu plankton bertahan hidup. Jika ikan kecil mulai memakan plankton, plankton terganggu memancarkan kilatan cahaya. Cahaya menarik ikan yang lebih besar, yang mungkin menjadi pemangsa ikan yang lebih kecil. Dengan kata lain, cahaya lampu kilat adalah alarm yang memperingatkan dekat hewan besar dari kehadiran binatang-binatang kecil. Namun, sistem ini tampaknya tidak menjadi seperti sangat mudah karena sebagian yang lebih baik dipahami kegunaan bioluminescence.
Ilmuwan memiliki gagasan dasar tentang perbedaan antara lampu pijar dan pendaran sejauh 2.500 tahun yang lalu. Tahun 1600-an, para peneliti mulai menemukan persis bagaimana binatang membuat cahaya mereka sendiri. Tapi karena binatang yang berbeda menggunakan zat yang berbeda, para ilmuwan masih belum tahu persis bagaimana setiap spesies membuat bioluminescent cahaya. Dalam beberapa kasus, para peneliti belum tahu mengapa binatang membuat cahaya atau bagaimana kontrol yang on-off switch. Bioluminescence juga dapat sulit untuk belajar, karena banyak binatang knalpot luminescent kemampuan mereka ketika ditangkap. Dalam kasus lain, proses menangkap menghancurkan organ penghasil cahaya.

Kamis, 27 Mei 2010

ASPEK HABITAT, MAKANAN DAN REPRODUKSI IKAN LAIS

© 2004 Roza Elvyra Posted 11 Desember 2004 Makalah Individu Pengantar Ke Falsafah Sains (PPS 702) Sekolah Pasca Sarjana / S3 Institut Pertanian Bogor Desember, 2004 Dosen : Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (Penanggung Jawab) Prof. Dr. Ir. Zahrial Coto Dr. Ir. Hardjanto, MS.

ASPEK HABITAT, MAKANAN DAN REPRODUKSI IKAN LAIS
Oleh :
ROZA ELVYRA
G361040071/BIO roza_elvyra@yahoo.com
I. PENDAHULUAN
Keberadaan makhluk hidup pada suatu daerah tergantung pada faktor lingkungan yang dapat mendukung kehidupan makhluk hidup pada daerah tersebut. Hubungan timbal balik terjadi antara makhluk hidup dengan lingkungannya baik faktor biotik maupun abiotik dalam suatu ekosistem. Apabila faktor lingkungannya sesuai, makhluk hidup dapat hidup dengan baik. Tetapi apabila faktor lingkungan berubah, hanya makluk hidup yang mempunyai kisaran toleransi yang luas terhadap perubahan tersebut, yang akan mampu bertahan hidup. Hal ini berlaku pada ekosistem daratan maupun perairan.
Pada ekosistem perairan, dikenal suatu tipe yang khas yaitu “flood plain river” atau sungai berawa banjiran yang dikenal juga dengan sebutan lebak lebung. Variasi ketinggian dan kemiringan daerah pada plain (dataran) ini menyebabkan perbedaaan pada waktu terbenamnya suatu tempat pada plain tersebut, begitu juga pada pola aliran banjirnya (flood). Perubahan terjadi terus menerus pada dasar sungai. Sungai yang sudah lama terbentuk, sedimen pada bagian dasarnya berupa lumpur dan pada dasar sungai yang masih baru,
2
sedimennya berupa potongan-potongan tumbuhan. Hal ini memberikan karakteristik dataran air tawar (flat plain), yang menghasilkan modifikasi terus menerus pada daerah geografinya (Welcomme, 1979).
Ikan lais hidup di sungai yang termasuk tipe sungai berawa banjiran. Daerah penyebaran ikan ini di Indonesia adalah di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Jenis ikan yang dikatakan ikan lais oleh masyarakat adalah jenis-jenis ikan dari famili Siluridae yang terdiri dari beberapa genus. Diantara genus-genus tersebut yang mempunyai spesies paling banyak adalah Cryptopterus yaitu terdiri dari C. bicirrhis, C. schilbeides, C. cryptopterus, C. hexapterus, C. limpok, C. macrocephalus, C. apogon, C. micronema, C. lais dan C. mononema (Saanin, 1984 dan Kottelat et al., 1993). Pada makalah ini penulis membatasi bahasan hanya pada ikan-ikan lais dari genus Cryptopterus saja.
Ikan lais merupakan ikan air tawar yang mempunyai arti ekonomis penting. Ikan tersebut disukai oleh masyarakat dan dapat dibeli dalam bentuk segar maupun ikan asap (salai). Menurut informasi nelayan dari salah satu daerah penyebaran ikan lais yaitu di Sungai Kampar Kiri propinsi Riau, ikan lais akhirakhir ini semakin sedikit yang tertangkap dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menyebabkan harga ikan lais semakin mahal sehingga para nelayan berusaha menangkap ikan tersebut tanpa memperhatikan ukurannya lagi. Penangkapan dengan tidak mempertimbangkan ukuran ikan, tentu mengakibatkan turunnya kepadatan populasi ikan. Besar kemungkinan ikan-ikan kecil yang tertangkap adalah ikan yang belum sempat bereproduksi. Hal ini pada akhirnya akan dapat menyebabkan kepunahan. Oleh sebab itu usaha pelestarian perlu dilakukan sebelum terjadi kepunahannya di alam. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka perlu dilakukan pelestarian terhadap ikan lais khususnya Cryptopterus spp., antara lain melalui pembudidayaannya.
Aspek-aspek yang perlu diketahui dalam usaha pembudidayaan Cryptopterus spp. diantaranya adalah habitat, makanan, serta reproduksinya. Penelitian terhadap ikan lais Cryptopterus spp. yang telah dilakukan antara lain morfometrik ikan lais Siluroidea dari perairan kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar Riau (Pulungan, Ahmad, Siregar, Ma’amoen dan Alawi, 1985). Aspek biologi ikan lais di perairan Lubuk Lampam Sumatera Selatan mengenai kebiasaan makanan, reproduksi dan faktor kondisi ikan (Utomo, Adjie dan Asyari, 1990). Beberapa aspek ekologi ikan lais C. limpok (Blkr.) di sungai Kampar Kiri Riau yaitu mengenai habitat, kebiasaan makanan dan reproduksi (Elvyra, 2004). Data-data mengenai aspek-aspek tersebut sangat diperlukan terutama dalam usaha pembudidayaan untuk menjaga kelestarian ikan lais.
II. IKAN LAIS Cryptopterus spp. 2.1. Sistimatika dan Ciri Morfologi
Sistimatika ikan lais Cryptopterus spp. yang termasuk kelompok ikan catfish ini, menurut Saanin (1984) adalah :
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Pisces Sub Kelas : Teleostei Ordo : Ostariophysi Sub Ordo : Siluroidea Famili : Siluridae Genus : Cryptopterus
Nama daerah ikan lais ini di Indonesia bermacam-macam antara lain dikenal dengan nama lais padi, lais tunggul, limpok, padgiat, mahor, bentilap, léé, lais timah dan lais putih.
Selanjutnya Saanin (1984) dan Kottelat et al., (1993) menjelaskan ciri-ciri Cryptopterus antara lain adalah tidak bersisik, ujung belakang lubang hidung di muka pinggiran depan mata. Gigi-gigi pada tulang mata bajak (dengan satu kecualian) satu tumpuk. Sungut dua pasang. Sirip punggung rudimenter atau tidak ada. Bersirip perut. Tidak mempunyai sirip lemak. Sirip dubur sangat panjang. Ciri-ciri jenis ikan dari genus Cryptopterus dijelaskan di bawah ini, sedangkan beberapa gambarnya dapat dilihat pada Lampiran 1.
Ciri-ciri C. schilbeides yaitu gigi-gigi pada tulang bajak 2 tumpuk yang berpisahan. Pada C. macrocephalus gigi-gigi tulang mata bajak 1 tumpuk. Sirip punggung rudimenter. Sungut rahang bawah lebih pendek daripada kepala. Sirip dada sepanjang kepala. Sedangkan pada C. bicirrhis sirip dada jauh lebih panjang
4
daripada kepala. Sungut rahang atas mencapai sirip perut atau sirip dubur. Mempunyai 8-9 tulang tambahan tutup insang. Apabila sungut rahang atas mencapai atau melewati pertengahan sirip dubur, dengan 8-9 tulang tambahan tutup insang merupakan ciri-ciri C. lais. Sedangkan jika sungut rahang atas mencapai pangkal sirip dada, mempunyai 10-11 tulang tambahan tutup insang merupakan ciri-ciri C. Cryptopterus. Pada C. limpok, sungut rahang bawah lebih panjang daripada kepala. Sungut rahang atas hampir mencapai ujung sirip dubur. Penampang punggung cembung. Pada C. mononema sungut rahang atas hampir mencapai pertengahan sirip dubur. Penampang punggung hampir lurus. Ciri-ciri C. apogon, tidak mempunyai sirip punggung. Gigi-gigi pada tulang mata bajak satu tumpuk. Tumpuk gigi-gigi pada tulang mata bajak bersudut-sudut, sirip dada jauh lebih pendek daripada kepala. Apabila tumpuk gigi-gigi pada tulang mata bajak bundar, hampir selebar tulang langit-langit, sirip dadanya lebih pendek daripada kepala merupakan ciri-ciri C. micronema. Tetapi apabila tumpuk gigigigi pada tulang mata bajak lurus, pendek, bentuk ellips. Selanjutnya sirip dada lebih panjang daripada kepala merupakan ciri-ciri C. Hexapterus (Saanin, 1984 dan Kottelat et al., 1993).
Ikan lais mempunyai pola pertumbuhan yang isometrik yaitu pertumbuhan panjang seimbang dengan pertumbuhan berat. Bentuk tubuh ikan lais masih dalam batas bentuk tubuh ikan pada umumnya yaitu dengan nilai “b” berkisar antara 2,53,5. Berdasarkan nilai faktor kondisi yaitu berkisar 0,24-0,44 ikan lais termasuk jenis ikan yang pipih (Utomo et al., 1990). 2.2. Aspek Habitat
Salah satu aspek habitat adalah kualitas air seperti suhu, oksigen terlarut, pH dan arus yang mempengaruhi kemampuan hidup ikan di perairan. Suhu optimum untuk pertumbuhan ikan di daerah tropis berkisar 25-30 ºC (Boyd dan Kopler, 1979). Sedangkan untuk golongan ikan catfish suhu air berkisar antara 26,0-32,0 °C (Varikul dan Sritongsok, 1980). Semakin tinggi suhu, kadar garam dan tekanan parsial gas yang terlarut dalam air maka kelarutan oksigen dalam air akan semakin berkurang (Wardoyo, 1981).
Kelompok Siluridae kebanyakan terdiri dari spesies ikan yang tahan ap kondisi deoksigenasi dan diistilahkan dengan sebutan “blackfish” elcomme, 1979). Ikan-ikan ini sebagian besar waktu hidupnya dihabiskanan air hitam. Perairan air hitam dicirikan oleh warna perairan yang coklat tua sampai kehitaman yang disebabkan oleh adanya asam humat, pH relatif lebih rendah tapi tidak keruh (transparansinya tinggi). Perairan danau oxbow an rawa gambut termasuk perairan air hitam (Hartoto, Sarnita, Sjafei, SaSyawal, Sulastri, Kamal dan Siddik, 1998).
Keasaman air disebut juga dengan pH (puissance negatif de Hidrogen) yang dinyatakan dalam angka 1,0 sampai 14,0. pH adalah log 10 (l/(H+)), dim(H+) adalah konsentrasi ion hidrogen. Dalam hal ini yang diukur adalah mpuan suatu larutan air dalam memberikan ion hidrogen. Nilai pH yang rendah menunjukkan keasaman yang lebih tinggi sedangkan nilai pH nunjukkan larutan air dalam keadaan netral. Semakin banyak (H+) kondisi kin asam. Apabila O
2
tinggi maka pH tinggi, sedangkan bila O
rendah mpH rendah (Sutisna dan Sutarmanto, 1995).
2
Pada umumnya pH yang cocok bagi kehidupan ikan berkisar antara 6,78,6. Namun beberapa jenis ikan yang karena lingkungan hidup aslinya berada di rawa-rawa mempunyai ketahanan untuk hidup pada pH yang rendah (Susanto, ). Ikan C. limpok mampu hidup pada air dengan pH sedikit asam yaitu rata-rkisar 5,5-6,0 (Elvyra, 2004).
Faktor lingkungan lainnya adalah arus. Arus dapat menguntungkan karena dapat membawa makanan, oksigen dan sebagainya. Namun arus kuat nyebabkan ketidakseimbangan pada dasar perairan yang lunak (Arinardi, ).
Kelompok Siluridae sering berada pada air yang tenang di floodplain dan ereka pindah ke sungai mereka tinggal di pinggir yang bervegetasi atau lubuk di dasar sungai pada periode kemarau (Welcomme, 1979). Sistem ripadanau oxbow pada ekosistem floodplain ini, berupa tegakan rumput terendam(flooded grass land) yang berisi aneka rerumputan yang tahan rendaman air, dan n hutan rawang (flooded forest) yang disusun oleh tumbuhan perdu dan pohon. Ikan memanfaatkan tegakan rumput terendam dan hutan rawang jika tinggi air meningkat dan melimpah dari tebing (Hartoto et al., 1998). 2.3. Aspek Makanan
Keberadaan ikan pada suatu perairan sangat tergantung pada ketersediaan makanan yang dibutuhkannya. Makanan adalah salah satu aspek ekologis yang mempunyai peranan penting dalam menentukan besarnya populasi, pertumbuhan dan reproduksi ikan (Nikolsky, 1963).
Makanan yang dimakan oleh ikan dapat diketahui dari analisis isi lambungnya. Jika suatu macam organisme makanan ikan banyak terdapat dalam suatu perairan belum tentu menjadi bagian penting dalam komposisi makanan ikan. Ikan memilih makanan tertentu, yaitu dengan ditemukannya macam makanan tersebut sebagai bagian makanan terbesar di dalam lambungnya (Effendie, 1992).
Tabel 1. Komposisi Pakan Alami dengan Indek Bagian Terbesar (%) dalam Lambung Ikan Lais C. limpok dan C. micronema pada Musim Kemarau dan Penghujan
Musim kemarau Musim penghujan Kelompok
Pakan C. limpok C. micronema C. limpok C. micronema 1.Ikan 80,66 99,9 62,7 87 2.Serangga air -Zygoptera 1,06 0,004 2 0,9 -Odonata - - 0,4 - -Blastomatidae - - 1,9 - -Plecoptera - - 0,7 - -Hydrophilidae - - 3,4 - 3.Udang 2,67 0,022 13,6 2 4.Tumbuhan air 12,39 0,024 12,4 1,1 5.Tidak
teridentifikasi 3,20 0,012 2,6 9
Jumlah 100 100 100 100 (Sumber : Utomo et al., 1990).
Komunitas ikan dapat dikelompokkan menjadi kelompok ikan herbivora atau detritivora, karnivora dan omnivora berdasarkan bahan makanan yang dimakannya. Kelompok ikan herbivora atau detritivora memakan detritus dan plankton sebagai makanan utamanya. Kelompok ikan omnivora memakan pakan alami berupa serangga air, udang, anak ikan dan tumbuhan air. Sedangkan ikan karnivora makanan utamanya ialah udang dan anak ikan (Purnomo, Satria dan Azizi, 1992).
Ikan lais C. apogon termasuk ikan karnivora dimana indek bagian terbesar makanan dalam lambungnya berupa juvenil ikan sebanyak 98 % (Hartoto, Sjafei dan Kamal, 1999). Dari hasil penelitian Utomo et al., (1990) pada jenis ikan lais C. limpok dan C. micronema juga termasuk jenis ikan karnivora. Saat musimpenghujan pada alat pencernaan ikan lais ini lebih banyak jenis makanan berupa serangga air dibanding musim kemarau, karena ikan lais saat air besar akan menyebar sampai ke daerah lebak yang banyak terdapat serangga air (Tabel 1).
Ikan-ikan pada habitat floodplain mempunyai kebiasaan makanan yang sangat fleksibel dan menyesuaikan dengan variasi fase pada siklus genangan. Sumber makanan berasal dari dalam akuatik sistem itu sendiri (sumber makanan autohtonous) atau dari luar sistem akuatik (sumber makanan allohtonous). Bagaimanapun pada akhirnya semuanya tergantung kepada material allohtonous dalam bentuk endapan lumpur alluvial, nutrien terlarut ataupun hasil dekomposisi pada tanah genangan (Welcomme, 1979). Bahan masukan tersebut dapat juga berupa serangga, sisa-sisa tumbuhan mati, serasah setengah terurai yang terbawa air hujan atau angin masuk ke perairan (Hartoto, Sjafei dan Sumantadinata, 1993).
2.4. Aspek Reproduksi
Tingkat kematangan gonad ialah tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan itu berpijah. Tingkat kematangan tertinggi akan didapatkan pada saat pemijahan akan tiba. Tingkat kematangan gonad secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan suatu indek yang dinamakan Indek Kematangan Gonad atau disebut juga Indek Gonad Somatik. Sejalan dengan perkembangan gonad, indek kematangan gonad akan semakin bertambah besar dan mencapai batas kisar maksimum pada saat akan terjadi pemijahan (Effendie, 1992).
Indek kematangan gonad pada C. limpok berkisar 0,23-8,78 % yaitu kecil dari 20 % (Elvyra, 2004). Ikan yang mempunyai indek kematangan gonad lebih
8
kecil dari 20 % dapat memijah berkali-kali dalam setahun (Bagenal, 1978). Tipe pemijahan seperti ini disebut tipe parsial yaitu telur-telur ikan tidak dikeluarkan seluruhnya dalam satu kali pemijahan (Lowe-McConnel, 1975). Hal ini sesuai dengan pendapat Utomo et al. (1990) yang menyatakan bahwa ikan lais di Lubuk Lampam dapat memijah sepanjang tahun dan mencapai puncak memijah (TKG IV) pada musim penghujan.
Pada ekosistem floodplain di Mekong Vietnam kebanyakan ikan-ikan ditemukan matang gonad sepanjang tahun kecuali dalam periode pendek saat permukaan air sangat rendah. Ikan-ikan ini tidak bersifat sinkronous (oositnya tidak diovulasikan pada waktu yang sama). Puncak aktivitas pemijahannya terjadi ketika permukaan air tinggi (Lowe-McConnel, 1975).
Fekunditas adalah jumlah telur masak sebelum dikeluarkan pada saat ikan akan memijah (Sutisna dan Sutarmanto, 1995). Fekunditas dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan yang menentukan fekunditas adalah jumlah makanan yang dikonsumsi. Semakin besar jumlah makanan yang dikonsumsi maka fekunditasnya juga semakin tinggi, sedangkan ukuran telur banyak ditentukan faktor genetik (Purdom, 1979). Semakin banyak tersedia makanan, pertumbuhan ikan akan semakin cepat dan fekunditas semakin tinggi (Wootton, 1973).
Pulungan et al. (1985) mendapatkan kisaran fekunditas pada C. lais berkisar 2990-5880 butir pada panjang total tubuh 218-270 mm dan berat tubuh 39,5-110 g. Sedangkan pada jenis C. limpok, Elvyra (2004) mendapatkan kisaran panjang total dan berat tubuh pada waktu masak gonad masing-masing 210-313 mm dan 48,0-146,4 g dengan fekunditas 2435-19617 butir.
Kegunaan fekunditas adalah sebagai studi sistimatik, dinamika populasi, produktivitas, potensi reproduksi dan sebagainya. Dalam bidang akuakultur, jumlah telur yang dihasilkan oleh ikan pada waktu pemijahan sangat jelas kegunaannya terutama dalam persiapan fasilitas kultur ikan (Effendie, 1992). Fekunditas menunjukkan kemampuan induk ikan untuk menghasilkan anak ikan dalam suatu pemijahan (Sumantadinata, 1990).

9
III. PENUTUP Dari makalah ini dapat disimpulkan mengenai aspek habitat, makanan dan
reproduksi ikan lais Cryptopterus spp. adalah sebagai berikut : 1. Ikan lais hidup di sungai yang termasuk tipe ekosistem “floodplain river”,
tahan terhadap kondisi deoksigenasi dan pH relatif rendah. 2. Ikan lais termasuk ikan karnivora, mempunyai kebiasaan makanan yang
fleksibel dan menyesuaikan dengan variasi fase pada siklus genangan. 3. Ikan-ikan lais tidak bersifat sinkronous dan mempunyai tipe pemijahan parsial.
DAFTAR PUSTAKA Arinardi, O.H. 1978. Sifat-sifat Fisik dan Kimiawi Perairan Estuari. Pewarta
Oseana, 5 dan 6 : 4-7. Bagenal, T.B. 1978. Aspects of Fish Fecundity. Ecology of Freshwater Fish
Production. Blackwell Scientific Publications. Oxford. Boyd, C.E. and E.L. Kopler. 1979. Water Quality Management in Pond Fish
Culture. Research and Development Series No. : 22. International Centre for Aquaculture. Agriculture Experiment Station. Auburn University. Alabama.
Effendie, M.I. 1992. Metoda Biologi Perikanan. Penerbit Yayasan Agromedia.
Bogor.
Elvyra, R. 2004. Beberapa Aspek Ekologi Ikan Selais Cryptopterus limpok (Blkr.) di Sungai Kampar Kiri Riau. Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Andalas. Padang.
Hartoto, D.I., D.S. Sjafei dan M.M. Kamal. 1999. Catatan Kebiasaan Pakan Ikan
Air Tawar Di Danau Takapan Kalimantan Tengah. Limnotek VI (2) : 2332.
Hartoto, D.I., D.S. Sjafei dan K. Sumantadinata. 1993. Pengembangan Baku Mutu
Sifat Limno-Engineering Pusat Distribusi Biodiversitas Perikanan Perairan Umum Tropika Studi Kasus di Propinsi Jambi. Prosiding Proyek Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Perairan Tawar 1993/1994.
Hartoto, D.I., A.S. Sarnita, D.S. Sjafei, A. Satya, Y. Syawal, Sulastri, M.M. Kamal dan Y. Siddik. 1998. Kriteria Evaluasi Suaka Perikanan Perairan Darat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Limnologi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

10
Kottelat, M., A.J. Whitten, S.N. Kartikasari and S. Wirdjoatmodjo. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus Edition (HK) in Collaboration with The Environment Rep. of Indonesia. Jakarta.
Lowe-McConnel, R.H. 1975. Fish Communities in Tropical Freshwaters.
Longman Inc. London. New York. Nikolsky, G.V. 1963. The Ecology of Fishes. Academic Press. New York. Pulungan, C.P., M. Ahmad, Y.I. Siregar, A. Ma’amoen dan H. Alawi. 1985.
Morfometrik Ikan Selais Siluroidea dari Perairan Kecamatan Kampar Kiri Kabupaten Kampar Riau. Pusat Penelitian Universitas Riau. Pekanbaru.
Purdom, C.E. 1979. Genetic of Growth and Reproduction in Teleost. p. 207-217.
In P. J. Miller (ed). Fish Phenology : Anabolic Adaptativeness in Teleost. The Zoological Society of London. Academic Press. London.
Purnomo, K.H. Satria dan A. Azizi. 1992. Keragaan Perikanan di Danau
Semayang dan Melintang. Kalimantan Timur. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar 1992 / 1993. Hal. : 299-308.
Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jilid I dan II. Penerbit
Bina Cipta. Bandung. Sumantadinata, K. 1990. Pengembangbiakan Ikan-Ikan Peliharaan di Indonesia.
Penerbit Sastra Hudaya. Jakarta. Susanto, H. 1991. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penerbit Penebar Swadaya.
Jakarta. Sutisna, D.H. dan R. Sutarmanto. 1995. Pembenihan Ikan Air Tawar. Penerbit
Kanisius. Yogyakarta. Utomo, A.D., S. Adjie dan Asyari. 1990. Aspek Biologi Ikan Lais di Perairan
Lubuk Lampam Sumatera Selatan. Buletin Penelitian Perikanan Darat, 2 (9) : 105-111.
Varikul, V. dan Sritongsok. 1980. A Review at Induced Fin Fish Breeding
Practises in Thayland. Singapore (Nov.): 25-28. Wardoyo, S.T.H. 1981. Kriteria Kualitas Air Untuk Keperluan Pertanian dan
Perikanan. Analisa Dampak Lingkungan. Training ANDAL PPLHUNDIP-PUSDI-PSL. IPB. Bogor. Hal.: 15-40.
Welcomme, R.L. 1979. Fisheries Ecology of Floodplain Rivers. Longman Inc.
New York.

Selasa, 25 Mei 2010

Penggunaan Ikan Nilem (Osteochilus haselti CV) dan Ikan Tawes (Puntius javanicus CV) sebagai Agen Hayati Pembersih Perairan Danau Maninjau, Sumatera Barat

Jurnal Natur Indonesia 6(2): 87-90 (2004)
ISSN 1410-9379
Penggunaan Ikan Nilem (Osteochilus haselti CV) dan Ikan
Tawes (Puntius javanicus CV) sebagai Agen Hayati Pembersih
Perairan Danau Maninjau, Sumatera Barat
Hafrijal Syandri
Jurusan Budidaya Perairan, Faperi, Universitas Bung Hatta, Padang 25136
Diterima 26-08-2003 Disetujui 02-03-2004
ABSTRACT
This research was aim to know the use of the Osteochilus haselti CV and Puntius javanicus CV as the biological
agents of the cleaner of Maninjau Lake and knew the growth and survival second type this test fish during
culture without in gave additional material. From the result of the research in received three types the phytoplankton
that in ate by nilem fish that is Cyanophyceae, Chlorophyceae, Diatome and the kind that was eaten by tawes
fish consisted of two kinds that are Cyanophyceae and Chlorophyceae. The weight and longer absolute growth
the nilem fish as big as 20.38 g and 3.82 cm and for the tawes fish as big as 7.48 g and 5.21. From result of the
research in concluded that from second type the test fish could in used as the biloical agents of lake cleaner
Maninjau.
Keywords: biological agents, O. haselti CV, P. javanicus CV, cleaner.
PENDAHULUAN
Danau Maninjau merupakan perairan dengan
luas 9.950 ha. Sejak dikembangkan usaha budidaya
keramba jaring apung pada tahun 1992, Danau
Maninjau mendapat beban yang berasal dari sisa
pakan dan sisa metabolisme ikan. Dampak negatif
yang ditimbulkannya adalah terjadinya kematian
massal ikan pada tahun 1997 sebanyak 950 ton,
dengan kerugian sebesar Rp. 2,7 milyar.
Sejak tahun 1998 hingga 2001 warna air Danau
Maninjau mengalami perubahan dari jernih menjadi
hijau pekat. Perubahan ini dapat dijadikan sebagai
salah satu indikator terganggunya ekosistem danau
tersebut yang disebabkan oleh adanya aktivitas
budidaya perikanan keramba jaring apung (cage
culture) sebanyak 3.500 unit. Akibat aktivitas tersebut
dihasilkan limbah yang berasal dari pakan ikan
sebanyak 292,88 ton/tahun, nitrogen 146,68 ton/tahun
dan urea 310,0 ton/ tahun (Syandri et al, 2000).
Tingginya kandungan bahan-bahan organik di
perairan tersebut secara langsung maupun tidak
langsung dapat mempengaruhi kondisi perairan
seperti terjadinya bloomming phytoplankton yang
pada gilirannya berdampak negatif terhadap sektor
perikanan, pariwisata dan dapat merusak peralatan
mesin Pembangkit Listrik Tenaga Air (Syandri et al,
1998).
Untuk memperbaiki kualitas perairan Danau
Maninjau diperlukan suatu cara yang tepat, tidak
beresiko, mudah, dan murah, serta berdampak positif
terhadap masyarakat luas serta mendukung program
pemerintah dibidang perikanan. Penggunaan biocleaning
agent merupakan salah satu metode yang
dapat digunakan, seperti yang telah dicobakan di
Waduk Saguling dengan menggunakan ikan mola
(Hypophthalmichthyis milirix) sebagai ikan uji
(Danakusumah 1999).
Ikan nilem merupakan ikan asli perairan Danau
Maninjau, sedangkan ikan tawes tidak terdapat di
danau tersebut. Kedua jenis ikan ini adalah pemakan
plankton dan diduga dapat memanfaatkan plankton
yang sedang blooming di Danau Maninjau. Oleh
karena itu, telah dilakukan penelitian penggunaan ikan
nilem dan tawes sebagai agen hayati pembersih
Danau Maninjau. Tujuan penelitian ini adalah 1)
mengetahui kemampuan ikan nilem dan tawes
sebagai agen hayati pembersih perairan Danau
Maninjau dengan cara mengidentifikasi jenis plankton
yang terdapat di dalam saluran pencernaan kedua
jenis ikan uji dan jenis plankton yang dominan yang
terdapat di Danau Maninjau, 2) mengetahui pola
pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nilem dan
tawes yang dipelihara di dalam keramba jaring apung
tanpa diberi pakan tambahan.
88 Jurnal Natur Indonesia 6(2): 87-90 (2004) Syandri.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Muko-Muko,
Danau Maninjau pada bulan Juni-Desember 2001.
Metode penelitian adalah metode eksperimen
menggunakan ikan nilem dan tawes sebagai ikan uji.
Ikan nilem dan tawes diperoleh dari Unit Pembenihan
Rakyat (UPR) Nagari Balai Tangah Kecamatan Lintau
Buo Kabupaten Tanah Datar.
Jumlah ikan nilem dan tawes yang dipelihara
masing-masing sebanyak 3.000 ekor. Ikan uji
dipelihara di dalam keramba jaring apung (KJA)
dengan ukuran 2x2x2 meter dengan padat tebar 1.000
ekor/unit keramba dengan jumlah sebanyak enam
unit. Ukuran mesh size keramba yang digunakan
sebesar 1/5 inchi dan keramba ditempatkan pada
kedalaman 15 meter. Bobot awal rata-rata untuk ikan
nilem 3,34 g/ekor dan panjang 8,93 cm, sedangkan
ikan tawes 0,27 g/ekor dan panjang 3,33 cm. Ikan
tersebut dipelihara selama enam bulan tanpa diberi
pakan tambahan. Diharapkan phytoplankton yang
terdapat di danau dapat dimanfaatkan oleh kedua
jenis ikan uji sebagai pakan.
Identifikasi jenis plankton dilakukan dua tahap
yaitu 1) identifikasi jenis plankton yang terdapat di
Danau Maninjau dilakukan sebanyak dua kali yaitu
pada awal dan akhir penelitian dengan menggunakan
alat plankton net, 2) mengetahui jenis plankton yang
terdapat pada saluran pencernaan ikan uji dilakukan
dengan cara pemeriksaan saluran pencernaan ikan
uji. Ikan diambil dari masing-masing keramba dengan
jumlah seluruhnya sebanyak 10 ekor. Saluran
pencernaan dipotong sepanjang 2 cm kemudian
direndam dengan formalin 4%. Untuk keperluan
pengukuran panjang dan berat mutlak ikan diukur dan
ditimbang sebelum dibunuh. Identifikasi plankton
dilakukan di Laboratorium Biologi Universitas Bung
Hatta Padang berpedoman kepada Needham &
Needham (1962).
Untuk mengetahui hubungan bobot tubuh
dengan panjang total ikan uji dilakukan pengambilan
sampel pada akhir penelitian sebanyak 60 ekor. Untuk
perhitungannya digunakan rumus yang dikemukakan
oleh Ricker (1975) yaitu W = aLb dimana W: bobot
ikan uji (gram), L: panjang total ikan (cm), sedangkan
a dan b: konstanta regresi hubungan panjang-bobot.
Untuk mengukur panjang dan berat mutlak ikan uji
digunakan rumus yang dikemukakan oleh Effendie
(1979), yaitu Lm: Lt - Lo, dimana Lm: pertumbuhan
panjang mutlak (cm), Lt: panjang pada akhir
penelitian, dan Lo: panjang pada awal penelitian.
Untuk menghitung pertumbuhan berat mutlak (Wm)
digunakan rumus Wm = Wt - Wo, dimana Wt: berat
ikan pada akhir penelitian dan Wo: berat ikan pada
awal penelitian. Seluruh data dianalisis secara
deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jenis plankton yang terdapat di Danau
Maninjau dan yang dimanfaatkan oleh ikan nilem dan
tawes sebagai pakan dicantumkan pada Tabel 1.
Jenis Plankton di Dalam Saluran
Pencernaan
Jenis Plankton di
Danau Maninjau
Ikan Nilem Ikan Tawes
Phytoplankton
Cyanophyceae
Croococus sp
Oscilatoria
Merismopedia
Nostoc
Myrocystis
Spirulina
Chlorophyceae
Microsphora sp
Ankinedesmus
Diction reticulata\
Spyrogyra stictica
Cosmarium
Khirchenerial sp
Scenedesmus
Tetradesmus
Chlorella sp
Coelastrum
Oedogonium sp
Diatomae
Navicula sp
Synedra rumphen
Melosyra granulata
Surieela ovalis
Gomphonema sp
Navicula radiosa
Achnanthes lineris
Zooplankton
Larva Crustacea
Nauplius
copepoda
Cylop diaptomus
Cyclop
Rotifera
Notolca
Asplanchana
Karatella
Phytoplankton
Cyanophyceae
Mycrocystis
Nostoc
Spirulina
Oscilatoria
Chlorophyceae
Ankinedesmus
Scenedesmus
Diction retiulatum
Tetradesmus
Chlorella sp
Coelastrum
Scenedesmus
Diatomae
Diatoma vulgare
Phytoplankton
Cyanophyceae
Myrocystis
Spirulina
Oscilatoria
Chlorophyceae
Ankinedesmus
Scenedesmus
Tetradesmus
Clhorella sp
Coelastrum
Scenedesmus
Tabel 1. Jenis plankton yang dominan di Danau Maninjau dan di
dalam saluran pencernaan ikan Nilem dan Tawes.
Ikan nilam dan tawes sebagai agen hayati pembersih Danau Maninjau 89
Dari Tabel 1 dapat dilihat phytoplankton yang
dominan di perairan Danau Maninjau berjumlah tiga
genus yaitu Cyanophyceae, Chlorophyceae, dan
Diatomae. Sedangkan Zooplankton ada dua genus
yaitu Rotifera dan Crustacea. Hasil identifikasi jenis
plankton yang dilakukan di Danau Maninjau pada
awal dan akhir penelitian diperoleh jenis yang sama.
Dari 24 jenis phytoplankton yang ada, 11 jenis
(45,83%) dimakan oleh ikan tawes dan 8 jenis
(33,33%) dimakan oleh ikan nilem. Kilham & Kilham
(1978) menyatakan bahwa dominasi suatu jenis
phytoplankton pada suatu badan air lebih ditentukan
oleh perbandingan jenis nutrien yang terlarut dalam
badan air. Hal ini disebabkan setiap jenis
phytoplankton mempunyai respon yang berbeda
terhadap perbandingan jenis nutrien yang ada
terutama perbandingan konsentrasi nitrogen, fosfor,
dan silika dalam badan air.
Budidaya ikan di dalam KJA di Danau Maninjau
diperkirakan menghasilkan limbah yang berasal dari
pakan ikan sebesar 292,88 ton/tahun (Syandri et al,
2000). Sebagian besar pakan yang diberikan akan
menjadi limbah organik yang jatuh sebagai sedimen
atau tertahan di badan air menjadi sedimen ataupun
larutan. Garno (1993) menyatakan bahwa dalam
bentuk apapun limbah KJA ini pasti akan diurai oleh
bakteri yang ada dalam badan air, di lapisan atas
diurai oleh bakteri aerob, sedangkan pada lapisan
dasar yang tidak mengandung oksigen diurai oleh
bakteri anaerob. Dengan proses dekomposisi yang
selalu mengandung nutrien (N dan P) dapat memicu
petumbuhan phytoplankton yang ada, dan jika suplai
nutrien terjadi secara kontinyu dapat mengakibatkan
terjadi blooming Mycrosystis seperti yang telah terjadi
di Danau Maninjau pada tahun 1999-2000 (Syandri
et al, 2000).
Dari tiga jenis phytoplankton yang terdapat di
Danau Maninjau genus Cyanophycea merupakan
jenis yang dapat menghasilkan toksin pada ikan. Hal
ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh
Nabib & Pasaribu (1989) bahwa organisme tersebut
dapat memberikan dua akibat langsung pada populasi
ikan di antaranya keracunan oleh ekskresi dari
Ichthyotoksin dan kesulitan bernafas disebabkan oleh
pengurangan oksigen secara cepat karena respirasi
organisme tersebut atau juga dapat disebabkan oleh
kematian mendadak suatu kelompok organisme
tersebut. Selama dan sesudah proses blooming
dihasilkan racun yang sangat mematikan bagi ikan
dan hal ini telah terjadi di Danau Maninjau. Dengan
kondisi air Danau Maninjau yang berwarna hijau pekat
plankton tumbuh sangat subur dimana menurut Nabib
& Pasaribu (1989) pada kondisi ini jumlah selnya
dapat berkisar antara 20-100 x 103 sel/ml. Kemudian
Kabata (1985) menyatakan bahwa apabila terjadi
blooming Mycrocystis auroginosa sebanyak 500.000
koloni/liter air sudah dapat mematikan populasi ikan
di perairan. Kemudian dijelaskan jenis Oscillatoria
dapat juga menurunkan mutu ikan bila terdapat di
perairan dalam pengenceran 1:5000 yang
menyebabkan bau lumpur pada ikan.
Dari analisis saluran pencernaan yang
dilakukan pada kedua jenis ikan uji ditemukan empat
jenis genus Cyanophyceae, terdiri dari Ocillatoria,
Mycrocystis, Spirullina, dan Nostoc. Dominasi
Cyanophyceae memperkuat dugaan bahwa air Danau
Maninjau sudah tergolong eutropik, dimana
Cyanopheae dapat hidup dengan subur karena
mampu beradaptasi dengan fluktuasi oksigen terlarut
yang tinggi (Moss 1988), dan cocok dengan pH 7
(Bold & Wynne 1978). Zooplankton tidak ditemukan
pada saluran pencernaan kedua ikan uji, karena ikan
ini bersifat herbivora. Dari hasil penelitian dapat
dinyatakan bahwa ikan nilem dan tawes dapat
memanfaatkan berbagai jenis phytoplankton yang
dominan di perairan Danau Maninjau terutama genus
Cyanophyceae dan Chlorophyceae. Dengan
demikian ikan nilem dan tawes dapat ditebarkan ke
dalam Danau Maninjau sebagai alternatif untuk
mengatasi blooming phytoplankton.
Hubungan bobot tubuh dengan panjang total
ikan nilem dan tawes. Dari hasil penelitian yang
dilakukan diperoleh kisaran panjang dan berat ikan
nilem antara 10,8-16,0 cm dan berat 13,0-48,5 g
sedangkan untuk ikan tawes antara 7,0-12,9 cm dan
berat antara 3,0-24,0 g. Dari analisis data diperoleh
hubungan bobot tubuh dengan panjang ikan uji
memperlihatkan suatu persamaan geometrik dimana
untuk ikan nilem W = 2,344 x 10-6 L3,3223, dan untuk
ikan tawes W = 2,470 x 10–6 L3,3312. Dari nilai koefisien
korelasi ikan nilem diperoleh hubungan yang erat
antara bobot tubuh dengan panjang total (r = 0,94, n
= 60), dan ikan tawes (r = 0,91, n = 60). Dari nilai
persamaan koefisien regresi (b) diperoleh hubungan
90 Jurnal Natur Indonesia 6(2): 87-90 (2004) Syandri.
bobot tubuh dengan panjang total ikan uji lebih besar
dari 3,0 (b > 3,0), masing-masing 3,3223 untuk ikan
nilem dan 3,3312 untuk ikan tawes. Berdasar kedua
nilai tesebut, maka dapat dinyatakan bahwa
pertumbuhan kedua ikan uji yang dipelihara dalam
KJA tanpa diberi pakan tambahan bersifat alometrik
positif yaitu pertumbuhan bobot tubuh lebih cepat bila
dibandingkan dengan pertumbuhan panjang.
Pertumbuhan panjang tubuh dipengaruhi oleh faktor
genetis. Diperolehnnya pertumbuhan yang baik pada
kedua ikan uji walaupun tidak diberi pakan tambahan
disebabkan ikan uji dapat memanfaatkan
phytoplanton yang terdapat di Danau Maninjau
sebagai sumber pakannya. Hal ini sesuai dengan
yang dikemukakan oleh Susanto (1996) bahwa ikan
tawes muda dan dewasa memakan tumbuhan air
seperti Chlorophyceae, Characeae, dan
Ceratophyllaceae.
Pertumbuhan Panjang dan Berat Multak Ikan
Uji. Dari hasil penelitian diperoleh pertumbuhan
panjang mutlak ikan nilem sebesar 3,82 cm dan berat
20,38 g, sedangkan untuk ikan tawes diperoleh
panjang mutlak sebesar 5,21 cm dan berat 7,48 g.
Kelangsungan hidup ikan uji yang dipelihara selama
penelitian lebih kurang 90%. Mortalitas terjadi saat
awal pemeliharaan dan diduga hal ini terjadi akibat
penanganan selama transportasi.
pertumbuhan berat tubuh lebih cepat dari pada
pertumbuhan panjang badan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih disampaikan kepada PT PLN
(Persero) Sektor Bukit Tinggi yang telah membantu
pendanaan penelitian ini.
KESIMPULAN
Ikan nilem dan tawes yang dipelihara di dalam
KJA di Danau Maninjau dapat memanfaatkan
phytoplankton sebagai pakannya. Kedua jenis ikan
uji dapat tumbuh dengan baik tanpa diberi pakan
tambahan. Pertumbuhan ikan nilem dan tawes yang
dipelihara di dalam KJA bersifat allometrik positif yaitu
DAFTAR PUSTAKA
Bold, H.C. & Wyne, M.J. 1978. Introduction to the Algae: Structure
and Reproduction. New Jersey: Prentice-Hall.
Danakusumah, E. 1999. Kemungkinan penggunaan ikan mola
(Hypophthalmichthyis milirix) sebagai agen pembersih
perairan waduk. Jakarta: Ditjen Pengairan dan Kantor
Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Bogor: Yayasan
Dewi Sri.
Garno, Y.S. 1993. Eblibility of several phytoplankton species by
simocephalus vetulus. Proceeding Seminari on Technology
Application on Marine Environmental Monitoring for Casting
and Information System. Jakarta.
Kabata, Z. 1985. Parasite and Diseases of Fish Culture in the
Tropic. London: Taylor & Francis.
Kilham, S.S. & Kilham, P. 1978. Natural community bioasaays:
prediction of result based on nutrient physiology and
competition. Int. Ver Theor Anew. Limnol. Ver. 20: 68-74.
Moss, B. 1988. Ecology of Freshwater Man and Medium. Oxford:
Blackwell Scientist Publication.
Nabib, R. & Pasaribu, F.H. 1989. Patologi dan Penyakit Ikan.
Bogor: PAU Bioteknologi Institut Pertanian Bogor.
Needham, G.J. & Nedham, P.R. 1962. A Guide to the Study of
Freshwater Biology. San Fransisco: Holden Day Inc.
Ricker, W.E. 1975. Computation and interpretation of biological
statistics of fish populations. Bull. Fish Res. Board Cand.
119: 191-383.
Susanto, H. 1996. Budidaya Ikan di Pekarangan. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Syandri, H., Kusuma, H., Murniwira & Jufri. 1998. Pemanfaatan
perairan Danau Maninjau dalam rangka penyusunan
perikanan jala apung. Laporan Kerjasama Penelitian.
Padang: BPTP Sukarami dengan Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Bung Hatta.
Syandri, H., Kusuma, H. & Ernijuita. 2000. Pengaruh perikanan
keramba jaring apung dan PLTA terhadap perairan Danau
Maninjau. Laporan Kerja Sama Penelitian. Padang: PT PLN
(Persero) Sektor Bukit Tinggi dengan Elsals Padang.

Bayam Melunakkan Cangkang Kepiting ( pe-molting-an)

KEPITING lunak atau soft shell crab adalah salah satu makanan laut (seafood) di dunia yang terkenal karena kelezatannya. Produk ini belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia meskipun banyak diproduksi di Indonesia. Hal ini terjadi karena kepiting lunak adalah produk ekspor yang mana permintaan luar negeri jauh lebih tinggi dibanding produksi. Komoditas ini diekspor ke Amerika, Tiongkok,Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, dan sejumlah negara di kawasan Eropa.Produksi kepiting lunak dilakukan dengan memelihara kepiting secara individu dalam kotak (keranjang buah) yang ditempatkan di dalam tambak hingga molting. Molting adalah proses pergantian kulit secara alami, yakni melepaskan kulit lama yang keras untuk tujuan pertumbuhan. Sesaat setelah molting, kulit kepiting yang baru masih dalam kondisi sangat lunak dan akan mengeras kembali beberapa jam kemudian ketika terjadi penyerapan air. Kepiting dengan kondisi lunak inilah yang dipanen sebagai kepiting lunak. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi kepiting lunak berkisar antara satu minggu hingga empat bulan, tergantung ukuran kepiting. Selama pemeliharaan tersebut petani akan memonitor kepitingnya setiap 2-3 jam sekali selama 24 jam. Bila kepiting molting dan tidak diangkat dari air maka dua jam kemudian kepiting sudah akan mengeras kembali. Akibatnya, nilai jual kepiting tersebutmenurun. Periode pemeliharaan yang lama dan waktu molting yang tidak bersamaan merupakan masalah utama dalam produksi kepiting lunak. Molting dapat terjadi pada pagi, siang, sore, atau malam hari. Periode pemeliharaan yang lama menyebabkan biaya pakan dan biaya operasional lainnya menjadi besar. Sedangkan molting yangtidak bersamaan menyebabkan pengawasan harus dilakukan sangat ketat sehingga tenagakerja yang dibutuhkan cukup banyak dengan waktu kerjayang panjang.Untuk mengatasi masalahtersebut, beberapa petani melakukanmutilasi atau menanggalkankaki-kaki kepiting. Tujuannyaagar proses regenerasi anggota gerak yang hilang akan dipercepat secara alami melalui molting.Teknik ini mampu mempercepat kepiting molting. Namun, masalah lain muncul, yakni kematian meningkat dan pertambahan berat setelah molting tidak terjadi, bahkan seringkali minus. Bila kepiting molting tanpa perlakuan mutilasi atau secara alami maka terjadi pertambahan berat sebesar kurang lebih 30 persen. Berdasarkan kendala tersebut maka dilakukanlah serangkaianpenelitian meliputi penelusuran pustaka dan percobaanpercobaan. Hasilnya diketahui bahwa Secara fisiologis, proses pergantian kulit dikontrol oleh hormon molting. Begitu temuan Dosen Fakultas
Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, Prof Dr Ir YUSHINTA
FUJAYA, MSI dalam penelitiannya baru-baru ini. Dalam penelitian bersama sejumlah rekannya sesama dosen dan beberapa mahasiswa, diketahui bahwa hormon molting ini meningkat drastis menjelang molting. Dengan demikian diduga bahwa penambahan hormon molting eksogen dapat meningkatkan kadar hormon molting dalam darah sehingga molting akan terinduksi. Selain itu,ditemukan bahwa beberapa jenis tanaman mengandung hormon molting yang secara alami digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan hama insekta dan nematoda.
Tanaman bayam dipilih untukdijadikan sumber hormon molting eksogen untuk mempercepat molting pada kepiting budidaya dengan beberapa pertimbanganantara lain: di Indonesia banyak jenis bayam digunakan sebagai sayuran. Karena digunakan sebagai sayuran maka tanaman ini mudah diperoleh dan kesinambungan suplainya terjamin sehingga berpotensi menjadi produk industri. Lebih dari itu, karena bayam adalah sayuran yang menyehatkan maka metabolit yang dikandungnya aman bagi manusia sebagai konsumen.Selanjutnya, dari hasil penelitian yang seksama ditemukan bahwa aplikasi ekstrak bayam dengan dosis dan jadwal pemberian yang tepat mempunyai khasiat untuk menginduksi molting pada kepiting peliharaan. Aplikasi dapat diberikan melalui injeksi dan melalui pakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.Dengan injeksi maka seluruh bahan aktif ekstrak bayam akanlangsung masuk ke dalam darah dan segera mempengaruhi aktivitas molting. Namun memerlukan keterampilan dan peralatan khusus untuk aplikasinya. Sedangkan aplikasi melalui pakan mudah dilakukan karena sama saja dengan pemberianpakan pada umumnya, namun konsentrasi ekstrak yang dibutuhkan dua kali lebih banyak untuk mengantisipasi pakan yang tidak termakan dan yang mungkin larut dalam air karena pakan tidak segera dimakan. Komposisi nutrisi pakan buatan yanglengkap dan seimbang juga menentukan kinerja ekstrak bayamdalam menstimulasi molting. Ekstrak bayam ini telah diujicobakan pada industri budidaya kepiting cangkang lunak komersil di Kalimantan Selatan.
(Prof Dr Ir YUSHINTA FUJAYA, MSI)

Motilitas Sperma

Laporan Praktikum ke-11 Hari/Tanggal : Rabu / 19 Mei 2010
m.k. Fisiologi Hewan Air Kelompok : VII




KERAGAAN SPERMATOZOA


Disusun Oleh :
Ahmad Fauzi
















DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010


I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Dalam proses pembuahan ( fertilisasi ) sel telur ( ovum ) oleh sperma, kualitas sperma sangat menentukan keberhasilan proses pembuahan tersebut. Daya tahan hidup sperma di media air dan daya gerak ( mortilitas ) perlu diketahui dalam upaya meningkatkan derajat pembuahan pada kegiatan pengembangbiakan ikan (breeding). Pada kenyataanya sering terjadi tenggang waktu antara ketersediaan sperma dengan keberadaan sel telur ( kematangan gonad antara ikan jantan dan ikan betina yang tidak sinkron) atau ada perbedaan jarak antara keberadaan sperma dengan keberadaan telur sehingga untuk mengatasinya sperma perlu diawetkan.
1.2. Tujuan
Pratikum ini bertujuan untuk mengetahui motilitas ( daya gerak) daya hidup, dan mortilitas ( tingkat kematian) sperma ikan setelah mengalami beberapa perlakuan berbeda.










II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ikan Mas Cyprinus carpio
Klasifikasi ikan mas Saanin (1984) dalam Sulistio (2001) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio L

Gambar 1. Ikan mas (Cyprinus carpio)
Sumber: ( Anonim 2010 )

Ikan Mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang dan agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (barbels) yang kadang-kadang satu pasang diantaranya rudimenter, ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata, 1983 dalam Wibawa, 2003





2.2 Sperma

Gambar 1. Morfologi Spermatozoa)
Sumber: ( Anonim 2010 )


Sifat sifat bawaan didalam inti sperma termasuk kedalam embrio. Sebagai hasil pembelahan reduksi selama spermatogenesis. Sperma hanya mengandung setengah jumlah DNA pada sel-sel somatik sehingga terbentuklah dua macam spermatozoa; sperma yang membrane chromosom-x akan menghasilkan embrio betina sedangkan sperma yang mengandung chromosom-y akan menghasilkan embrio jantan menurut (Affandi dan Muhamad tang 2002) . Sperma tetap motil untuk waktu lama didalam media yang isotonic dengan darah Menurut Gardier dalam Nurman (1995) dalam Affandi dan muhamad tang (2002) melaporkan bahwa semen yang encer bangayk mengandung glukosa, sehingga memberikan motilitas yang baik terhadap spermatozoa. Menurut Affandi dan muhamad tang (2002) sperma tidak bergerak dalam air mani . ketika masuk ke air akan aktif berenang. Pergerakan sperma normal adalah seperti linear, biasanya pola pergerakanya berbentuk spiral. Daya tahan hidup spermatozoa dipengaruhi oleh PH, tekanan osmotik, elktrolit, non elektrolit, suhu dan cahaya. Pada umumnya sperma sangat aktif dan tahan hidup lama pada ph sekitar 7,0. Motilitas partial dapat dipertahankan pada ph antara 5 dan 10. Suhu mempengaruhi daya tahan hidup sperma , peningkatan suhu akan meningkatkan kadar metabolism sehingga dapat menurangi daya tahan hidup sperma. Demikan juga cahaya matahari yang langsung mengenai spermatozoa akan memperpendek umur sperma. Menurut Affandi dan muhamad tang (2002) dalam Muncritik dan moccia (1987) mengatakan bahwa terdapat hubungan antara volume semen dengan motilitas spermatozoa , yaitu semakin encer semen ikan maka motilitas spermatozoa semakin tinggi karena spermatozoa memperoleh makanan yang cukupdari plasma semen. Menurut Aas et. (1991) dalam Affandi dan Muhamad tang (2002) dalam bahwa semakin encer semen ikan maka kadar sodium yang terdapat dalam semen semakin tinggi, sehingga motilitas dan fertilitas spermatozoa semakin tinggi.
2.3 Larutan fisiologis dan akuades
Larutan fisiologis adalah larutan isotonik yang terbuat dari NaCl 0,9% yang sama dengan cairan tubuh atau darah (adhil, 2009) menurut Rustidja(1985) dalam hidayaturahmah (2007) penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan urea karna dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit. larutan fisiologis lebih kecil dari NaCl 0,9 % (0,8 %; 0,6 %; 0,3 %; 0,1 %) disebut hipotonis. larutanfisiologis lbh besar dari NaCl 0,9 % ( 1 %; 2 %) disebut hipertonis. Darah bila dimasukkan ke dalam larutan hipotonis maka membran akan mengembang karena larutan hipotonis masuk ke dalam sel darah merah, kemudian pecah di satu tempat sehingga Hb keluar disebut dengan hemolisis. Darah bila dimasukkan ke dalam larutan hipertonis maka membran akan di tarik kesegala arah sehinga pecah di banyak tempat sehingga sel darah merah mengkerut akibatnya Hb juga keluar dan disebut krenasis Anonim (2010)



2.4 Larutan Air Kelapa
Sebagai sumber tenaga, air kelapa mengandung glukosa. Sebagai sumber zat pembangun, pada air kelapa terdapat protein. Paling tidak, air kelapa mengandung 12 macam protein. Beberapa diantaranya adalah alanin, arginin, asam aspartat, asam glutamat, histidin, fenilalanin, tirosin.
Selain itu, air kelapa juga kaya dengan mineral seperti natrium, kalium, kalsium, magnesium, besi, dan tembaga. Tidak ketinggalan vitamin. Ada vitamin C dan 7 macam vitamin B yaitu nikotinik, asam pantotenat, biotin, riboflavin (B2), asam folat, tiamin (B1), dan piridoksin (B6).
Air kelapa mempunyai sifat seimbang (isotonis) dan kaya dengan elektrolit. Karenanya, sangat baik diminum ketika tubuh kekurangan elektrolit, misal setelah aktifitas atau olah raga berat Anonim (2010)



















III. METEDOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Respirasi dilaksanakan pada tanggal 19 mei 2010 pada pukul 8.00 – 10.00 pagi di laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan IPB.

3.2. Alat dan Bahan
Alat - alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan mas jantan matang gonad. Akuades, larutan fisiologis, air kelapa muda, es batu, tube,pipet, gelas objek, mikroskop, kertas label, lap dan tissue.

3.3. Prosedur Kerja
Pertama memilih ikan jantan yang matang gonad, kemudian mengambil ikan dari media air dan mengeringkan tubuh iakn sampai bersih. Lalu melakukan pengurutan pada perut dari arah anterior ke posterior sampai sperma keluar dari lubang kloaka. Berikutnya mengumpulkan dan membagi sperma serta menampung kedalam 5 tube, masing masing sebanyak 0,5 ml. Mengambil sampel sperma pada tube pertama untuk pengamatan awal . Untuk mengaktifkan sperma , beri satu tetes akuades pada sperma yang diamati dibawah mikroskop. Pada perlakuan yang diberikan pada sperma adalah pengenceran denga akuades , laruttan fisiologis, air kelapa muda, dan tanpa pengenceran serta penyimpanan pada suhu kamar dan suhu 4o C . Selalu memastikan bahwa tube berada pada kondisi tertutup rapat selama waktu penyimpanan. Setelah satu jam penyimpanan selalu melakukan pengamatan motilitas, daya hidup, dan mortalitas, masing-masing kelompok sperma dibawah mikroskop. Untuk mengatifkan sperma, memberikan setetes akudes pada sperma yang diamati dibawah mikroskop. Kemudian membandingkan data tersebut pada antar perlakuan.





VI. HASIL DAN PEMBAHASAN¬¬¬¬
4.1. Hasil
No perlakuan Motilitas daya hidup mortalitas
suhu kamar suhu 4 C suhu kamar suhu 4 C suhu kamar suhu 4 C
1 pengenceran dengan larutan isotonic 5 0 4” 0 100% 100%
2 pengenceran dengan larutan isotonic 5 0 53” 0 5% 100%
3 tanpa pengenceran 5 5 3,24” 1 0% 0%
4 tanpa pengenceran 1 1 14,8” 8,1 70% 60%
5 pengenceran dengan aQuades 1 0,5 9,38” 1,29 50% 10%
6 pengenceran akuades 0,25 0,25 9” 12 30% 50%
7 pengenceran dengan larutan fisiologis 0,75 1 10” 7,14 90% 98%
8 pengenceran dengan larutan fisilogis 0 0,75 5” 10 998% 70%
9 pengenceran dengan air kelapa muda 0 0 0” 0 100% 100%
10 pengenceran dengan larutan isotonic 1 0,5 3,14” 30 80% 98%
Tabel 1. Hasil pengamatan sperma ( motilitas, daya hidup, mortalitas) pada lima perlakuan berbeda pada suhu kamar dan suhu 40C.
Intrepretasi : Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa motilitas tertinggi terdapat pada perlakuan ke 1,2,3 pada suhu kamar dan perlakuan ke 3 pada suhu 40C sedangkan motilitas terendah terletak pada perlakuan ke 8,dan 9 pada suhu kamar dan perlakuan ke 9 pada suhu 4oC.
4.2 pembahasan
Pengenceran berpengaruh terhadap sperma. Pada pengencer akuades motilitas menunjukan angka ke 1 yaitu banyak sperma bergetar teteapi sangat sedikit yang bergerak cepat. Dikarenakan pada larutan akuades tergolong larutan hipotonik sedangkan sperma lebih mudah dipengaruhi pada kadaan hipertonik. Sperma pada larutan fisiologis bergerak lebih baik menurut Rustidja(1985) dalam Hidayaturahmah (2007) penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan urea karena dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit. Namun pada kenyatanya ada juga data yang menunjukan motilitas yang rendah hal ini dapat disebabkan oleh banyak factor diantaranya seperti preperat yang kurang bersih sehingga sperma telah bergerak lama namun tidak terdeteksi, bias juga dikarenakan sperma ikan berada pada kondisi yang kurang baik seperti telah terkontaminasi bakteri. Pada air kelapa muda termasuk kedalam larutan non elektrolit yang dapat digunakan dalam pengenceran sperma. Menurut Effendi dan Muhamad Tang (2002) larutan elektrolit dalam bentuk gula seperti fruktosa atau glukosa dapat digunakan sebagai pengencer sperma. Namun berdasrkan pengamatan hal ini tidak sesuai karena banyaknya sperma yang mati dal tidak ada motilitas hal ini bias disebabkan lemahnya sperma ikan yang bisa dikarenakan ikan berada pada kondisi sakit. Pada perlakuan pengenceran dengan larutan isotonik sperma kondisi sperma berada pada kondisi yang paling baik. Menurut adhil (2009) larutan fisiologis adalah larutan isotonik yang terbuat dari NaCl 0,9% yang sama dengan cairan tubuh atau darah sedangkan Menurut Affandi dan Muhamad Tang (2002) dalam Gardier dalam Nurman (1995) Sperma tetap motil untuk waktu lama didalam media yang isotonic dengan darah Rustidja(1985) dalam Hidayaturahmah (2007) penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan urea karna dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit. Motilitas merupakan daya gerak sperma yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan dengan pemberian larutan yang beraneka macam. Menurut Effendi dan Muhamad Tang (2002) seperma tidak dapat bergerak dalam air mani. Ketika masuk ke air spermatozoa akan aktif berenang. Daya hidup sperma menurut Effendi dan Muhamad Tang (2002) dipengaruhi oleh pH tekanan osmotik, elktrolit, non elektrolit, suhu dan cahaya. Pada umumnya sperma sangat aktif dan tahan hidup lama pada ph sekitar 7,0. Motilitas partial dapat dipertahankan pada ph antara 5 dan 10. Suhu mempengaruhi daya tahan hidup sperma , peningkatan suhu akan meningkatkan kadar metabolisme sehingga dapat menurangi daya tahan hidup sperma. Pada suhu 4oC sperma dapat bertahan hidup lebih lama karena metabolisme sperma relatif rendah sedangakn pada suhu tinggi laju metabolismenya juga tinggi sehingga mempengaruhi daya tahan tubuh sperma. menurut Effendi dan Muhamad Tang (2002) suhu mempengaruhi daya tahan hidup sperma, peningkatan suhu akan meningkatkan kadar metabolisme yang dapat mengurangi daya tahan hidup sperma. jika disimpan pada suhu 0-5oC umur sperma dapat diperpanjang menurut Effendi dan muhamad tang (2002). Factor yang mempengaruhi daya tahan tubuh sperma diantaranya adalah suhu, pada suhu yang tinggi metabolisme sperma juga akan tinggi sehingga berpengaruh terhadap daya tahan hidup sperma. Pada pH yang dipertahankan berkisar antara 5-10 sperma memilki daya tahan hidup lebih tinggi dan selain pada kisaran itu sperma akan mati atau tidak berkembang. Pada cahaya yang terlalu tinggi dapat mengurangi daya tahan hidup sperma menurut Effendi dan Muhamad Tang (2002) bahwa cahaya matahari yang langsung mengenai spermatozoa akan memperpendek umur spermatozoa, tidak hanya itu pada jenis spesies juga akan berpengaruh terhadap kualitas sperma. Ikan yang fertilisasi external mempunyai sperma dengan daya tahan hidup lebih tinggi jika dibandingkan dengan ikan yang melakukan pembuahan di dalam seperti ikan cupang dan mas. Ukuran juga menentukan kereaktifan sperma dalam pergerakanya seperti ikan koki yang mempunyai ukuran ekor sperma lebih panjang mempermudah pergerakan kearah distal sehingga mempercepat dalam bergerak ke mikrofil untuk melakukan fertilisasi berdasarkan pada Effendi dan uhamad tang (2002) dalam Toelihere 1985. Lingkungan juga berpengaruh terhadap daya tahan hidup sperma seperti cahaya, pH dan suhu yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan kematian pada sperma.











V.KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan
Pada keadaan suhu lingkungan yang tinggi dapat mengurangi daya tahan hidup sperma. Pada umumnya sperma sangat aktif dan tahan hidup lama pada ph sekitar 7,0. Ketika masuk ke air spermatozoa akan aktif berenang. Sperma tetap motil untuk waktu lama didalam media yang isotonic dengan darah.

5.2. Saran
Pada praktikum berikutnya ikan yang disediakan lebih beragam sehingga dapat digunakan sebagai perbandingan pada data yang diolah. Semoga kedepanya praktikum fisiologi hewan air akan lebih baik lagi.













DAFTAR PUSTAKA

Tang. U.M. dan R Affandi. 2001. Fisiologi hewan air. Unri.
[Anonim 2010] www.google imeg.com
[ Hidayaturohman 2007] WWW. Scribd .com





















LAMPIRAN

Jumat, 21 Mei 2010

ANABOLISME DAN KATABOLISME

ANABOLISME DAN KATABOLISME

Anabolisme adalah penyusunan senyawa kimia sederhana menjadi senyawa kimia atau molekul komplek menurut Prawirohartono dan Hadisumarto (1997). Proses ini membutuhkan energi dari luar. Energi yang digunakan dalam reaksi ini dapat berupa energi cahaya ataupun energi kimia. Energi tersebut, selanjutnya digunakan untuk mengikat senyawa-senyawa sederhana tersebut menjadi senyawa yang lebih kompleks. Jadi, dalam proses ini energi yang diperlukan tersebut tidak hilang, tetapi tersimpan dalam bentuk ikatan-ikatan kimia pada senyawa kompleks yang terbentuk. Anabolisme meliputi tiga tahapan dasar. Pertama, produksi prekursor seperti asam amino, monosakarida, dan nukleotida. Kedua, pengaktivasian senyawa-senyawa tersebut menjadi bentuk reaktif menggunakan energi dari ATP. Ketiga, penggabungan prekursor tersebut menjadi molekul kompleks, seperti protein, polisakarida, lemak, dan asam nukleat. Anabolisme yang menggunakan energi cahaya dikenal dengan fotosintesis, sedangkan anabolisme yang menggunakan energi kimia dikenal dengan kemosintesis. Hasil-hasil anabolisme berguna dalam fungsi yang essential menurut Kimbal (1997) Hasil-hasil tersebut misalnya glikogen dan protein sebagai bahan bakar dalam tubuh, asam nukleat untuk pengkopian informasi genetik. Protein, lipid, dan karbohidrat menyusun struktur tubuh makhluk hidup, baik intrasel maupun ekstrasel Kimbal (1997) Bila sintesis bahan-bahan ini lebih cepat dari perombakannya, maka organisme akan tumbuh. Kimbal (1997)
Katabolisme adalah reaksi pemecahan / pembongkaran senyawa kimia kompleks yang mengandung energi tinggi menjadi senyawa sederhana yang mengandung energi lebih rendah. Tujuan utama katabolisme adalah untuk membebaskan energi yang terkandung di dalam senyawa sumber. Bila pembongkaran suatu zat dalam lingkungan cukup oksigen (aerob) disebut proses respirad, bila dalam lingkungan tanpa oksigen (anaerob) disebut fermentasi.Contoh Respirasi :

C6H12O6 + O2 ——————> 6CO2 + 6H2O + 688KKal.(glukosa)

Contoh Fermentasi :C6H1206 ——————> 2C2H5OH + 2CO2 + Energi.
(glukosa) (etanol)
Pengertian lain Katabolisme adalah serangkaian reaksi yang merupakan proses pemecahan senyawa kompleks menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana dengan membebaskan energi, yang dapat digunakan organisme untuk melakukan aktivitasnya. Termasuk didalamnya reaksi pemecahan dan oksidasi molekul makanan seperti reaksi yang menangkap energi dari cahaya matahari. Fungsi reaksi katabolisme adalah untuk menyediakan energi dan komponen yang dibutuhkan oleh reaksi anabolisme.























HUBUNGAN ENERGI TERHADAP STADIA LARVA,
LINGKUNGAN DAN MUSIM

Kebutuhan energi diperlukan dan dipengaruhi juga pada masa stdia larva Menurut Effendi dan muhamad tang (2002) dalam (Cho et al. 1982) kebutuhan energi dipengaruhi oleh stadia dalam siklus hidupnya. Ikan muda yang sedang tumbuh membutuhkan energi persatuan berat badanya lebih banyak dibandingkan ikan dewasa. Kekurangan energi juga dapat menyebabkan kematian ikaorganisme seperti Kematian larva yang tinggi dikarenakan pada fase kritis stadia larva, terjadi peralihan pemanfaatan makanan dari kuning telur (endogenous feeding) ke pemanfaatan pakan dari luar (exogenous feeding). Apabila terjadi kesenjangan pemanfaatan energi dari endogenous feeding ke exogenous feeding maka akan menyebabkan kematian larva (Effendie, 2004).
Kebutuhan energi juga dipengaruhi terhadap musim dan lingkungan. Menjelang musim dingin, ikan akan meningkatkan konsumsi makanan dan menyimpan energi sebagai cadangan, sebagai respon terhadap penurunan suhu pada musim dingin menurut Effendi dan muhamad tang (2002). Karena dalam suhu yang berubah organisme akan menyiapkan sejumlah energi ssebagi ketersediaanya pada waktu yang sulit. Contoh pada ikan menurut Effendi dan muhamad tang (2002) hewan poikilothermal seperti ikan laju metabolisme akan berubah mengikuti perubahan suhu air, dan oleh karna itu kebutuhan akan energi akan meningkat sehubungan dengan meningkatnya suhu air. Tidak hanya musim, factor lingkungan juga mempengaruhi ketersediaan energi. Pada daerah yang buruk seperti DO rendah membuat ikan ikan lele mengelurkan energi lebuh banyak untuk respirasi Doi dan Singharaiwan, (1993) seperti suhu (Kamler, 1989;Effendie, 2002), cahaya (Ekau 2002), oksigen terlarut (Lagler, 1977; Ekau, 2002

Sedangkan adanya perbedaan lama waktu habisnya penyerapan kuning telur disebabkan karena adanya pengaruh lingkungan








DAFTAR PUSTAKA
Prawirohartono, S. dan Hadisumarto, S. (1997). Sains Biologi 3a Untuk SMU Kelas 3 Tengah Tahun Pertama Sesuai Kurikulum 1994. Jakarta: Bumi Aksara
Kimbal, J. (n.d.). (1997)Biologi Edisi kelima. Alih bahasa: Siti Soetarmi Tjitrosomo, Nawangsari Sugiri. Jakarta: Erlangga.
Kimbal, J. (n.d.). (1997) Biologi Edisi kelima. Alih bahasa: Siti Soetarmi Tjitrosomo, Nawangsari Sugiri. Jakarta: Erlangga.
Kimbal, J. (n.d.). (1997) Biologi Edisi kelima. Alih bahasa: Siti Soetarmi Tjitrosomo, Nawangsari Sugiri. Jakarta: Erlangga.

menurut saudara apa yang perlu ditambahkan?