Selasa, 25 Mei 2010

Penggunaan Ikan Nilem (Osteochilus haselti CV) dan Ikan Tawes (Puntius javanicus CV) sebagai Agen Hayati Pembersih Perairan Danau Maninjau, Sumatera Barat

Jurnal Natur Indonesia 6(2): 87-90 (2004)
ISSN 1410-9379
Penggunaan Ikan Nilem (Osteochilus haselti CV) dan Ikan
Tawes (Puntius javanicus CV) sebagai Agen Hayati Pembersih
Perairan Danau Maninjau, Sumatera Barat
Hafrijal Syandri
Jurusan Budidaya Perairan, Faperi, Universitas Bung Hatta, Padang 25136
Diterima 26-08-2003 Disetujui 02-03-2004
ABSTRACT
This research was aim to know the use of the Osteochilus haselti CV and Puntius javanicus CV as the biological
agents of the cleaner of Maninjau Lake and knew the growth and survival second type this test fish during
culture without in gave additional material. From the result of the research in received three types the phytoplankton
that in ate by nilem fish that is Cyanophyceae, Chlorophyceae, Diatome and the kind that was eaten by tawes
fish consisted of two kinds that are Cyanophyceae and Chlorophyceae. The weight and longer absolute growth
the nilem fish as big as 20.38 g and 3.82 cm and for the tawes fish as big as 7.48 g and 5.21. From result of the
research in concluded that from second type the test fish could in used as the biloical agents of lake cleaner
Maninjau.
Keywords: biological agents, O. haselti CV, P. javanicus CV, cleaner.
PENDAHULUAN
Danau Maninjau merupakan perairan dengan
luas 9.950 ha. Sejak dikembangkan usaha budidaya
keramba jaring apung pada tahun 1992, Danau
Maninjau mendapat beban yang berasal dari sisa
pakan dan sisa metabolisme ikan. Dampak negatif
yang ditimbulkannya adalah terjadinya kematian
massal ikan pada tahun 1997 sebanyak 950 ton,
dengan kerugian sebesar Rp. 2,7 milyar.
Sejak tahun 1998 hingga 2001 warna air Danau
Maninjau mengalami perubahan dari jernih menjadi
hijau pekat. Perubahan ini dapat dijadikan sebagai
salah satu indikator terganggunya ekosistem danau
tersebut yang disebabkan oleh adanya aktivitas
budidaya perikanan keramba jaring apung (cage
culture) sebanyak 3.500 unit. Akibat aktivitas tersebut
dihasilkan limbah yang berasal dari pakan ikan
sebanyak 292,88 ton/tahun, nitrogen 146,68 ton/tahun
dan urea 310,0 ton/ tahun (Syandri et al, 2000).
Tingginya kandungan bahan-bahan organik di
perairan tersebut secara langsung maupun tidak
langsung dapat mempengaruhi kondisi perairan
seperti terjadinya bloomming phytoplankton yang
pada gilirannya berdampak negatif terhadap sektor
perikanan, pariwisata dan dapat merusak peralatan
mesin Pembangkit Listrik Tenaga Air (Syandri et al,
1998).
Untuk memperbaiki kualitas perairan Danau
Maninjau diperlukan suatu cara yang tepat, tidak
beresiko, mudah, dan murah, serta berdampak positif
terhadap masyarakat luas serta mendukung program
pemerintah dibidang perikanan. Penggunaan biocleaning
agent merupakan salah satu metode yang
dapat digunakan, seperti yang telah dicobakan di
Waduk Saguling dengan menggunakan ikan mola
(Hypophthalmichthyis milirix) sebagai ikan uji
(Danakusumah 1999).
Ikan nilem merupakan ikan asli perairan Danau
Maninjau, sedangkan ikan tawes tidak terdapat di
danau tersebut. Kedua jenis ikan ini adalah pemakan
plankton dan diduga dapat memanfaatkan plankton
yang sedang blooming di Danau Maninjau. Oleh
karena itu, telah dilakukan penelitian penggunaan ikan
nilem dan tawes sebagai agen hayati pembersih
Danau Maninjau. Tujuan penelitian ini adalah 1)
mengetahui kemampuan ikan nilem dan tawes
sebagai agen hayati pembersih perairan Danau
Maninjau dengan cara mengidentifikasi jenis plankton
yang terdapat di dalam saluran pencernaan kedua
jenis ikan uji dan jenis plankton yang dominan yang
terdapat di Danau Maninjau, 2) mengetahui pola
pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nilem dan
tawes yang dipelihara di dalam keramba jaring apung
tanpa diberi pakan tambahan.
88 Jurnal Natur Indonesia 6(2): 87-90 (2004) Syandri.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Muko-Muko,
Danau Maninjau pada bulan Juni-Desember 2001.
Metode penelitian adalah metode eksperimen
menggunakan ikan nilem dan tawes sebagai ikan uji.
Ikan nilem dan tawes diperoleh dari Unit Pembenihan
Rakyat (UPR) Nagari Balai Tangah Kecamatan Lintau
Buo Kabupaten Tanah Datar.
Jumlah ikan nilem dan tawes yang dipelihara
masing-masing sebanyak 3.000 ekor. Ikan uji
dipelihara di dalam keramba jaring apung (KJA)
dengan ukuran 2x2x2 meter dengan padat tebar 1.000
ekor/unit keramba dengan jumlah sebanyak enam
unit. Ukuran mesh size keramba yang digunakan
sebesar 1/5 inchi dan keramba ditempatkan pada
kedalaman 15 meter. Bobot awal rata-rata untuk ikan
nilem 3,34 g/ekor dan panjang 8,93 cm, sedangkan
ikan tawes 0,27 g/ekor dan panjang 3,33 cm. Ikan
tersebut dipelihara selama enam bulan tanpa diberi
pakan tambahan. Diharapkan phytoplankton yang
terdapat di danau dapat dimanfaatkan oleh kedua
jenis ikan uji sebagai pakan.
Identifikasi jenis plankton dilakukan dua tahap
yaitu 1) identifikasi jenis plankton yang terdapat di
Danau Maninjau dilakukan sebanyak dua kali yaitu
pada awal dan akhir penelitian dengan menggunakan
alat plankton net, 2) mengetahui jenis plankton yang
terdapat pada saluran pencernaan ikan uji dilakukan
dengan cara pemeriksaan saluran pencernaan ikan
uji. Ikan diambil dari masing-masing keramba dengan
jumlah seluruhnya sebanyak 10 ekor. Saluran
pencernaan dipotong sepanjang 2 cm kemudian
direndam dengan formalin 4%. Untuk keperluan
pengukuran panjang dan berat mutlak ikan diukur dan
ditimbang sebelum dibunuh. Identifikasi plankton
dilakukan di Laboratorium Biologi Universitas Bung
Hatta Padang berpedoman kepada Needham &
Needham (1962).
Untuk mengetahui hubungan bobot tubuh
dengan panjang total ikan uji dilakukan pengambilan
sampel pada akhir penelitian sebanyak 60 ekor. Untuk
perhitungannya digunakan rumus yang dikemukakan
oleh Ricker (1975) yaitu W = aLb dimana W: bobot
ikan uji (gram), L: panjang total ikan (cm), sedangkan
a dan b: konstanta regresi hubungan panjang-bobot.
Untuk mengukur panjang dan berat mutlak ikan uji
digunakan rumus yang dikemukakan oleh Effendie
(1979), yaitu Lm: Lt - Lo, dimana Lm: pertumbuhan
panjang mutlak (cm), Lt: panjang pada akhir
penelitian, dan Lo: panjang pada awal penelitian.
Untuk menghitung pertumbuhan berat mutlak (Wm)
digunakan rumus Wm = Wt - Wo, dimana Wt: berat
ikan pada akhir penelitian dan Wo: berat ikan pada
awal penelitian. Seluruh data dianalisis secara
deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jenis plankton yang terdapat di Danau
Maninjau dan yang dimanfaatkan oleh ikan nilem dan
tawes sebagai pakan dicantumkan pada Tabel 1.
Jenis Plankton di Dalam Saluran
Pencernaan
Jenis Plankton di
Danau Maninjau
Ikan Nilem Ikan Tawes
Phytoplankton
Cyanophyceae
Croococus sp
Oscilatoria
Merismopedia
Nostoc
Myrocystis
Spirulina
Chlorophyceae
Microsphora sp
Ankinedesmus
Diction reticulata\
Spyrogyra stictica
Cosmarium
Khirchenerial sp
Scenedesmus
Tetradesmus
Chlorella sp
Coelastrum
Oedogonium sp
Diatomae
Navicula sp
Synedra rumphen
Melosyra granulata
Surieela ovalis
Gomphonema sp
Navicula radiosa
Achnanthes lineris
Zooplankton
Larva Crustacea
Nauplius
copepoda
Cylop diaptomus
Cyclop
Rotifera
Notolca
Asplanchana
Karatella
Phytoplankton
Cyanophyceae
Mycrocystis
Nostoc
Spirulina
Oscilatoria
Chlorophyceae
Ankinedesmus
Scenedesmus
Diction retiulatum
Tetradesmus
Chlorella sp
Coelastrum
Scenedesmus
Diatomae
Diatoma vulgare
Phytoplankton
Cyanophyceae
Myrocystis
Spirulina
Oscilatoria
Chlorophyceae
Ankinedesmus
Scenedesmus
Tetradesmus
Clhorella sp
Coelastrum
Scenedesmus
Tabel 1. Jenis plankton yang dominan di Danau Maninjau dan di
dalam saluran pencernaan ikan Nilem dan Tawes.
Ikan nilam dan tawes sebagai agen hayati pembersih Danau Maninjau 89
Dari Tabel 1 dapat dilihat phytoplankton yang
dominan di perairan Danau Maninjau berjumlah tiga
genus yaitu Cyanophyceae, Chlorophyceae, dan
Diatomae. Sedangkan Zooplankton ada dua genus
yaitu Rotifera dan Crustacea. Hasil identifikasi jenis
plankton yang dilakukan di Danau Maninjau pada
awal dan akhir penelitian diperoleh jenis yang sama.
Dari 24 jenis phytoplankton yang ada, 11 jenis
(45,83%) dimakan oleh ikan tawes dan 8 jenis
(33,33%) dimakan oleh ikan nilem. Kilham & Kilham
(1978) menyatakan bahwa dominasi suatu jenis
phytoplankton pada suatu badan air lebih ditentukan
oleh perbandingan jenis nutrien yang terlarut dalam
badan air. Hal ini disebabkan setiap jenis
phytoplankton mempunyai respon yang berbeda
terhadap perbandingan jenis nutrien yang ada
terutama perbandingan konsentrasi nitrogen, fosfor,
dan silika dalam badan air.
Budidaya ikan di dalam KJA di Danau Maninjau
diperkirakan menghasilkan limbah yang berasal dari
pakan ikan sebesar 292,88 ton/tahun (Syandri et al,
2000). Sebagian besar pakan yang diberikan akan
menjadi limbah organik yang jatuh sebagai sedimen
atau tertahan di badan air menjadi sedimen ataupun
larutan. Garno (1993) menyatakan bahwa dalam
bentuk apapun limbah KJA ini pasti akan diurai oleh
bakteri yang ada dalam badan air, di lapisan atas
diurai oleh bakteri aerob, sedangkan pada lapisan
dasar yang tidak mengandung oksigen diurai oleh
bakteri anaerob. Dengan proses dekomposisi yang
selalu mengandung nutrien (N dan P) dapat memicu
petumbuhan phytoplankton yang ada, dan jika suplai
nutrien terjadi secara kontinyu dapat mengakibatkan
terjadi blooming Mycrosystis seperti yang telah terjadi
di Danau Maninjau pada tahun 1999-2000 (Syandri
et al, 2000).
Dari tiga jenis phytoplankton yang terdapat di
Danau Maninjau genus Cyanophycea merupakan
jenis yang dapat menghasilkan toksin pada ikan. Hal
ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh
Nabib & Pasaribu (1989) bahwa organisme tersebut
dapat memberikan dua akibat langsung pada populasi
ikan di antaranya keracunan oleh ekskresi dari
Ichthyotoksin dan kesulitan bernafas disebabkan oleh
pengurangan oksigen secara cepat karena respirasi
organisme tersebut atau juga dapat disebabkan oleh
kematian mendadak suatu kelompok organisme
tersebut. Selama dan sesudah proses blooming
dihasilkan racun yang sangat mematikan bagi ikan
dan hal ini telah terjadi di Danau Maninjau. Dengan
kondisi air Danau Maninjau yang berwarna hijau pekat
plankton tumbuh sangat subur dimana menurut Nabib
& Pasaribu (1989) pada kondisi ini jumlah selnya
dapat berkisar antara 20-100 x 103 sel/ml. Kemudian
Kabata (1985) menyatakan bahwa apabila terjadi
blooming Mycrocystis auroginosa sebanyak 500.000
koloni/liter air sudah dapat mematikan populasi ikan
di perairan. Kemudian dijelaskan jenis Oscillatoria
dapat juga menurunkan mutu ikan bila terdapat di
perairan dalam pengenceran 1:5000 yang
menyebabkan bau lumpur pada ikan.
Dari analisis saluran pencernaan yang
dilakukan pada kedua jenis ikan uji ditemukan empat
jenis genus Cyanophyceae, terdiri dari Ocillatoria,
Mycrocystis, Spirullina, dan Nostoc. Dominasi
Cyanophyceae memperkuat dugaan bahwa air Danau
Maninjau sudah tergolong eutropik, dimana
Cyanopheae dapat hidup dengan subur karena
mampu beradaptasi dengan fluktuasi oksigen terlarut
yang tinggi (Moss 1988), dan cocok dengan pH 7
(Bold & Wynne 1978). Zooplankton tidak ditemukan
pada saluran pencernaan kedua ikan uji, karena ikan
ini bersifat herbivora. Dari hasil penelitian dapat
dinyatakan bahwa ikan nilem dan tawes dapat
memanfaatkan berbagai jenis phytoplankton yang
dominan di perairan Danau Maninjau terutama genus
Cyanophyceae dan Chlorophyceae. Dengan
demikian ikan nilem dan tawes dapat ditebarkan ke
dalam Danau Maninjau sebagai alternatif untuk
mengatasi blooming phytoplankton.
Hubungan bobot tubuh dengan panjang total
ikan nilem dan tawes. Dari hasil penelitian yang
dilakukan diperoleh kisaran panjang dan berat ikan
nilem antara 10,8-16,0 cm dan berat 13,0-48,5 g
sedangkan untuk ikan tawes antara 7,0-12,9 cm dan
berat antara 3,0-24,0 g. Dari analisis data diperoleh
hubungan bobot tubuh dengan panjang ikan uji
memperlihatkan suatu persamaan geometrik dimana
untuk ikan nilem W = 2,344 x 10-6 L3,3223, dan untuk
ikan tawes W = 2,470 x 10–6 L3,3312. Dari nilai koefisien
korelasi ikan nilem diperoleh hubungan yang erat
antara bobot tubuh dengan panjang total (r = 0,94, n
= 60), dan ikan tawes (r = 0,91, n = 60). Dari nilai
persamaan koefisien regresi (b) diperoleh hubungan
90 Jurnal Natur Indonesia 6(2): 87-90 (2004) Syandri.
bobot tubuh dengan panjang total ikan uji lebih besar
dari 3,0 (b > 3,0), masing-masing 3,3223 untuk ikan
nilem dan 3,3312 untuk ikan tawes. Berdasar kedua
nilai tesebut, maka dapat dinyatakan bahwa
pertumbuhan kedua ikan uji yang dipelihara dalam
KJA tanpa diberi pakan tambahan bersifat alometrik
positif yaitu pertumbuhan bobot tubuh lebih cepat bila
dibandingkan dengan pertumbuhan panjang.
Pertumbuhan panjang tubuh dipengaruhi oleh faktor
genetis. Diperolehnnya pertumbuhan yang baik pada
kedua ikan uji walaupun tidak diberi pakan tambahan
disebabkan ikan uji dapat memanfaatkan
phytoplanton yang terdapat di Danau Maninjau
sebagai sumber pakannya. Hal ini sesuai dengan
yang dikemukakan oleh Susanto (1996) bahwa ikan
tawes muda dan dewasa memakan tumbuhan air
seperti Chlorophyceae, Characeae, dan
Ceratophyllaceae.
Pertumbuhan Panjang dan Berat Multak Ikan
Uji. Dari hasil penelitian diperoleh pertumbuhan
panjang mutlak ikan nilem sebesar 3,82 cm dan berat
20,38 g, sedangkan untuk ikan tawes diperoleh
panjang mutlak sebesar 5,21 cm dan berat 7,48 g.
Kelangsungan hidup ikan uji yang dipelihara selama
penelitian lebih kurang 90%. Mortalitas terjadi saat
awal pemeliharaan dan diduga hal ini terjadi akibat
penanganan selama transportasi.
pertumbuhan berat tubuh lebih cepat dari pada
pertumbuhan panjang badan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih disampaikan kepada PT PLN
(Persero) Sektor Bukit Tinggi yang telah membantu
pendanaan penelitian ini.
KESIMPULAN
Ikan nilem dan tawes yang dipelihara di dalam
KJA di Danau Maninjau dapat memanfaatkan
phytoplankton sebagai pakannya. Kedua jenis ikan
uji dapat tumbuh dengan baik tanpa diberi pakan
tambahan. Pertumbuhan ikan nilem dan tawes yang
dipelihara di dalam KJA bersifat allometrik positif yaitu
DAFTAR PUSTAKA
Bold, H.C. & Wyne, M.J. 1978. Introduction to the Algae: Structure
and Reproduction. New Jersey: Prentice-Hall.
Danakusumah, E. 1999. Kemungkinan penggunaan ikan mola
(Hypophthalmichthyis milirix) sebagai agen pembersih
perairan waduk. Jakarta: Ditjen Pengairan dan Kantor
Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Effendie, M.I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Bogor: Yayasan
Dewi Sri.
Garno, Y.S. 1993. Eblibility of several phytoplankton species by
simocephalus vetulus. Proceeding Seminari on Technology
Application on Marine Environmental Monitoring for Casting
and Information System. Jakarta.
Kabata, Z. 1985. Parasite and Diseases of Fish Culture in the
Tropic. London: Taylor & Francis.
Kilham, S.S. & Kilham, P. 1978. Natural community bioasaays:
prediction of result based on nutrient physiology and
competition. Int. Ver Theor Anew. Limnol. Ver. 20: 68-74.
Moss, B. 1988. Ecology of Freshwater Man and Medium. Oxford:
Blackwell Scientist Publication.
Nabib, R. & Pasaribu, F.H. 1989. Patologi dan Penyakit Ikan.
Bogor: PAU Bioteknologi Institut Pertanian Bogor.
Needham, G.J. & Nedham, P.R. 1962. A Guide to the Study of
Freshwater Biology. San Fransisco: Holden Day Inc.
Ricker, W.E. 1975. Computation and interpretation of biological
statistics of fish populations. Bull. Fish Res. Board Cand.
119: 191-383.
Susanto, H. 1996. Budidaya Ikan di Pekarangan. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Syandri, H., Kusuma, H., Murniwira & Jufri. 1998. Pemanfaatan
perairan Danau Maninjau dalam rangka penyusunan
perikanan jala apung. Laporan Kerjasama Penelitian.
Padang: BPTP Sukarami dengan Lembaga Penelitian dan
Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Bung Hatta.
Syandri, H., Kusuma, H. & Ernijuita. 2000. Pengaruh perikanan
keramba jaring apung dan PLTA terhadap perairan Danau
Maninjau. Laporan Kerja Sama Penelitian. Padang: PT PLN
(Persero) Sektor Bukit Tinggi dengan Elsals Padang.

Bayam Melunakkan Cangkang Kepiting ( pe-molting-an)

KEPITING lunak atau soft shell crab adalah salah satu makanan laut (seafood) di dunia yang terkenal karena kelezatannya. Produk ini belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia meskipun banyak diproduksi di Indonesia. Hal ini terjadi karena kepiting lunak adalah produk ekspor yang mana permintaan luar negeri jauh lebih tinggi dibanding produksi. Komoditas ini diekspor ke Amerika, Tiongkok,Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, dan sejumlah negara di kawasan Eropa.Produksi kepiting lunak dilakukan dengan memelihara kepiting secara individu dalam kotak (keranjang buah) yang ditempatkan di dalam tambak hingga molting. Molting adalah proses pergantian kulit secara alami, yakni melepaskan kulit lama yang keras untuk tujuan pertumbuhan. Sesaat setelah molting, kulit kepiting yang baru masih dalam kondisi sangat lunak dan akan mengeras kembali beberapa jam kemudian ketika terjadi penyerapan air. Kepiting dengan kondisi lunak inilah yang dipanen sebagai kepiting lunak. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi kepiting lunak berkisar antara satu minggu hingga empat bulan, tergantung ukuran kepiting. Selama pemeliharaan tersebut petani akan memonitor kepitingnya setiap 2-3 jam sekali selama 24 jam. Bila kepiting molting dan tidak diangkat dari air maka dua jam kemudian kepiting sudah akan mengeras kembali. Akibatnya, nilai jual kepiting tersebutmenurun. Periode pemeliharaan yang lama dan waktu molting yang tidak bersamaan merupakan masalah utama dalam produksi kepiting lunak. Molting dapat terjadi pada pagi, siang, sore, atau malam hari. Periode pemeliharaan yang lama menyebabkan biaya pakan dan biaya operasional lainnya menjadi besar. Sedangkan molting yangtidak bersamaan menyebabkan pengawasan harus dilakukan sangat ketat sehingga tenagakerja yang dibutuhkan cukup banyak dengan waktu kerjayang panjang.Untuk mengatasi masalahtersebut, beberapa petani melakukanmutilasi atau menanggalkankaki-kaki kepiting. Tujuannyaagar proses regenerasi anggota gerak yang hilang akan dipercepat secara alami melalui molting.Teknik ini mampu mempercepat kepiting molting. Namun, masalah lain muncul, yakni kematian meningkat dan pertambahan berat setelah molting tidak terjadi, bahkan seringkali minus. Bila kepiting molting tanpa perlakuan mutilasi atau secara alami maka terjadi pertambahan berat sebesar kurang lebih 30 persen. Berdasarkan kendala tersebut maka dilakukanlah serangkaianpenelitian meliputi penelusuran pustaka dan percobaanpercobaan. Hasilnya diketahui bahwa Secara fisiologis, proses pergantian kulit dikontrol oleh hormon molting. Begitu temuan Dosen Fakultas
Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas, Prof Dr Ir YUSHINTA
FUJAYA, MSI dalam penelitiannya baru-baru ini. Dalam penelitian bersama sejumlah rekannya sesama dosen dan beberapa mahasiswa, diketahui bahwa hormon molting ini meningkat drastis menjelang molting. Dengan demikian diduga bahwa penambahan hormon molting eksogen dapat meningkatkan kadar hormon molting dalam darah sehingga molting akan terinduksi. Selain itu,ditemukan bahwa beberapa jenis tanaman mengandung hormon molting yang secara alami digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan hama insekta dan nematoda.
Tanaman bayam dipilih untukdijadikan sumber hormon molting eksogen untuk mempercepat molting pada kepiting budidaya dengan beberapa pertimbanganantara lain: di Indonesia banyak jenis bayam digunakan sebagai sayuran. Karena digunakan sebagai sayuran maka tanaman ini mudah diperoleh dan kesinambungan suplainya terjamin sehingga berpotensi menjadi produk industri. Lebih dari itu, karena bayam adalah sayuran yang menyehatkan maka metabolit yang dikandungnya aman bagi manusia sebagai konsumen.Selanjutnya, dari hasil penelitian yang seksama ditemukan bahwa aplikasi ekstrak bayam dengan dosis dan jadwal pemberian yang tepat mempunyai khasiat untuk menginduksi molting pada kepiting peliharaan. Aplikasi dapat diberikan melalui injeksi dan melalui pakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.Dengan injeksi maka seluruh bahan aktif ekstrak bayam akanlangsung masuk ke dalam darah dan segera mempengaruhi aktivitas molting. Namun memerlukan keterampilan dan peralatan khusus untuk aplikasinya. Sedangkan aplikasi melalui pakan mudah dilakukan karena sama saja dengan pemberianpakan pada umumnya, namun konsentrasi ekstrak yang dibutuhkan dua kali lebih banyak untuk mengantisipasi pakan yang tidak termakan dan yang mungkin larut dalam air karena pakan tidak segera dimakan. Komposisi nutrisi pakan buatan yanglengkap dan seimbang juga menentukan kinerja ekstrak bayamdalam menstimulasi molting. Ekstrak bayam ini telah diujicobakan pada industri budidaya kepiting cangkang lunak komersil di Kalimantan Selatan.
(Prof Dr Ir YUSHINTA FUJAYA, MSI)

Motilitas Sperma

Laporan Praktikum ke-11 Hari/Tanggal : Rabu / 19 Mei 2010
m.k. Fisiologi Hewan Air Kelompok : VII




KERAGAAN SPERMATOZOA


Disusun Oleh :
Ahmad Fauzi
















DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010


I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Dalam proses pembuahan ( fertilisasi ) sel telur ( ovum ) oleh sperma, kualitas sperma sangat menentukan keberhasilan proses pembuahan tersebut. Daya tahan hidup sperma di media air dan daya gerak ( mortilitas ) perlu diketahui dalam upaya meningkatkan derajat pembuahan pada kegiatan pengembangbiakan ikan (breeding). Pada kenyataanya sering terjadi tenggang waktu antara ketersediaan sperma dengan keberadaan sel telur ( kematangan gonad antara ikan jantan dan ikan betina yang tidak sinkron) atau ada perbedaan jarak antara keberadaan sperma dengan keberadaan telur sehingga untuk mengatasinya sperma perlu diawetkan.
1.2. Tujuan
Pratikum ini bertujuan untuk mengetahui motilitas ( daya gerak) daya hidup, dan mortilitas ( tingkat kematian) sperma ikan setelah mengalami beberapa perlakuan berbeda.










II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Ikan Mas Cyprinus carpio
Klasifikasi ikan mas Saanin (1984) dalam Sulistio (2001) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio L

Gambar 1. Ikan mas (Cyprinus carpio)
Sumber: ( Anonim 2010 )

Ikan Mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang dan agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (barbels) yang kadang-kadang satu pasang diantaranya rudimenter, ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata, 1983 dalam Wibawa, 2003





2.2 Sperma

Gambar 1. Morfologi Spermatozoa)
Sumber: ( Anonim 2010 )


Sifat sifat bawaan didalam inti sperma termasuk kedalam embrio. Sebagai hasil pembelahan reduksi selama spermatogenesis. Sperma hanya mengandung setengah jumlah DNA pada sel-sel somatik sehingga terbentuklah dua macam spermatozoa; sperma yang membrane chromosom-x akan menghasilkan embrio betina sedangkan sperma yang mengandung chromosom-y akan menghasilkan embrio jantan menurut (Affandi dan Muhamad tang 2002) . Sperma tetap motil untuk waktu lama didalam media yang isotonic dengan darah Menurut Gardier dalam Nurman (1995) dalam Affandi dan muhamad tang (2002) melaporkan bahwa semen yang encer bangayk mengandung glukosa, sehingga memberikan motilitas yang baik terhadap spermatozoa. Menurut Affandi dan muhamad tang (2002) sperma tidak bergerak dalam air mani . ketika masuk ke air akan aktif berenang. Pergerakan sperma normal adalah seperti linear, biasanya pola pergerakanya berbentuk spiral. Daya tahan hidup spermatozoa dipengaruhi oleh PH, tekanan osmotik, elktrolit, non elektrolit, suhu dan cahaya. Pada umumnya sperma sangat aktif dan tahan hidup lama pada ph sekitar 7,0. Motilitas partial dapat dipertahankan pada ph antara 5 dan 10. Suhu mempengaruhi daya tahan hidup sperma , peningkatan suhu akan meningkatkan kadar metabolism sehingga dapat menurangi daya tahan hidup sperma. Demikan juga cahaya matahari yang langsung mengenai spermatozoa akan memperpendek umur sperma. Menurut Affandi dan muhamad tang (2002) dalam Muncritik dan moccia (1987) mengatakan bahwa terdapat hubungan antara volume semen dengan motilitas spermatozoa , yaitu semakin encer semen ikan maka motilitas spermatozoa semakin tinggi karena spermatozoa memperoleh makanan yang cukupdari plasma semen. Menurut Aas et. (1991) dalam Affandi dan Muhamad tang (2002) dalam bahwa semakin encer semen ikan maka kadar sodium yang terdapat dalam semen semakin tinggi, sehingga motilitas dan fertilitas spermatozoa semakin tinggi.
2.3 Larutan fisiologis dan akuades
Larutan fisiologis adalah larutan isotonik yang terbuat dari NaCl 0,9% yang sama dengan cairan tubuh atau darah (adhil, 2009) menurut Rustidja(1985) dalam hidayaturahmah (2007) penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan urea karna dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit. larutan fisiologis lebih kecil dari NaCl 0,9 % (0,8 %; 0,6 %; 0,3 %; 0,1 %) disebut hipotonis. larutanfisiologis lbh besar dari NaCl 0,9 % ( 1 %; 2 %) disebut hipertonis. Darah bila dimasukkan ke dalam larutan hipotonis maka membran akan mengembang karena larutan hipotonis masuk ke dalam sel darah merah, kemudian pecah di satu tempat sehingga Hb keluar disebut dengan hemolisis. Darah bila dimasukkan ke dalam larutan hipertonis maka membran akan di tarik kesegala arah sehinga pecah di banyak tempat sehingga sel darah merah mengkerut akibatnya Hb juga keluar dan disebut krenasis Anonim (2010)



2.4 Larutan Air Kelapa
Sebagai sumber tenaga, air kelapa mengandung glukosa. Sebagai sumber zat pembangun, pada air kelapa terdapat protein. Paling tidak, air kelapa mengandung 12 macam protein. Beberapa diantaranya adalah alanin, arginin, asam aspartat, asam glutamat, histidin, fenilalanin, tirosin.
Selain itu, air kelapa juga kaya dengan mineral seperti natrium, kalium, kalsium, magnesium, besi, dan tembaga. Tidak ketinggalan vitamin. Ada vitamin C dan 7 macam vitamin B yaitu nikotinik, asam pantotenat, biotin, riboflavin (B2), asam folat, tiamin (B1), dan piridoksin (B6).
Air kelapa mempunyai sifat seimbang (isotonis) dan kaya dengan elektrolit. Karenanya, sangat baik diminum ketika tubuh kekurangan elektrolit, misal setelah aktifitas atau olah raga berat Anonim (2010)



















III. METEDOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Respirasi dilaksanakan pada tanggal 19 mei 2010 pada pukul 8.00 – 10.00 pagi di laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan IPB.

3.2. Alat dan Bahan
Alat - alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah ikan mas jantan matang gonad. Akuades, larutan fisiologis, air kelapa muda, es batu, tube,pipet, gelas objek, mikroskop, kertas label, lap dan tissue.

3.3. Prosedur Kerja
Pertama memilih ikan jantan yang matang gonad, kemudian mengambil ikan dari media air dan mengeringkan tubuh iakn sampai bersih. Lalu melakukan pengurutan pada perut dari arah anterior ke posterior sampai sperma keluar dari lubang kloaka. Berikutnya mengumpulkan dan membagi sperma serta menampung kedalam 5 tube, masing masing sebanyak 0,5 ml. Mengambil sampel sperma pada tube pertama untuk pengamatan awal . Untuk mengaktifkan sperma , beri satu tetes akuades pada sperma yang diamati dibawah mikroskop. Pada perlakuan yang diberikan pada sperma adalah pengenceran denga akuades , laruttan fisiologis, air kelapa muda, dan tanpa pengenceran serta penyimpanan pada suhu kamar dan suhu 4o C . Selalu memastikan bahwa tube berada pada kondisi tertutup rapat selama waktu penyimpanan. Setelah satu jam penyimpanan selalu melakukan pengamatan motilitas, daya hidup, dan mortalitas, masing-masing kelompok sperma dibawah mikroskop. Untuk mengatifkan sperma, memberikan setetes akudes pada sperma yang diamati dibawah mikroskop. Kemudian membandingkan data tersebut pada antar perlakuan.





VI. HASIL DAN PEMBAHASAN¬¬¬¬
4.1. Hasil
No perlakuan Motilitas daya hidup mortalitas
suhu kamar suhu 4 C suhu kamar suhu 4 C suhu kamar suhu 4 C
1 pengenceran dengan larutan isotonic 5 0 4” 0 100% 100%
2 pengenceran dengan larutan isotonic 5 0 53” 0 5% 100%
3 tanpa pengenceran 5 5 3,24” 1 0% 0%
4 tanpa pengenceran 1 1 14,8” 8,1 70% 60%
5 pengenceran dengan aQuades 1 0,5 9,38” 1,29 50% 10%
6 pengenceran akuades 0,25 0,25 9” 12 30% 50%
7 pengenceran dengan larutan fisiologis 0,75 1 10” 7,14 90% 98%
8 pengenceran dengan larutan fisilogis 0 0,75 5” 10 998% 70%
9 pengenceran dengan air kelapa muda 0 0 0” 0 100% 100%
10 pengenceran dengan larutan isotonic 1 0,5 3,14” 30 80% 98%
Tabel 1. Hasil pengamatan sperma ( motilitas, daya hidup, mortalitas) pada lima perlakuan berbeda pada suhu kamar dan suhu 40C.
Intrepretasi : Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa motilitas tertinggi terdapat pada perlakuan ke 1,2,3 pada suhu kamar dan perlakuan ke 3 pada suhu 40C sedangkan motilitas terendah terletak pada perlakuan ke 8,dan 9 pada suhu kamar dan perlakuan ke 9 pada suhu 4oC.
4.2 pembahasan
Pengenceran berpengaruh terhadap sperma. Pada pengencer akuades motilitas menunjukan angka ke 1 yaitu banyak sperma bergetar teteapi sangat sedikit yang bergerak cepat. Dikarenakan pada larutan akuades tergolong larutan hipotonik sedangkan sperma lebih mudah dipengaruhi pada kadaan hipertonik. Sperma pada larutan fisiologis bergerak lebih baik menurut Rustidja(1985) dalam Hidayaturahmah (2007) penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan urea karena dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit. Namun pada kenyatanya ada juga data yang menunjukan motilitas yang rendah hal ini dapat disebabkan oleh banyak factor diantaranya seperti preperat yang kurang bersih sehingga sperma telah bergerak lama namun tidak terdeteksi, bias juga dikarenakan sperma ikan berada pada kondisi yang kurang baik seperti telah terkontaminasi bakteri. Pada air kelapa muda termasuk kedalam larutan non elektrolit yang dapat digunakan dalam pengenceran sperma. Menurut Effendi dan Muhamad Tang (2002) larutan elektrolit dalam bentuk gula seperti fruktosa atau glukosa dapat digunakan sebagai pengencer sperma. Namun berdasrkan pengamatan hal ini tidak sesuai karena banyaknya sperma yang mati dal tidak ada motilitas hal ini bias disebabkan lemahnya sperma ikan yang bisa dikarenakan ikan berada pada kondisi sakit. Pada perlakuan pengenceran dengan larutan isotonik sperma kondisi sperma berada pada kondisi yang paling baik. Menurut adhil (2009) larutan fisiologis adalah larutan isotonik yang terbuat dari NaCl 0,9% yang sama dengan cairan tubuh atau darah sedangkan Menurut Affandi dan Muhamad Tang (2002) dalam Gardier dalam Nurman (1995) Sperma tetap motil untuk waktu lama didalam media yang isotonic dengan darah Rustidja(1985) dalam Hidayaturahmah (2007) penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan urea karna dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit. Motilitas merupakan daya gerak sperma yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan dengan pemberian larutan yang beraneka macam. Menurut Effendi dan Muhamad Tang (2002) seperma tidak dapat bergerak dalam air mani. Ketika masuk ke air spermatozoa akan aktif berenang. Daya hidup sperma menurut Effendi dan Muhamad Tang (2002) dipengaruhi oleh pH tekanan osmotik, elktrolit, non elektrolit, suhu dan cahaya. Pada umumnya sperma sangat aktif dan tahan hidup lama pada ph sekitar 7,0. Motilitas partial dapat dipertahankan pada ph antara 5 dan 10. Suhu mempengaruhi daya tahan hidup sperma , peningkatan suhu akan meningkatkan kadar metabolisme sehingga dapat menurangi daya tahan hidup sperma. Pada suhu 4oC sperma dapat bertahan hidup lebih lama karena metabolisme sperma relatif rendah sedangakn pada suhu tinggi laju metabolismenya juga tinggi sehingga mempengaruhi daya tahan tubuh sperma. menurut Effendi dan Muhamad Tang (2002) suhu mempengaruhi daya tahan hidup sperma, peningkatan suhu akan meningkatkan kadar metabolisme yang dapat mengurangi daya tahan hidup sperma. jika disimpan pada suhu 0-5oC umur sperma dapat diperpanjang menurut Effendi dan muhamad tang (2002). Factor yang mempengaruhi daya tahan tubuh sperma diantaranya adalah suhu, pada suhu yang tinggi metabolisme sperma juga akan tinggi sehingga berpengaruh terhadap daya tahan hidup sperma. Pada pH yang dipertahankan berkisar antara 5-10 sperma memilki daya tahan hidup lebih tinggi dan selain pada kisaran itu sperma akan mati atau tidak berkembang. Pada cahaya yang terlalu tinggi dapat mengurangi daya tahan hidup sperma menurut Effendi dan Muhamad Tang (2002) bahwa cahaya matahari yang langsung mengenai spermatozoa akan memperpendek umur spermatozoa, tidak hanya itu pada jenis spesies juga akan berpengaruh terhadap kualitas sperma. Ikan yang fertilisasi external mempunyai sperma dengan daya tahan hidup lebih tinggi jika dibandingkan dengan ikan yang melakukan pembuahan di dalam seperti ikan cupang dan mas. Ukuran juga menentukan kereaktifan sperma dalam pergerakanya seperti ikan koki yang mempunyai ukuran ekor sperma lebih panjang mempermudah pergerakan kearah distal sehingga mempercepat dalam bergerak ke mikrofil untuk melakukan fertilisasi berdasarkan pada Effendi dan uhamad tang (2002) dalam Toelihere 1985. Lingkungan juga berpengaruh terhadap daya tahan hidup sperma seperti cahaya, pH dan suhu yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan kematian pada sperma.











V.KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan
Pada keadaan suhu lingkungan yang tinggi dapat mengurangi daya tahan hidup sperma. Pada umumnya sperma sangat aktif dan tahan hidup lama pada ph sekitar 7,0. Ketika masuk ke air spermatozoa akan aktif berenang. Sperma tetap motil untuk waktu lama didalam media yang isotonic dengan darah.

5.2. Saran
Pada praktikum berikutnya ikan yang disediakan lebih beragam sehingga dapat digunakan sebagai perbandingan pada data yang diolah. Semoga kedepanya praktikum fisiologi hewan air akan lebih baik lagi.













DAFTAR PUSTAKA

Tang. U.M. dan R Affandi. 2001. Fisiologi hewan air. Unri.
[Anonim 2010] www.google imeg.com
[ Hidayaturohman 2007] WWW. Scribd .com





















LAMPIRAN

Jumat, 21 Mei 2010

ANABOLISME DAN KATABOLISME

ANABOLISME DAN KATABOLISME

Anabolisme adalah penyusunan senyawa kimia sederhana menjadi senyawa kimia atau molekul komplek menurut Prawirohartono dan Hadisumarto (1997). Proses ini membutuhkan energi dari luar. Energi yang digunakan dalam reaksi ini dapat berupa energi cahaya ataupun energi kimia. Energi tersebut, selanjutnya digunakan untuk mengikat senyawa-senyawa sederhana tersebut menjadi senyawa yang lebih kompleks. Jadi, dalam proses ini energi yang diperlukan tersebut tidak hilang, tetapi tersimpan dalam bentuk ikatan-ikatan kimia pada senyawa kompleks yang terbentuk. Anabolisme meliputi tiga tahapan dasar. Pertama, produksi prekursor seperti asam amino, monosakarida, dan nukleotida. Kedua, pengaktivasian senyawa-senyawa tersebut menjadi bentuk reaktif menggunakan energi dari ATP. Ketiga, penggabungan prekursor tersebut menjadi molekul kompleks, seperti protein, polisakarida, lemak, dan asam nukleat. Anabolisme yang menggunakan energi cahaya dikenal dengan fotosintesis, sedangkan anabolisme yang menggunakan energi kimia dikenal dengan kemosintesis. Hasil-hasil anabolisme berguna dalam fungsi yang essential menurut Kimbal (1997) Hasil-hasil tersebut misalnya glikogen dan protein sebagai bahan bakar dalam tubuh, asam nukleat untuk pengkopian informasi genetik. Protein, lipid, dan karbohidrat menyusun struktur tubuh makhluk hidup, baik intrasel maupun ekstrasel Kimbal (1997) Bila sintesis bahan-bahan ini lebih cepat dari perombakannya, maka organisme akan tumbuh. Kimbal (1997)
Katabolisme adalah reaksi pemecahan / pembongkaran senyawa kimia kompleks yang mengandung energi tinggi menjadi senyawa sederhana yang mengandung energi lebih rendah. Tujuan utama katabolisme adalah untuk membebaskan energi yang terkandung di dalam senyawa sumber. Bila pembongkaran suatu zat dalam lingkungan cukup oksigen (aerob) disebut proses respirad, bila dalam lingkungan tanpa oksigen (anaerob) disebut fermentasi.Contoh Respirasi :

C6H12O6 + O2 ——————> 6CO2 + 6H2O + 688KKal.(glukosa)

Contoh Fermentasi :C6H1206 ——————> 2C2H5OH + 2CO2 + Energi.
(glukosa) (etanol)
Pengertian lain Katabolisme adalah serangkaian reaksi yang merupakan proses pemecahan senyawa kompleks menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana dengan membebaskan energi, yang dapat digunakan organisme untuk melakukan aktivitasnya. Termasuk didalamnya reaksi pemecahan dan oksidasi molekul makanan seperti reaksi yang menangkap energi dari cahaya matahari. Fungsi reaksi katabolisme adalah untuk menyediakan energi dan komponen yang dibutuhkan oleh reaksi anabolisme.























HUBUNGAN ENERGI TERHADAP STADIA LARVA,
LINGKUNGAN DAN MUSIM

Kebutuhan energi diperlukan dan dipengaruhi juga pada masa stdia larva Menurut Effendi dan muhamad tang (2002) dalam (Cho et al. 1982) kebutuhan energi dipengaruhi oleh stadia dalam siklus hidupnya. Ikan muda yang sedang tumbuh membutuhkan energi persatuan berat badanya lebih banyak dibandingkan ikan dewasa. Kekurangan energi juga dapat menyebabkan kematian ikaorganisme seperti Kematian larva yang tinggi dikarenakan pada fase kritis stadia larva, terjadi peralihan pemanfaatan makanan dari kuning telur (endogenous feeding) ke pemanfaatan pakan dari luar (exogenous feeding). Apabila terjadi kesenjangan pemanfaatan energi dari endogenous feeding ke exogenous feeding maka akan menyebabkan kematian larva (Effendie, 2004).
Kebutuhan energi juga dipengaruhi terhadap musim dan lingkungan. Menjelang musim dingin, ikan akan meningkatkan konsumsi makanan dan menyimpan energi sebagai cadangan, sebagai respon terhadap penurunan suhu pada musim dingin menurut Effendi dan muhamad tang (2002). Karena dalam suhu yang berubah organisme akan menyiapkan sejumlah energi ssebagi ketersediaanya pada waktu yang sulit. Contoh pada ikan menurut Effendi dan muhamad tang (2002) hewan poikilothermal seperti ikan laju metabolisme akan berubah mengikuti perubahan suhu air, dan oleh karna itu kebutuhan akan energi akan meningkat sehubungan dengan meningkatnya suhu air. Tidak hanya musim, factor lingkungan juga mempengaruhi ketersediaan energi. Pada daerah yang buruk seperti DO rendah membuat ikan ikan lele mengelurkan energi lebuh banyak untuk respirasi Doi dan Singharaiwan, (1993) seperti suhu (Kamler, 1989;Effendie, 2002), cahaya (Ekau 2002), oksigen terlarut (Lagler, 1977; Ekau, 2002

Sedangkan adanya perbedaan lama waktu habisnya penyerapan kuning telur disebabkan karena adanya pengaruh lingkungan








DAFTAR PUSTAKA
Prawirohartono, S. dan Hadisumarto, S. (1997). Sains Biologi 3a Untuk SMU Kelas 3 Tengah Tahun Pertama Sesuai Kurikulum 1994. Jakarta: Bumi Aksara
Kimbal, J. (n.d.). (1997)Biologi Edisi kelima. Alih bahasa: Siti Soetarmi Tjitrosomo, Nawangsari Sugiri. Jakarta: Erlangga.
Kimbal, J. (n.d.). (1997) Biologi Edisi kelima. Alih bahasa: Siti Soetarmi Tjitrosomo, Nawangsari Sugiri. Jakarta: Erlangga.
Kimbal, J. (n.d.). (1997) Biologi Edisi kelima. Alih bahasa: Siti Soetarmi Tjitrosomo, Nawangsari Sugiri. Jakarta: Erlangga.

Jumat, 14 Mei 2010

PENGGUNAAN BIOKATALISATOR PADA BUDIDAYA UDANG GALAH

PENGGUNAAN BIOKATALISATOR PADA BUDIDAYA UDANG GALAH
Murtiati, K. Simbolon, T. Wahyuni, Juyana
Abstrak
Pemanfaatan biokatalisator baik itu berupa hewan maupun tumbuhan akan bermanfaat untuk
mengatasi terjadinya penurunan lingkungan. Salah satu diantaranya dengan pemanfaatan ikan jenis plankton
diharapkan dapat mengurangi blooming plankton.
Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan mengetahui efektifitas penggunaan ikan sebagai biokatalisator
kolam pembesaran udang galah, sedang target yang ingin dicapai adalah informasi teknik penggunaan
sebagai biokatalisator pada pembesaran udang galah
Kegiatan ini dilakukan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi, mulai bulan
hingga Desember 2006. Wadah yang digunakan pada kegiatan adalah berupa kolam tanah dengan
200 m2. Hewan uji yang digunakan adalah ikan bandeng dan benih tokolan udang galah.
Metode yang dilakukan pada kegiatan ini : ikan dipelihara dalam dalam hapa yang diletakkan pada
kolam sejumlah 3 buah. Ikan ditanam dalam hapa ukuran 2 x 2 x 1 m3 dengan padat tebar 100 ekor/
kolam pemeliharaan udang, dan tanpa pemberian pakan karena diharapkan ikan cukup memanfaatkan
plankton yang tumbuh di kolam.
Parameter yang diamati adalah parameter kualitas air yang meliputi : suhu, pH, DO, CO2, Alkalinitas,
NO2-N, NO3-N, PO4-P, kelimpahan plankton. Sebagai data pendukung dilakukan sampling satu bulan
untuk mengetahui pertumbuhan hewan uji yaitu udang dan bandeng.
Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan ikan sebagai biokatalisator ada kecenderungan untuk
menjaga keseimbangan lingkungan dalam menjaga kestabilan kelimpahan plankton dan beberapa parameter
dan kimia air seperti : pH air, oksigen terlarut, amoniak, nitrit dan nitrat. Sintasan udang mencapai
80,16) % dan sintasan bandeng berkisar (31,25-48,75) %.
PENDAHULUAN
belakang
Udang galah (Macrobrachium rosenbergii De
merupakan komoditas air tawar yang memiliki
ekonomis tinggi serta pangsa pasar yang besar
untuk konsumsi lokal maupun ekspor.
Usaha budidaya udang galah dewasa ini
mengalami perkembangan yang cukup
menggembirakan baik perluasan lahan pemeliharaan
berkembangnya sistem polikultur di lahan
. Namun pada kenyataannya keterbatasan
benih dan stok yang tidak kontinyu ternyata
menjadi kendala utama dalam usaha
pengembangan budidaya udang galah.
Masalah teknis yang dihadapi pada
perkembangan budidaya udang adalah ketidak
sesuaian konstruksi kolam, tidak cukupnya pasokan
air, belum terdapatnya teknologi produksi yang
guna, sebagai contoh pengolahan tanah dasar tambak
dan teknik pembesaran. Menurut Murjiyo (1998),
permasalahan yang dihadapi pada tahun 1980-
adalah teknik pembesaran untuk mencapai ukukan
yang ditargetkan dan produksi maksimum, serta untuk
mengoptimumkan penggunaan pakan
meminimumkan tingkat kematian udang selama
pemeliharaan. Sedang pada akhir-akhir ini kegagalan
produksi banyak disebabkan oleh timbulnya penyakit
dan penurunan kualitas lingkungan.
Penurunan kualtas lingkungan pada umumnya
disebabkan oleh pencemaran dari luar
Jurnal Budidaya Air Tawar Volume 4 No. 1 Mei 2007 (19-26)
pengotoran karena kegiatan budidaya. Pencemaran
dari luar budidaya meliputi antara lain : buangan
industri, buangan dari kegiatan pertanian dan buangan
rumah tangga. Selain itu pengotoran karena kegiatan
budidaya itu sendiri, yaitu berupa sisa pakan dan
buangan dari proses metabolisme hewan yang
dibudidayakan. Apabila masukan buangan ini
berlangsung terus menerus akan memberikan dampak
negatif terhadap lingkungan budidaya, yaitu terjadi
blooming plankton yang pada akhirnya akan
menyebabkan kegagalan panen.
Pemanfaatan biokatalisator baik itu berupa
hewan maupun tumbuhan akan bermanfaat untuk
mengatasi terjadinya penurunan lingkungan. Salah
satu diantaranya dengan pemanfaatan ikan jenis
plankton fider diharapkan dapat mengurangi blooming
plankton. Selain pemanfaatan plankton dengan
penggunaan biokatalisator berupa ikan ini akan
memberikan dampak positif lainnya yaitu
penambahan pendapatan dan produksi kegiatan
budidaya itu sendiri.
Tujuan dan Target
Tujuan
Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan
mengetahui efektifitas penggunaan ikan sebagai
biokatalisator pada kolam pembesaran udang galah.
Target
Target yang ingin dicapai adalah informasi
teknik penggunaan ikan sebagai biokatalisator pada
pembesaran udang galah dan penambahan pendapatan
hasil kegiatan budidaya udang.
TINJAUAN PUSTAKA
Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii De Man)
Udang galah (Macrobrachium rosenbergii De
Man) merupakan komoditas air tawar yang memiliki
nilai ekonomis tinggi serta pangsa pasar yang besar,
baik untuk konsumsi lokal maupun ekspor. Usaha
budidaya udang galah dewasa ini mengalami
perkembangan yang cukup menggembirakan barik
berupa perluasan lahan pemeliharaan maupun
berkembangnya sistem polikultur di lahan tambak.
Dalam usaha merebut pasar udang galah
diperlukan adanya kesinambungan produksi, sehingga
diperlukan adanya suplai benih udang galah dalam
jumlah yang mencukupi dan tepat waktu. Namun
kenyataannya keterbatasan jumlah benih dan stok
yang tidak kontinyu ternyata masih menjadi kendala
utama dalam usaha pengembangan budidaya udang
galah. Ketidak kontinyuan ini salah satu faktornya
adalah disebabkan oleh lingkungan media
pemeliharaan yang kurang mendukung.
Manajemen lingkungan merupakan salah satu
aspek penting yang berperan sangat besar dalam
keberhasilan usaha pembenihan udang galah.
Sebagaimana hewan akuatik lainnya, aktivitas hudip
udang galah sangat dipengaruhi oleh faktor
lingkungannya, bahkan udang galah memiliki
kerentanan yang tinggi terhadap kualitas media
pemeliharaan yang kurang baik (Hadie & Hadie,
1993). Proses ganti kulit (moulting) pada udang galah
yang merupakan kondisi rentan terhadap perubahan
lingkungan dan serangan patogen, juga menjadi dasar
pentingnya manajemen lingkungan pemeliharaan
secara seksama.
Produk Probiotik
Probiotik adalah mikroba yang merupakan bahan
tambahan di peraian (Moriarty, 1998). Umumnya
bakteri probiotik terdiri dari bakteri nitrifiying dan
atau bakteri heterotrofik (Gatesoup, 1999). Bakteri
heterotrofik adalah bakteri yang mengkonsumsi
oksigen untuk mengahsilkan karbodioksida dan
amoniak pada saat proses oksidasi. Sedangkan bakteri
autrofik nitrtiying mengkonsumsi oksigen dan
karbondioksida pada saat oksidasi amoniak dengan
produk akhirnya nitrat (Moriarty, 1996)
Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah
(Murtiati, K. Simbolon, T. Wahyuni, Juyana)
21
Menurut Stark dan Wilson (1986) dalam Adang
(1999), probitotik adalah mikroorganisme hidup non
phatogen yang diberikan pada hewan untuk perbaikan
laju pertumbuhan, efesiensi konsumsi ransum dan
kesehatan hewan. Selanjutnya Fuller (1989) dalam
Gandara (2003) mengatakan bahwa probiotik adalah
feed additive berupa mikroba hidup menguntungkan
yang mempengaruhi induk semang melalui perbaikan
keseimbangan mikroorganisme dalam salyran
pencernaan.
Probiotik dapat berupa satu atau beberapa jenis
mikroorganisme (mikroorganisme tunggal atau kultur
campuran). Spesies yang sering digunakan adalah
Lactobacillus sp., Leuconoctoc sp., Pedioccus sp.,
Propinibactereium sp. dan Bacillus sp. Daari spesies
ragi meliputi Saccharomyces cerevissiae dan Candida
pintolopesi, serta jamur meliputi Aspergillus niger dan
Aspegillus oryzae (Fuller, 1992 dalam Gandara 2003).
Peranan bakteri probiotik sebagai kontrol
biologis pada sistem budi daya (Garriques dan
Arevalo, 1995) adalah:
1. Menekan pertumbuhan bakteri patogen
2. Mempercepat degradasi bahan organik dan
limbah
3. Meningkatkan ketersediaan nutrisi esensial
4. Meningkatkan aktivitas mikroorganisme
indigenus yang menguntungkan pada tanaman,
misal Mycorriza, Rhizobium dan bakteri pelarut
pospat.
5. Memfiksasi nitrogen
6. Mengurangi pupuk dan pestisida
Dengan adanya probiotik maka proses degradasi
bahan organik pada dasar tambak akan lancar,
sehingga menghasilkan zat-zat yang bermanfaat bagi
pertumbuhan plankton. Bahan organik yang
mengalami mineralisasi oleh jasad pengurai
(probiotik) akan diubah menjadi bahan anorganik
seperti nitrat dan pospat. Bahan organik ini dapat
digunakan secara langsung oleh fitoplankon dalam air
untuk kelangsungan hidupnya. Fitoplankton
merupakan makanan bagi zooplankto, sehingga
jumlahnya melimpah. Hal ini menyebabkan perairan
tersebut menjadi subur. Zooplankton merupakan
pakan alami bagi sebagian besar larva ikan, termasuk
larva ikan mas. Dengan demikian maka ketersediaan
pakan alami bagi ikan akan tetap terjaga.
Biokatalisator
Biokatalisator adalah pemanfaatan organisme/
makhluk hidup yang digunakan sebagai penyeimbang
di dalam suatu kegiatan. Biokatalisator di dalam dunia
perikanan dapat berupa bahan bioremedian atau
beberapa jenis ikan yang bersifat pemakan plankton
atau tanaman air lainnya. Beberapa jenis ikan yang
dapat digunakan sebagai biokatalisator diantaranya
adalah tilapia, bandeng atau belanak. Biokatalisator
ini nyata membantu mempertahankan kondisi air
kolam dan menimbulkan green water. Ikan dapat
ditebar dengan kepadatan 5000-1000 ekor/ha
BAHAN DAN METODE
Bahan
Bahan yang digunakan pada kegiatan ini hewan
uji ikan bandeng air tawar ukuran 5-8 cm, benih
tokolan udang galah ukuran 10 gram, bahan kimia
untuk analisa kualitas air, pakan udang, pupuk, kapur
dan probiotik.
Peralatan yang digunakan berupa peralatan
perikanan meliputi : waring, lambit, scop net, kawat
saringan dan lain-lain, peralatan analisa air yang teridi
dari : pipet, erlenmeyer, becker glass, buret, tabung
nessler, botol sampel, serta alat-alat lain dibutuhkan.
Metode
Kegiatan ini dilakukan di Balai Besar
Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi, mulai
bulan Maret hingga Desember 2006. Wadah yang
digunakan pada kegiatan adalah berupa kolam tanah
Jurnal Budidaya Air Tawar Volume 4 No. 1 Mei 2007 (19-26)
22
dengan ukuran 200 m2. Hewan uji yang digunakan
adalah ikan bandeng dan benih tokolan udang galah.
Perlakuan adalah sistem polikultur dengan satu
perlakuan dan kontrol, sedang ulangan digunakan
dengan ulangan waktu. Lama pemeliharaan selama 4
bulan. Pengelolaan kolam dengan pemberian pupuk
yang di fermentasi dengan probiotik selama 7 hari,
selanjutnya dimasukan air dan tiga hari kemudian
dimasukan ikan.
Udang ditebar di kolam dengan padat tebar 10
ekor/m2. Pemberian pakan untuk udang berupa pellet
udang, dosis pemberian pakan 3% meningkat, dengan
frekuensi pemberian pakan sebanyak 5 kali sehari.
Sedang untuk ikan dipelihara dalam dalam hapa
yang diletakkan pada sisi-sisi kolam sejumlah 3 buah.
Ikan ditanam dalam hapa ukuran 2 x 2 x 1 m3 dengan
padat tebar 100 ekor/m2. Pemberian pakan untuk tidak
dilalukan untuk ikan, karena diharapkan ikan cukup
memanfaatkan plankton yang tumbuh di kolam.
Parameter yang diamati adalah parameter
kualitas air yang meliputi : suhu, pH, DO, CO2,
Alkalinitas, NH3-N, NO2-N, NO3-N, PO4-P,
kelimpahan plankton. Sebagai data pendukung
dilakukan sampling satu bulan sekali untuk
mengetahui pertumbuhan hewan uji yaitu udang dan
bandeng.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dari kegiatan pemanfaatan biokatalisator
berupa ikan bandeng pada pemeliharaan udang galah
terhadap kondisi kualitas air kolam, di peroleh hasil
sebagai berikut :
Pengamatan Kualitas Air
Pengukuran Suhu Air
Dari hasil pengukuran suhu selama uji coba
tersebut menunjukkan bahwa pada minggu 1 suhu
cenderung rendah rata-rata 230C, ini terjadi terjadi
pada ketiga perlakuan minggu ke 2 mulai naik sampai
250C. Namun kemudian pada minggu ke 3 turun dan
stabil sampai pada minggu ke 7, selanjutnya naik
kembali mencapai kisaran 25-26,50C dan pada akhir
percobaan menunjukkan kecenderungan menurun
(Gambar 1).
Gambar 1. Fluktuasi Suhu selama kegiatan
Hasil pengukuran suhu menunjukkan bahwa
suhu antar kolam uji tidak menunjukkan perbedaan,
yaitu pada kontrol berkisar antara 23,0-26,70C, pada
perlakuan biokatalisator ikan bandeng dan probiotik
EM4 berkisar 21,0-26,20C dan pada
Perlakuan biokatalisator ikan bandeng dan
probiotik MBPI berkisar 22,0-26,50C. Nilai kisaran
suhu dari hasil pengamatan ini masih memenuhi
kisaran yang layak untuk pertumbuhan ikan, namun
belum optimal. Menurut Effendi, H (2003) kisaran
optimal untuk menunjang pertumbuhan ikan berkisar
25-30 0C.
Penggunaan biokatalisator ikan bandeng dan
pemberian probiotik EM4 maupun MBPI tidak
memberikan pengaruh nyata terhadap suhu
Pengukuran pH Air
Nilai pH (derajat keasaman) selama kegiatan
berlangsung menunjukkan bahwa nilai pH pada kolam
perlakuan (B & C) relatif stabil berkisar 6-8, sedang
pada kolam kontrol (A) menunjukkan fluktuasi yang
cenderung lebar yaitu berkisar antara 6 sampai 9.
Fluktuasi Suhu
21
22
23
24
25
26
27
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Minggu ke
Suhu (0C)
A
B
C
Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah
(Murtiati, K. Simbolon, T. Wahyuni, Juyana)
23
Hasil pengukuran pH disajikan pada Gambar 2
berikut:
Gambar 2. Fluktuasi pH selama Kegiatan
Penggunaan biokatalisator ikan bandeng dan
probiotik EM4 serta MBPI tidak memberikan
perbedaan terhadap nilai pH. Hal ini terlihat bahwa
nilai pH antar kolam uji dan kontrol menunjukkan
pola yang sama dan berada pada kisaran yang layak
untuk kehidupan ikan. Boyd (1982) menyatakan
bahwa kisaran pH yang dapat menunjang
pertumbuhan ikan adalah 6.5-9. Nilai kisaran pH pada
kontrol 6,0-8,6; pada kolam perlakuan biokatalisator
ikan bandeng dan EM4 berkisar 6,0-7,99; sedang pada
kolam perlakuan biokatalisator ikan bandeng dan
MBPI berkisar 6,0-8,52.
Pengukuran Oksigen Terlarut (DO2) Air
Hasil pengukuran kandungan oksigen terlarut
menunjukkan bahwa pada kolam kontrol konsentrasi
oksigen terlarut berkisar 1,24-4,84 mg/L; kolam
perlakuan biokatalisator ikan bandeng dan EM4 (B)
berkisar 0,85-8,24 mg/L; sedang kolam perlakuan
biokatalisator ikan bandeng dan MBPI berkisar 1,23-
5,89 mg/L. Nilai kisaran pada ketiga kolam uji masih
dalam batas kelayakan untuk pertumbuhan ikan.
Namun demikian terlihat bahwa kolam perlakuan
dengan biokatalisator ikan bandeng dan probiotik
EM4 maupun MBPI (C) memberikan pengaruh yang
baik pada peningkatan kadar oksigen terlarut, yaitu
pada kolam perlakuan ikan bandeng dan EM4
konsentrasi tertinggi mencapai 8,24 mg/l dan pada
kolam perlakuan ikan bandeng dan MBPI 5,89 mg/l.
Perlakuan biokatalisator ikan bandeng dan probiotik
EM4 memberikan pengaruh lebih baik dari perlakuan
biokatalisator ikan bandeng dan MBP-I. Hasil
pengukuran oksigen terlarut disajikan pada Gambar 3.
Gambar 3. Fluktuasi O2 terlarut selama Kegiatan
Pengukuran Amoniak (NH3-N)
Hasil pengukuran kandungan ammonia (Gambar
4) menunjukkan kisaran konsentrasi yang cukup lebar,
yaitu pada kolam kontrol berkisar 0,044-2,05 mg/L;
0,015-2,24 mg/L untuk kolam perlakuan
biokatalisator dan probiotik EM4; dan 0,03-2,04 mg/l
untuk kolam perlakuan biokatalisator dan probiotik
MBPI. Dari ketiga data ini dapat dilihat bahwa kolam
perlakuan biokatalisator dan probiotik MBPI,
kandungan ammonia cenderung lebih rendah daripada
kolam kontrol maupun kolamperlakuan biokatalisator
dan MBPI. Namun secara keseluruhan, konsentrasi
maksimum pada ketiga kolam relatif tinggi dan telah
melebihi kisaran yang disarankan untuk pemeliharaan
ikan yaitu < 1 mg/l (Pescod, 1973).
Fluktusi Oksigen
0.000
1.000
2.000
3.000
4.000
5.000
6.000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Minggu ke
K ons e ntra s i (m g/l)
A
B
C
Fluktuasi Ammonia
0.000
0.500
1.000
1.500
2.000
2.500
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Minggu ke-
Konsentrasi (mg/L)
A
B
C
Fluktuasi pH
0
2
4
6
8
10
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Minggu ke
N ila i pH
A
B
C
Jurnal Budidaya Air Tawar Volume 4 No. 1 Mei 2007 (19-26)
24
Gambar 4. Fluktuasi Amoniak (NH3-N) Terlarut
selama Kegiatan
Pengukuran Nitrit (NO2-N)
Konsentrasi nitrit pada kolam kontrol, kolam
perlakuan biokatalisator + EM4, dan kolam perlakuan
biokatalisator + MBPI berturut-turut adalah 0.022-
0.254 mg/l, 0.018-0.382 mg/l dan 0.023-0.178 mg/l.
Konsentrasi nitrit maximum yang diperbolehkan
dalam kegiatan budidaya ikan adalah < 0.06 mg/l
(Effendi, H, 2003). Dari hasil tersebut menunjukkan
bahwa perlakuan biokatalisator dan probiotik MBPI
memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan
perlakuan biokatalisator dan probiotik EM4
(Gambar 5).
Gambar 5. Fluktuasi Nitrit (NO2-N) Terlarut
selama Kegiatan
Pengukuran Nitrat (NO3-N)
Gambar 6. Fluktuasi Nitrat (NO2-N) Terlarut
selama Kegiatan
Konsentrasi nitrat maksimum pada kolam
kontrol, yaitu berkisar 0,03-4,2 mg/L. Sedangkan
kandungan nitrat pada kolam perlakuan biokatalisator
+ probiotik MBPI lebih besar daripada kolam
perlakuan biokatalisator + EM4 (Gambar 6).
Keberadaan nitrat yang tinggi tidak membahayakan
bagi kehidupan ikan bahkan menunjukkan tingkat
kesuburan kolam. Dengan demikian, dapat dilihat
bahwa kolam perlakuan biokatalisator + probiotik
MBPI cenderung lebih subur daripada kolam
perlakuan biokatalisator + probiotik EM4.
Pengukuran CO2 (karbondioksida)
Konsentrasi karbondioksida pada kolam
perlakuan biokatalisator relatif lebih tinggi
dibandingkan kolam kontrol, yaitu 0-39,9 mg/L pada
kolam kontrol; 2,2-55,4 mg/L pada kolam perlakuan
biokatalisator ikan bandeng dan EM4; dan 4,4-52,8
mg/L pada kolam perlakuan biokatalisator dan MBPI.
Hal ini diduga karena ikan bandeng dan probiotik
dapat meningkatkan laju dekomposisi bahan organik
sehingga dapat meningkatkan konsentrasi
karbondioksida sebagai produk akhir. Nilai kisaran
karbondioksida pada ketiga kolam uji masih layak
untuk pertumbuhan ikan. Kandungan karbondioksida
yang baik untuk pertumbuhan ikan adalah tidak lebih
dari 5 mg/l, dan apabila oksigen tinggi ikan masih
dapat mentolerir kandungan karbondioksida kurang
dari 60 mg/l (Boyd, 1982).
Pengukuran PO4-N (Phosfat)
Kandungan phosfat pada perairan juga
menunjukkan tingkat kesuburan kolam. Kandungan
phosfat pada kolam perlakuan masih lebih rendah
daripada kolam kontrol. Namun bila dibandingkan
antara kolam perlakuan biokatalisator + probiotik
EM4 (berkisar 0-7,4mg/L) dan kolam perlakuan
biokatalisator + probiotik MBPI (0-9 mg/L)
menunjukkan kolam perlakuan biokatalisator +
probiotik MBPI cenderung lebih subur daripada
kolam perlakuan biokatalisator + probiotik EM4.
Hasil pengukuran kisaran dan rataan kualitas air
selama kegiatan disajikan pada Tabel 1, berikut :
Fluktuasi Nitrit
0.000
0.050
0.100
0.150
0.200
0.250
0.300
0.350
0.400
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Minggu ke-
Konsentrasi (mg/L)
A
B
C
Fluktuasi Nitrat
0.000
0.200
0.400
0.600
0.800
1.000
1.200
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Minggu ke-
Konsentrasi (mg/L)
A
B
C
Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah
(Murtiati, K. Simbolon, T. Wahyuni, Juyana)
25
Tabel 1. Nilai Kisaran dan Rataan Kualitas Air
SUHU pH O2 CO2 ALKALI NH3 NO2 NO3 PO4 KEC
PERLAKUAN
(0C) (-) (mg/l) (mg/l) (mg/ l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (cm)
A (Kontrol) MAX 26.7 8.6 4.84 39.9 81.6 2.05 0.264 4.1 10 30
MIN 23 6 1.24 0 37.5 0.044 0.022 0.03 0.04 19
RATAAN 24.10 7.52 3.58 13.18 58.26 0.456 0.099 0.653 2.970 12.43
B (EM-4) MAX 26.2 7.99 8.24 55.4 96.6 2.24 0.382 1.25 7.4 40
MIN 21 6 0.85 2.2 30 0.015 0.018 0.04 0.032 15
RATAAN 24.38 6.81 3.38 20.71 62.15 0.430 0.137 0.504 1.573 24.17
C (MBP-I) MAX 26.5 8.52 5.89 52.8 110.5 2.04 0.178 2.8 9 31
MIN 22 6 1.23 4.4 25 0.03 0.023 0.01 0.04 12
RATAAN 24.20 7.23 3.00 19.57 64.00 0.429 0.069 0.500 2.521 21.57
Pertumbuhan Udang
Dari hasil pengukuran pertumbuhan berat dan
panjang (Tabel 2) udang menunjukkan bahwa,
pertumbuhan terbaik terlihat pada perlakuan
biokatalisator + EM-4 yaitu mencapai berat 22,78
gram dan panjang 12,66 cm. Sedang pertumbuhan
paling rendah pada perlakuan kontrol, yang hanya
mencapai berat 11,51 gram dan panjang 9,93 cm
Tabel 2. Hasil Pertumbuhan pada Awa
dan Akhir Kegiatan
AWAL AKHIR
PERLAKUAN BERAT
(g)
PANJANG
(cm)
BERAT
(g)
PANJANG
(cm)
A (Kontrol) 2.94 6.69 11.51 9.93
B (EM-4) 2.94 6.69 22.78 12.66
C (MBP-I) 2.94 6.69 15.28 11.38
Sintasan udang
Sintasan udang tertinggi pada perlakuan B
(Biokatalisator+EM-4) yaitu mencapai 80,16%,
sedang pada perlakuan C (Biokatalisator+MBP-I)
mencapai 68,16% dan sintasan terendah pada kontrol
yaitu hanya mencapai 651,11%. Perlakuan
pemanfaatan biokatalisator yang dipadukan dengan
probiotik diduga memberikan pengaruh yang baik
terhadap kestabilan media pemeliharaan, sehingga
menghasilkan sintasan udang yang cukup baik
(Tabel 3).
Tabel 3. Sintasan Udang Galah
PERLAKUAN
TEBAR AWAL
(ekor)
PANEN
(ekor)
SINTASAN
(%)
A (Kontrol) 6300 3850 61.11
B (EM-4) 3604 2889 80,16
C (MBP-I) 5936 4050 68,23
KESIMPULAN
Dari hasil kegiatan yang telah diuraikan
sebelumnya, kesimpulan yang dapat diambil adalah :
􀁸 Effektifitas ikan bandeng sebagai biokatalisator
menunjukkan kecenderungan positif terhadap
beberapa nilai parameter kualitas air, yaitu pH,
oksigen terlarut, nitrit dan nitrat.
􀁸 Sintasan udang mencapai 68,23-80,16%
􀁸 Sintasan bandeng 31,25-48,75%
DAFTAR PUSTAKA
Boyd, C.E. 1982. Water Quality Management for Pond Fish
Culture. Elsevier sci.Publ Co Amesterdam
Moriarty, D.J.W. 1996. Microbial Biotechnology : a key
Inggradient for sustainable Aaquaculture. Infofish
International.
Wididana,. G.H, K. Riyanto 1986. Tanya Jawab Teknologi
Efektive Microorganisme. Koperasii Karyawan
Departemen Kehutanan, Jakarta.

Senin, 10 Mei 2010

KLASIFIKASI IKAN

1. Ikan Mas Cyprinus carpio
Klasifikasi ikan mas Saanin (1984) dalam Sulistio (2001) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio L



Ikan Mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang dan agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (barbels) yang kadang-kadang satu pasang diantaranya rudimenter, ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata, 1983 dalam Wibawa, 2003).


2. Ikan Nila Oreochromis niloticus
Berdasarkan sistematika yang terdapat pada Tilapias; Taxonomy and Specification oleh Trewavas, 1982 (Saanin dalam Wibawa 2003) mengklasifikasikan ikan Nila sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Osteichtes
Sub kelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percormorphii
Sub ordo : Percoidae
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : O. niloticus


Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompress) dengan profil empat persegi panjang ke arah anterior posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah type ctenoid. Ikan nila (Oreochromis niloticus) juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, beitu pula pada bagian analnya. Dengan posisi sirip anal dibelakang sirip dada (abdominal). (Suyanto, 1994 dalam Wibawa, 2003).
Menurut Suyanto (1994) dalam Wibawa, (2003) ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal. Nila juga dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras alirannya, di waduk, rawa, sawah, tambak air payau, atau di dalam jaring terapung di laut.
Ikan Nila merah Florida mempunyai tingkat kelangsungan hidup lebih baik pada slinitas 18 ppt dibandingkan dengan salinitas lebih rendah dan yang lebih tinggi, walaupun dapat dipelihara sampai salinitas 36 ppt (Watanabe et. al, 1990 dalam Arifin, 1995).

3. Ikan Patin Pangasius hypopthalmus
Saanin (1984) mengklasifikasi Patin Siam sebagai berikut :
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub Ordo : Siluroidei
Famili : Schilbeidae
Genus : Pengasius
Spesies : Pangasius hypopthalmus.
Selain klasifikasi dia atas, ada juga para ahli yang menglasifikasi lain, sehingga Patin Siam itu ber-spesies Pangasanodon hypopthalmus.





4. Ikan Nila Oreochromis niloticus
Berdasarkan sistematika yang terdapat pada Tilapias; Taxonomy and Specification oleh Trewavas, 1982 (Saanin dalam Wibawa 2003) mengklasifikasikan ikan Nila sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Osteichtes
Sub kelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percormorphii
Sub ordo : Percoidae
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : O. niloticus



Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompress) dengan profil empat persegi panjang ke arah anterior posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah type ctenoid. Ikan nila (Oreochromis niloticus) juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, beitu pula pada bagian analnya. Dengan posisi sirip anal dibelakang sirip dada (abdominal). (Suyanto, 1994 dalam Wibawa, 2003).
Menurut Suyanto (1994) dalam Wibawa, (2003) ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal. Nila juga dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras alirannya, di waduk, rawa, sawah, tambak air payau, atau di dalam jaring terapung di laut.
Ikan Nila merah Florida mempunyai tingkat kelangsungan hidup lebih baik pada slinitas 18 ppt dibandingkan dengan salinitas lebih rendah dan yang lebih tinggi, walaupun dapat dipelihara sampai salinitas 36 ppt (Watanabe et. al, 1990 dalam Arifin, 1995).

5. Ikan Gurami Osphronemus goramy
Gurame merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, degan morfologi bentuk badan pipih lebar, bagian punggung berwarna merah sawo dan bagian perut berwarna kekuning-kuningan. Ikan gurame merupakan keluarga anabantidae. Keturunan helostoma dan dan bangsa labyrinthici. Dinas perikanan Jakarta (1997)
Klasifikasi ikan gurame :
Klas : pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Sub ordo : anabantoidae
Family : anabantoidae
Genus : Osphronemus
Species : Osphronemus goramy



6. Ikan lele Clarias batrachus
Di Indonesia dikenal banyak jenis lele, di antaranya lele lokal, lele dumbo, lele phiton dan lele babon (lele Kalimantan). Namun, yang dibudidayakan hanya lele lokal dan (Clarias batrachus) dan lele dumbo (Clarias gaeriepinus). Jenis yang kedua lebih banyak dikembangkan karena pertumbuhannya lebih cepat dan ukurannya lebih besar daripada lele lokal (Bachtiar, 2006).
Klasifikasi ikan lele menurut Hasanuddin Saanin dalam Bachtiar (2006) yaitu sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Sub-kingdom : Metazoa
Phyllum : Chordata
Sub-phyllum : Vertebrata
Klas : Pisces
Sub-klas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub-ordo : Siluroidea
Familia : Clariidae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias batrachus


Habitat atau tempat hidup lele dumbo adalah air tawar. Air yang baik untuk pertumbuhan lele dumbo adalah air sungai, air sumur, air tanah, dan mata air. Namun, lele dumbo juga dapat hidup dalam kondisi air yang kurang baik seperti di dalam lumpur atau air yang memiiliki kadar oksigen rendah. Hal tersebut sangat dimungkinkan karena lele dumbo memiliki insang tambahan yaitu arborescent yang terletak di bagian atas lengkung insang kedua dan ketiga terdapat kantung insang tambahan yang berbentuk seperti pohon, karenanya dinamakan arborescent organ. Organ ini dipergunakan untuk pernafasan udara sehingga memungkinkan lele dumbo untuk mengambil napas langsung dari udara dan dapat hidup di tempat beroksigen rendah. Alat ini juga memungkinkan lele dumbo untuk hidup di darat, asalkan udara di sekitarnya memiliki kelembapan yang tinggi (Bachtiar, 2006).

7. Ikan Sepat Hias colisa fasciata

Gambar 5. Ikan sepat hias colisa fasciata
Sumber : translate.google.com

Rumus sirip dorsal, V-VII (jari-jari keras atau duri) dan 8–10 (jari-jari lunak); dan sirip anal XII-XIV, 25–30. Gurat sisi 30–37 buah. Panjang standar (tanpa ekor) kira-kira 2,4 kali tinggi badan. Sepasang jari-jari terdepan pada sirip perut berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk atau pecut, yang memanjang hingga ke ekornya, dilengkapi oleh sepasang duri dan 2-3 jumbai pendek. (Weber dan de Beaufort 1922). Sekali memijah biasanya betina akan mengeluarkan 150–200 butir telur. Telur ikan akan menetas setelah 24 jam kemudian. Beberapa hari berikutnya burayak (anak-anak ikan) mulai aktif berenang. Pada saat itu hendaknya ikan jantan dipisahkan dari anak-anaknya, agar burayak-burayak itu tidak dimakannya menurut Sastrapradja et. al (1981).
Klasifikasi ikan sepat hias :
Kingdom : Animalia
Phylum : chordate
Kelas : actinopterigi
Ordo : perciformes
Family : Ospronemidae
Genus : trichogaster
Species : T. leeri

8. Sistem ketahanan ikan
Hewan air membutuhkan oksigen dalam jumlah yang berbeda – beda tergantung pada jenis, ukuran, kondisi fisiologis dan variabel lingkungan seperti suhu, kadar oksigen terlarut, kadar CO, salinitas dan lain – lain. Ikan dan organisme akuatik lain membutuhkan oksigen terlarut dengan jumlah cukup (Effendi, 2003).
Menurut Fujaya( 2004) bahwa oksigen digunakan sebagai bahan pernapasan dibutuhkan oleh sel untuk berbagi reaksi metabolisme, sedangkan menurut (Afandi dan Tang, 2002) peranan oksigen dalam kehidupan ikan merupakan zat yang mutlak dibutuhkan untuk mengoksidasi makanan (karbohidrat, lemak, dan protein) sehingga dapat menhasilkan energi .
Pertukaran antara oksigen yang masuk ke dalam darah dengan karbondioksida yang keluar dari darah terjadi dengan cara difusi pada pembuluh darah dalam insang. Peredaran darah dalam filamen merupakan pertemuan antara pembuluh darah yang berasal dari jantung yang masih banyak mengandung karbondioksida dengan pembuluh darah yang akan meninggalkan filamen insang yang kaya akan oksigen (Tim Iktiologi, 1989).
Menurut Affandi (2002), organ pernafasan ikan dibagi menjadi dua yaitu alat pernafasan akuatik (insang) dan alat pernafasan udara ( air breathing fishes). Alat pernafasan akuatik berupa insang dalam, insang luar dan permukaan tubuh. Sedangkan alat pernafasan udara biasanya merupakan alat pernapasan tambahan terdapat pd ikan yang hidup di perairan bersuhu tinggi (tropis), stagnan, dan miskin oksigen. Selain memanfaatkan oksigen terlarut dalam air, beberapa jenis ikan mampu memanfaatkan oksigen secara langsung dari udara bebas dengan cara melakukan kontak langsung dengan udara (keluar di permukaan air. Umumnya ikan – ikan yang mempunyai kemampuan seperti ini hidup pada habitat air tawar di daerah tropis yang kandungan oksigennya sedikit bahkan anoksid.
Beberapa spesies ikan mempunyai alat pernafasan tambahan yang memungkinkan mereka dapat hidup di perairan dangkal atau perairan yang kurang oksigen. Menurut Brojo (2004), alat – alat pernafasan tambahan tersebut adalah: Labirin, berupa lipatan – lipatan lembaran tulang tapis yang tersusun seperti bunga mawar yang banyak sekali mengandung kapiler – kapiler darah untuk pertukaran oksigen dengan CO2, misalnya pada ikan sepat, ikan tambakan dan ikan betok. Arborescent organ, berbentuk seperti karang misalnya pada ikan lele yang terletak pada tulang lengkung insang pertama dan ketiga. Diverticula, yaitu lipatan – lipatan kulit di permukaan rongga bagian dalam mulut dan faring, misalnya pada ikan gabus. Alat pernafasan tambahan berbentuk tabung, misalnya pada ikan Saccobranchus, sejenis ikan lele yang hidup di perairan dalam. Lipatan – lipatan kulit tipis pada dinding bagian operculum, misalnya pada ikan blodok

MENYULAP ECENG GONDOK SEHINGGA BERNILAI EKONOMIS

Menurut Sastroutomo (1990) Eceng gondok merupakan tumbuhan air yang berasal dari brazil. Tumbuhan ini menyebar keseluruh dunia dan tumbuh pada daerah dengan ketinggian berkisar antara 0-1.600 m diatas permukaan laut yang beriklim dingin. Penyebaran tumbuhan ini dapat melalui kanal, sungai dan rawa serta perairan tawar lain dengan aliran lambat. Klasifikasi eceng gondok menurut ( Rizk dan Pav 1991) sebagai berikut :
Kingdom : Embryophytasi phonogama
Filum : magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Liliales
Famili : Pontederiaceae
Genus : Eichornia
Spesies : E. crassipes
Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang kadang berakar dalam tanah. Eceng gondok memiliki tinggi sekitar 0,4-0,8 m dan tidak mempunyai batang. Daun eceng gondoktunggal dan berbentuk oval, ujung dan pangkalnya meruncing , pangkal dan tangkai menggembung, permukaan daunya licin dan berwarna hijau. Bunga eceng gondok termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir kelopaknya berbentuk tabung. Biji eceng gondok berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau serta akarnya merupakan akar serabut sutikno (1997).
Eceng gondok diketahui mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga dapat tumbuh dengan cepat pada keadaan kurang subur serta dapat memanfaatkan pula kesuburan yang tinggi. Disamping itu eceng gondok memiliki masa yang besar, tumbuh mengapung diatas permukaan air sehingga mudah dipanen dibandingkan tanaman air lainya. Eceng gondok merupakan tanaman pengganggu yang sulit diberantas. Tumbuhan ini hampir hidup disemua perairan saerah tropis maupun subtropis, banyak kerugian yang dapat disebabkan eceng gondok, antara lain mengangu irigasi dan pembangkit listrik tenaga air serta bidang perikanan sutikno( 1997).
Eceng gondok memiliki kemampuan tinggi dalam menetralkan senyawa-senyawa toksi dalam perairan diantaranya seyawa fenol sebesar 160 kg/ha selama 72 jam, fosfat 157 kg/ha, nitrat 693 kg/ha dan ammonium sebanyak 50 mg/liter selama kurang lebih 15 hari. Selain itu, akar tanaman ini menghasilkan zat alleopathy yang mengandung zat antibiotoka dan juga mampu membunuh bakteri coli. Eceng gondok mempunyai kemampuan menyerap logam berat. Kemampuan ini telah diteliti di laboratorium Biokimia, Institut Pertanian Bogor, dengan hasil yang sangat luar biasa yaitu menetralkan pencemaran, tanaman ini juga mampu menjernihkan/menurunkan kekeruhan suatu perairan hingga 120 mg/liter silika selama 48 jam sehingga cahaya matahari dapat menembus perairan dan dapat meningkatkan produkrtiviatas perairan melalui proses fotosintesis bagi tanaman air lainnya. Selain dapat menyerap logam berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida, contohnya residu 2.4-D dan paraquat.
Disamping memiliki banyak manfaat, enceng gondok juga dapat merugikan bagi perairan. Eceng gondok ( Eihornia crassipes) merupakan tanaman gulma di wilayah perairan yang hidup terapung pada air yang dalam atau mengembangkan perakaranya di dalam Lumpur pada air yang dangkal. Eceng gondok berkembang biak dengan sangat cepat, baik secara vegetatif maupun generatif. Perkembangbiakan dengan cara vegetatif dapat melipat ganda dua kali dalam waktu 7-10 hari ( pasaribu dan Sahwalita 2006). Eceng gondok dapat tumbuh sangat cepat pada danau maupun waduk sehingga dalam waktu yang singkat dapat mengurangi oksigen perairan, mengurangi fitoplankton dan zooplankton serta menyerap air sehingga terjadi proses pendangkalan, bahkan dapat menghambat kapal yang berlayar pada waduk. Meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat. Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens). Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan. Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya. Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia dan menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.
Untuk mengeliminasi gangguan eceng gondok, misalnya, caranya bisa dengan membatasi populasinya. Pembatasan dapat dilakukan dengan membatasi penutupan permukaan waduk oleh eceng gondok tidak lebih dari 50 persen permukaannya. Akan jauh lebih baik lagi bila pembatasan populasi ini dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar. Sebab, dahan eceng gondok adalah serat selulosa yang dapat diolah untuk berbagai keperluan, seperti barang kerajinan maupun bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Namun, masyarakat tidak disarankan untuk memberikan eceng gondok sebagai pakan pada ternak karena polutan yang diserapnya bisa terakumulasi dalam dagingnya.
Akar dari tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes) mempunyai sifat biologis sebai penyaring air yang tercemar oleh berbagai bahan kimia buatan industri [ Little (1968) dan Lawrence dalam Moenandir (1990), Haider (1991) serta Sukman dan Yakup (1991) ]. Tumbuhan ini mempunyai daya regenerasi yang cepat karena potongan-potongan vegetatifnya yang terbawa arus akan terus berkembang menjadi eceng gondok dewasa. Eceng gondok sangat peka terhadap keadaan yang unsur haranya didalam air kurang mencukupi, tetapi responnya terhadap kadar unsur hara yang tinggi juga besar. Proses regenerasi yang cepat dan toleransinya terhadap lingkungan yang cukup besar, menyebabkan eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai pengendali pencemaran lingkungan. (Soerjani, 1975). Sel-sel akar tanaman umumnya mengandung ion dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari pada medium sekitarnya yang biasanya bermuatan negative. Penyerapan ini melibatkan energi, sebagai konsekuensi dan keberadaannya, kation memperlihatkan adanya kemampuan masuk ke dalam sel secara pasif ke dalam gradient elektrokimia, sedangkan anion harus diangkut secara aktif kedalam sel akar tanaman sesuai dengan keadaan gradient konsentrasi melawan gradient elektrokimia. (Foth, 1991). Di dalam akar, tanaman biasa melakukan perubahan pH kemudian membentuk suatu zat khelat yang disebut fitosiderofor. Zat inilah yang kemudian mengikat logam kemudian dibawa kedalam sel akar. Agar penyerapan logam meningkat, maka tumbuhan ini membentuk molekul rediktase di membran akar. Sedangkan model tranportasi didalam tubuh tumbuhan adalah logam yang dibawa masuk ke sel akar kemudian ke jaringan pengangkut yaitu xylem dan floem, kebagian tumbuhan lain. Sedangkan lokalisasi logam pada jaringan bertujuan untuk mencegah keracunan logam terhadap sel, maka tanaman akan melakukan detoksofikasi, misalyna menimbun logam kedalam organ tertentu seperti akar.
Menurut Fitter dan Hay (1991), terdapat dua cara penyerapan ion ke dalam akar tanaman :
1. Aliran massa, ion dalam air bergerak menuju akar gradient potensial yang disebabkan oleh transpirasi.
2. Difusi, gradient konsentrasi dihasilkan oleh pengambilan ion pada permukaan akar.
Dalam pengambilan ada dua hal penting, yaitu pertama , energi metabolik yang diperlukan dalam penyerapan unsur hara sehingga apabila respirasi akan dibatasi maka pengambilan unsur hara sebenarnya sedikit. Dan kedua, proses pengambilan bersifat selektif, tanaman mempunyai kemampuan menyeleksi penyerapan ion tertentu pada kondisi lingkungan yang luas. (Foth, 1991).



PEMANFAATAN ECENG GONDOK

Bahan Utama (Batang dan Daun)
Eceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya. Akhir-akhir ini perkembangan tumbuhan air enceng gondok di perairan sungai, danau, hingga ke perairan payau sangat pesat. Sekilas tanaman enceng gondok tidak berguna. Bagi masyarakat di sekitar pinggiran sungai, enceng gondok adalah tanaman parasit yang hanya mengotori sungai dan dapat menyebabkan sungai menjadi tersumbat atau meluap karena enceng gondok terlalu banyak. Begitu pula bagi para masyakat disekitar pinggiran danau yang menganggap enceng gondok yang banyak didanau adalah penggau yang menghalangi aktivitas mereka di danau tersebut.
Kenyataan ini yang bisa menjadikan eceng gondok dianggap sebagai tanaman penggangu, tetapi bila kita jeli mencari peluang, maka tanaman eceng gondok sangat bermanfaat untuk memberikan peluang usaha sebagai bahan dasar kerajinan (handy craft). Seiring dengan perkembangan iptek, Salah satu upaya yang cukup prospektif untuk menanggulangi gulma eceng gondok di kawasan perairan danau adalah dengan memanfaatkan tanaman eceng gondok, terutama bagian batang dan daunnya untuk kerajinan seni, karena batang dan akarnya banyak mengandung serat-serat yang mudah untuk diolah. Eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas karena mengandung serat/selulosa (Joedodibroto, 1983). Pulp eceng gondok yang dihasilkan berwarna coklat namun dapat diputihkan dengan proses pemutihan (bleaching). Pulp juga dapat menyerap zat pewarna yang diberikan dengan cukup baik, sehingga berbagai variasi warna kertas dapat dihasilkan melalui proses ini bagian tumbuhan eceng gondok setelah dikeringkan ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tas wanita yang cantik, kopor, sendal, keranjang (tempat pakaian bekas), tatakan gelas, tikar, nampan dan sebagainya. Malah belakangan ini banyak dimanfaatkan untuk mendukung industri mebel den furniture, sebagai pengganti rotan yang harganya semakin melangit. Hingga saat ini sudah banyak daerah yang mampu mengembangkan eceng gondok untuk pembuatan barang-barang kerajinan, mebel den furniture. Antara lain di Purbalingga, Dl Yogyakarta, sekitar Kota Solo, Cirebon, Lampung, Surabaya dan Bali. Bahkan sebagian barang-barang kerajinan eceng gondok dengan model dan kualitas tertentu, banyak diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat yang semakin gandrung dengan barang-barang produksi dari bahan-bahan alami (back to nature).
Pembuatan handy craft dari bahan eceng gondok ini dibutuhkan proses yang cukup lama. Eceng gondok terlebih dahulu harus dikeringkan sekitar dua minggu. Setelah eceng gondok mengering lalu dibentuk kepangan panjang yang dilakukan warga dan kelompok perajin. Setelah berbentuk kepangan panjang, eceng-eceng tersebut dianyam menjadi barang yang diinginkan. Mulai dari pot bunga, tempat sampah, box tissue, tas, topi, perlengakapan dapur hingga furniture. Untuk lebih meningkatkan daya tarik pembeli, hasil anyaman tersebut ditambahakan cat pernis. Sehingga, tampilannya lebih mengkilap dan menarik.
Rata-rata kerajinan ini dijual di pasaran dengan harga mulai dari Rp 15 ribu hingga 5 juta. Tergantung dari ukuran barang dan tingkat kesulitan anyaman.
Berikut adalah langkah-langkah dalam pembuatan karya kerajinan tangan dengan bahan eceng gondok :
• Pengumpulan eceng gondok
• Pemisahan pangkal tangkai
• Pengeringan pangkal tangkai
• Penguliran
• Pembentukan/penganyaman jadi karya seni (Tas, hiasan dinding, dompet, kursi dll)

Limbah atau sisa dari pohon eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang sudah tidak terpakai, jika diolah dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk, mulsa, media semai, pakan ternak, dan pulp/kertas. Di Jawa Tengah dan di Balige sendiri sudah dikembangkan sebagai bahan baku anyaman. Peluang bisnis ini relative lebih potensial jika dikembangkan di perkotaan. Merupakan suatu tantangan berbagai stakeholder untuk mencarikan sasaran target-target pemasarannya (Muladi, 2001). Menurut penelitian, Eceng Gondok kaya asam humat yang menghasilkan Senyawa Fitohara yang mampu mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Selain itu Eceng Gondok juga mengandung Asam Sianida, Triterpenoid, Alkaloid, dan kaya Kalsium.Pembuatan pupuk Eceng Gondok yang pertama sisa dari batang, daun dan akar yang tidak terpakai lagi dicacah, campur 10% dedak halus tambahkan Em-4 kemudian tutup pakai terpal plastik selama 4 hari. Selanjutnya, suhu akan meningkat 50 derajat celcius yang menandakan proses fermentasi tengah berlangsung. Fermentasi selesai setelah suhu menurun hingga 30 derajat celcius. Pemanfaatan pupuk organik Eceng Gondok untuk pemupukan beragan jenis sayuran seperti Bayam, Cabe, Tomat, Terong dan buah-buahan. Semoga langkah Bapak Sayadih menginspirasi masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai sehingga akan lahir Sayadih-Sayadih lainnya yang peduli terhadap nilai estetika lingkungan perairan yang ada. Karena sesungguhnya masih banyak lagi manfaat Eceng Gondok tersebut, misalnya sebagai bahan pembuatan kertas, perabotan, kerajinan tangan, sebagai media pertumbuhan bagi jamur merang, dsb.

KELUARAN ECENG GONDOK
Eceng gondok masuk ke Indonesia dari Brazilia. Tumbuhan ini mempunyai tinggi 0,3-0,5 m, terapung jika tumbuh di perairan dalam, sedangkan di perairan dangkal akarnya tumbuh di permukaan tanah. Eceng gondok memperbanyak diri secara vegetatif, membentuk kelompok mengapung di atas air. Perkembangannya sangat cepat dan "rakus" minum air. Eceng gondok mampu menyusutkan air waduk Saguling antara 3 sampai 4 kali lebih cepat dibanding jika tidak ada eceng gondoknya. Dari sifat inilah eceng gondok cepat menutupi daerah-daerah perairan air tawar, dan menjadi gulma yang sangat sulit dimusnahkan, menutupi seluruh permukaan air sehingga sinar matahari tidak bisa masuk ke dalam air, dan juga menyumbat saluran-saluran air. Perkembangbiakannya yang demikian cepat menyebabkan tanaman eceng gondok telah berubah menjadi tanaman gulma di beberapa wilayah perairan di Indonesia. Di kawasan perairan danau, eceng gondok tumbuh pada bibir-bibir pantai sampai sejauh 5-20 m. Perkembangbiakan ini juga dipicu oleh peningkatan kesuburan di wilayah perairan danau (eutrofikasi), sebagai akibat dari erosi dan sedimentasi lahan, berbagai aktivitas masyarakat (mandi, cuci, kakus/MCK), budidaya perikanan (keramba jaring apung), limbah transportasi air, dan limbah pertanian.
Salah satu upaya yang cukup prospektif untuk menanggulangi gulma eceng gondok di kawasan perairan danau adalah dengan memanfaatkan tanaman eceng gondok untuk kerajinan kertas seni. Eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas karena mengandung serat/selulosa (Joedodibroto, 1983). Pulp eceng gondok yang dihasilkan berwarna coklat namun dapat diputihkan dengan proses pemutihan (bleaching). Pulp juga dapat menyerap zat pewarna yang diberikan dengan cukup baik, sehingga berbagai variasi warna kertas dapat dihasilkan melalui proses ini. Kertas seni yang dihasilkan selanjutnya dapat digunakan untuk pembuatan berbagai barang kerajinan seperti kartu undangan, figura, tempat tissue dan perhiasan. Pengusahaan kertas seni seperti halnya di kawasan wisata Danau Singkarak, Sumatera Barat memiliki beberapa keuntungan. Pertama, upaya tersebut merupakan alternatif yang sangat baik untuk mengontrol pertumbuhan gulma eceng gondok di kawasan perairan Danau Singkarak. Pengusahaan ini tentunya akan didukung oleh pemerintah daerah setempat karena berdampak positif terhadap upaya pelestarian kawasan perairan Danau Singkarak. Apabila industri kerajinan eceng gondok tersebut berkembang, maka masyarakat pengrajin akan memanen gulma tersebut dari kawasan perairan danau sebagai sumber bahan bakunya. Kedua, pengembangan industri kerajinan tersebut juga akan menyediakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar sehingga akan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Terakhir, berkembangnya industri kerajinan di kawasan wisata Danau Singkarak akan memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat dengan penyediaan berbagai cenderamata yang berdampak positif terhadap pengembangan sektor wisata di wilayah tersebut.


respon Konsumen
Pemanfaaatan eceng gondok dan kertas bekas sebagai kertas seni sudah dilakukan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera dengan hasil yang cukup memuaskan. Teknologi pengolahannya sangat sederhana, sehingga sangat mudah diadopsi oleh masyarakat sekitar danau. Peluang bisnis kertas seni ini cukup potensial dikembangkan di sekitar Danau Toba sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang memerlukan berbagai jenis souvenir etnik. Pemanfaatan eceng gondok ini memiliki fungsi ganda yaitu dalam rangka mengendalikan gulma di perairan dan sebagai bahan baku souvenir berbahan dasar kertas seni.
Sebenarnya bisnis kertas seni sudah lama digeluti orang-orang yang disebut dengan produk kertas daur ulang. Bisnis ini sudah mulai dikenal luas dan diminati oleh masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di perkotaan. Produk ini sudah banyak ditemui di etalase-etalase toko berupa souvenir cantik dan bernilai seni tinggi. Di perkotaan bisnis ini banyak dilakukan oleh kaum muda, mahasiswa, dan kelompok pengrajin lainnya. Bisnis kertas seni berbahan eceng gondok dan kertas bekas ini sebenarnya suatu inovasi menggabungkan dua kepentingan. Di satu sisi produk berbahan eceng gondok ini menghasilkan kertas dengan nilai seni yang relatif lebih indah dan di sisi lain adalah upaya pengendalian gulma eceng gondok di perairan Danau Toba. Kata kunci dari bisnis ini adalah punya kemauan besar, kreatif, dan ingin maju. Kerajinan ini sebenarnya merupakan aktivitas sederhana, tapi hasilnya luar biasa dan bernilai positif. Dengan sedikit sentuhan seni, kegiatan tersebut bias menjadi sebuah produk karya seni yang laku di pasaran dengan harga tinggi. Produk-produk ini sudah mulai diusahakan masyarakat dalam skala industri rumah tangga (home industry) sampai skala menengah. Sebagian besar dari produk kertas daur ulang ini adalah sebagai barang kerajinan atau cenderamata. Berbagai produk yang biasa diproduksi dari bahan ini antara lain kartu-kartu ucapan, hiasan dinding, tempat pensil, amplop, blocknote, figura foto, dan lain sebagainya.
Eceng gondok jika diolah dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk, mulsa, media semai, pakan ternak, dan pulp/kertas. Di Jawa Tengah dan di Balige sendiri sudah dikembangkan sebagai bahan baku anyaman. Peluang bisnis ini relative lebih potensial jika dikembangkan di perkotaan. Merupakan suatu tantangan berbagai stakeholder untuk mencarikan sasaran target-target pemasarannya (Muladi, 2001).
Dalam rangka mendukung kelestarian danau dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitarnya, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera telah melaksanakan kegiatan workshop pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku kertas seni. Kegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Tobasa pada tahun 2004. Dari kegiatan ini telah terbentuk kelompokkelompok pengrajin pemanfaatan eceng gondok di sekitar Danau Toba.

menurut saudara apa yang perlu ditambahkan?