Jumat, 14 Mei 2010

PENGGUNAAN BIOKATALISATOR PADA BUDIDAYA UDANG GALAH

PENGGUNAAN BIOKATALISATOR PADA BUDIDAYA UDANG GALAH
Murtiati, K. Simbolon, T. Wahyuni, Juyana
Abstrak
Pemanfaatan biokatalisator baik itu berupa hewan maupun tumbuhan akan bermanfaat untuk
mengatasi terjadinya penurunan lingkungan. Salah satu diantaranya dengan pemanfaatan ikan jenis plankton
diharapkan dapat mengurangi blooming plankton.
Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan mengetahui efektifitas penggunaan ikan sebagai biokatalisator
kolam pembesaran udang galah, sedang target yang ingin dicapai adalah informasi teknik penggunaan
sebagai biokatalisator pada pembesaran udang galah
Kegiatan ini dilakukan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi, mulai bulan
hingga Desember 2006. Wadah yang digunakan pada kegiatan adalah berupa kolam tanah dengan
200 m2. Hewan uji yang digunakan adalah ikan bandeng dan benih tokolan udang galah.
Metode yang dilakukan pada kegiatan ini : ikan dipelihara dalam dalam hapa yang diletakkan pada
kolam sejumlah 3 buah. Ikan ditanam dalam hapa ukuran 2 x 2 x 1 m3 dengan padat tebar 100 ekor/
kolam pemeliharaan udang, dan tanpa pemberian pakan karena diharapkan ikan cukup memanfaatkan
plankton yang tumbuh di kolam.
Parameter yang diamati adalah parameter kualitas air yang meliputi : suhu, pH, DO, CO2, Alkalinitas,
NO2-N, NO3-N, PO4-P, kelimpahan plankton. Sebagai data pendukung dilakukan sampling satu bulan
untuk mengetahui pertumbuhan hewan uji yaitu udang dan bandeng.
Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan ikan sebagai biokatalisator ada kecenderungan untuk
menjaga keseimbangan lingkungan dalam menjaga kestabilan kelimpahan plankton dan beberapa parameter
dan kimia air seperti : pH air, oksigen terlarut, amoniak, nitrit dan nitrat. Sintasan udang mencapai
80,16) % dan sintasan bandeng berkisar (31,25-48,75) %.
PENDAHULUAN
belakang
Udang galah (Macrobrachium rosenbergii De
merupakan komoditas air tawar yang memiliki
ekonomis tinggi serta pangsa pasar yang besar
untuk konsumsi lokal maupun ekspor.
Usaha budidaya udang galah dewasa ini
mengalami perkembangan yang cukup
menggembirakan baik perluasan lahan pemeliharaan
berkembangnya sistem polikultur di lahan
. Namun pada kenyataannya keterbatasan
benih dan stok yang tidak kontinyu ternyata
menjadi kendala utama dalam usaha
pengembangan budidaya udang galah.
Masalah teknis yang dihadapi pada
perkembangan budidaya udang adalah ketidak
sesuaian konstruksi kolam, tidak cukupnya pasokan
air, belum terdapatnya teknologi produksi yang
guna, sebagai contoh pengolahan tanah dasar tambak
dan teknik pembesaran. Menurut Murjiyo (1998),
permasalahan yang dihadapi pada tahun 1980-
adalah teknik pembesaran untuk mencapai ukukan
yang ditargetkan dan produksi maksimum, serta untuk
mengoptimumkan penggunaan pakan
meminimumkan tingkat kematian udang selama
pemeliharaan. Sedang pada akhir-akhir ini kegagalan
produksi banyak disebabkan oleh timbulnya penyakit
dan penurunan kualitas lingkungan.
Penurunan kualtas lingkungan pada umumnya
disebabkan oleh pencemaran dari luar
Jurnal Budidaya Air Tawar Volume 4 No. 1 Mei 2007 (19-26)
pengotoran karena kegiatan budidaya. Pencemaran
dari luar budidaya meliputi antara lain : buangan
industri, buangan dari kegiatan pertanian dan buangan
rumah tangga. Selain itu pengotoran karena kegiatan
budidaya itu sendiri, yaitu berupa sisa pakan dan
buangan dari proses metabolisme hewan yang
dibudidayakan. Apabila masukan buangan ini
berlangsung terus menerus akan memberikan dampak
negatif terhadap lingkungan budidaya, yaitu terjadi
blooming plankton yang pada akhirnya akan
menyebabkan kegagalan panen.
Pemanfaatan biokatalisator baik itu berupa
hewan maupun tumbuhan akan bermanfaat untuk
mengatasi terjadinya penurunan lingkungan. Salah
satu diantaranya dengan pemanfaatan ikan jenis
plankton fider diharapkan dapat mengurangi blooming
plankton. Selain pemanfaatan plankton dengan
penggunaan biokatalisator berupa ikan ini akan
memberikan dampak positif lainnya yaitu
penambahan pendapatan dan produksi kegiatan
budidaya itu sendiri.
Tujuan dan Target
Tujuan
Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan
mengetahui efektifitas penggunaan ikan sebagai
biokatalisator pada kolam pembesaran udang galah.
Target
Target yang ingin dicapai adalah informasi
teknik penggunaan ikan sebagai biokatalisator pada
pembesaran udang galah dan penambahan pendapatan
hasil kegiatan budidaya udang.
TINJAUAN PUSTAKA
Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii De Man)
Udang galah (Macrobrachium rosenbergii De
Man) merupakan komoditas air tawar yang memiliki
nilai ekonomis tinggi serta pangsa pasar yang besar,
baik untuk konsumsi lokal maupun ekspor. Usaha
budidaya udang galah dewasa ini mengalami
perkembangan yang cukup menggembirakan barik
berupa perluasan lahan pemeliharaan maupun
berkembangnya sistem polikultur di lahan tambak.
Dalam usaha merebut pasar udang galah
diperlukan adanya kesinambungan produksi, sehingga
diperlukan adanya suplai benih udang galah dalam
jumlah yang mencukupi dan tepat waktu. Namun
kenyataannya keterbatasan jumlah benih dan stok
yang tidak kontinyu ternyata masih menjadi kendala
utama dalam usaha pengembangan budidaya udang
galah. Ketidak kontinyuan ini salah satu faktornya
adalah disebabkan oleh lingkungan media
pemeliharaan yang kurang mendukung.
Manajemen lingkungan merupakan salah satu
aspek penting yang berperan sangat besar dalam
keberhasilan usaha pembenihan udang galah.
Sebagaimana hewan akuatik lainnya, aktivitas hudip
udang galah sangat dipengaruhi oleh faktor
lingkungannya, bahkan udang galah memiliki
kerentanan yang tinggi terhadap kualitas media
pemeliharaan yang kurang baik (Hadie & Hadie,
1993). Proses ganti kulit (moulting) pada udang galah
yang merupakan kondisi rentan terhadap perubahan
lingkungan dan serangan patogen, juga menjadi dasar
pentingnya manajemen lingkungan pemeliharaan
secara seksama.
Produk Probiotik
Probiotik adalah mikroba yang merupakan bahan
tambahan di peraian (Moriarty, 1998). Umumnya
bakteri probiotik terdiri dari bakteri nitrifiying dan
atau bakteri heterotrofik (Gatesoup, 1999). Bakteri
heterotrofik adalah bakteri yang mengkonsumsi
oksigen untuk mengahsilkan karbodioksida dan
amoniak pada saat proses oksidasi. Sedangkan bakteri
autrofik nitrtiying mengkonsumsi oksigen dan
karbondioksida pada saat oksidasi amoniak dengan
produk akhirnya nitrat (Moriarty, 1996)
Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah
(Murtiati, K. Simbolon, T. Wahyuni, Juyana)
21
Menurut Stark dan Wilson (1986) dalam Adang
(1999), probitotik adalah mikroorganisme hidup non
phatogen yang diberikan pada hewan untuk perbaikan
laju pertumbuhan, efesiensi konsumsi ransum dan
kesehatan hewan. Selanjutnya Fuller (1989) dalam
Gandara (2003) mengatakan bahwa probiotik adalah
feed additive berupa mikroba hidup menguntungkan
yang mempengaruhi induk semang melalui perbaikan
keseimbangan mikroorganisme dalam salyran
pencernaan.
Probiotik dapat berupa satu atau beberapa jenis
mikroorganisme (mikroorganisme tunggal atau kultur
campuran). Spesies yang sering digunakan adalah
Lactobacillus sp., Leuconoctoc sp., Pedioccus sp.,
Propinibactereium sp. dan Bacillus sp. Daari spesies
ragi meliputi Saccharomyces cerevissiae dan Candida
pintolopesi, serta jamur meliputi Aspergillus niger dan
Aspegillus oryzae (Fuller, 1992 dalam Gandara 2003).
Peranan bakteri probiotik sebagai kontrol
biologis pada sistem budi daya (Garriques dan
Arevalo, 1995) adalah:
1. Menekan pertumbuhan bakteri patogen
2. Mempercepat degradasi bahan organik dan
limbah
3. Meningkatkan ketersediaan nutrisi esensial
4. Meningkatkan aktivitas mikroorganisme
indigenus yang menguntungkan pada tanaman,
misal Mycorriza, Rhizobium dan bakteri pelarut
pospat.
5. Memfiksasi nitrogen
6. Mengurangi pupuk dan pestisida
Dengan adanya probiotik maka proses degradasi
bahan organik pada dasar tambak akan lancar,
sehingga menghasilkan zat-zat yang bermanfaat bagi
pertumbuhan plankton. Bahan organik yang
mengalami mineralisasi oleh jasad pengurai
(probiotik) akan diubah menjadi bahan anorganik
seperti nitrat dan pospat. Bahan organik ini dapat
digunakan secara langsung oleh fitoplankon dalam air
untuk kelangsungan hidupnya. Fitoplankton
merupakan makanan bagi zooplankto, sehingga
jumlahnya melimpah. Hal ini menyebabkan perairan
tersebut menjadi subur. Zooplankton merupakan
pakan alami bagi sebagian besar larva ikan, termasuk
larva ikan mas. Dengan demikian maka ketersediaan
pakan alami bagi ikan akan tetap terjaga.
Biokatalisator
Biokatalisator adalah pemanfaatan organisme/
makhluk hidup yang digunakan sebagai penyeimbang
di dalam suatu kegiatan. Biokatalisator di dalam dunia
perikanan dapat berupa bahan bioremedian atau
beberapa jenis ikan yang bersifat pemakan plankton
atau tanaman air lainnya. Beberapa jenis ikan yang
dapat digunakan sebagai biokatalisator diantaranya
adalah tilapia, bandeng atau belanak. Biokatalisator
ini nyata membantu mempertahankan kondisi air
kolam dan menimbulkan green water. Ikan dapat
ditebar dengan kepadatan 5000-1000 ekor/ha
BAHAN DAN METODE
Bahan
Bahan yang digunakan pada kegiatan ini hewan
uji ikan bandeng air tawar ukuran 5-8 cm, benih
tokolan udang galah ukuran 10 gram, bahan kimia
untuk analisa kualitas air, pakan udang, pupuk, kapur
dan probiotik.
Peralatan yang digunakan berupa peralatan
perikanan meliputi : waring, lambit, scop net, kawat
saringan dan lain-lain, peralatan analisa air yang teridi
dari : pipet, erlenmeyer, becker glass, buret, tabung
nessler, botol sampel, serta alat-alat lain dibutuhkan.
Metode
Kegiatan ini dilakukan di Balai Besar
Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi, mulai
bulan Maret hingga Desember 2006. Wadah yang
digunakan pada kegiatan adalah berupa kolam tanah
Jurnal Budidaya Air Tawar Volume 4 No. 1 Mei 2007 (19-26)
22
dengan ukuran 200 m2. Hewan uji yang digunakan
adalah ikan bandeng dan benih tokolan udang galah.
Perlakuan adalah sistem polikultur dengan satu
perlakuan dan kontrol, sedang ulangan digunakan
dengan ulangan waktu. Lama pemeliharaan selama 4
bulan. Pengelolaan kolam dengan pemberian pupuk
yang di fermentasi dengan probiotik selama 7 hari,
selanjutnya dimasukan air dan tiga hari kemudian
dimasukan ikan.
Udang ditebar di kolam dengan padat tebar 10
ekor/m2. Pemberian pakan untuk udang berupa pellet
udang, dosis pemberian pakan 3% meningkat, dengan
frekuensi pemberian pakan sebanyak 5 kali sehari.
Sedang untuk ikan dipelihara dalam dalam hapa
yang diletakkan pada sisi-sisi kolam sejumlah 3 buah.
Ikan ditanam dalam hapa ukuran 2 x 2 x 1 m3 dengan
padat tebar 100 ekor/m2. Pemberian pakan untuk tidak
dilalukan untuk ikan, karena diharapkan ikan cukup
memanfaatkan plankton yang tumbuh di kolam.
Parameter yang diamati adalah parameter
kualitas air yang meliputi : suhu, pH, DO, CO2,
Alkalinitas, NH3-N, NO2-N, NO3-N, PO4-P,
kelimpahan plankton. Sebagai data pendukung
dilakukan sampling satu bulan sekali untuk
mengetahui pertumbuhan hewan uji yaitu udang dan
bandeng.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dari kegiatan pemanfaatan biokatalisator
berupa ikan bandeng pada pemeliharaan udang galah
terhadap kondisi kualitas air kolam, di peroleh hasil
sebagai berikut :
Pengamatan Kualitas Air
Pengukuran Suhu Air
Dari hasil pengukuran suhu selama uji coba
tersebut menunjukkan bahwa pada minggu 1 suhu
cenderung rendah rata-rata 230C, ini terjadi terjadi
pada ketiga perlakuan minggu ke 2 mulai naik sampai
250C. Namun kemudian pada minggu ke 3 turun dan
stabil sampai pada minggu ke 7, selanjutnya naik
kembali mencapai kisaran 25-26,50C dan pada akhir
percobaan menunjukkan kecenderungan menurun
(Gambar 1).
Gambar 1. Fluktuasi Suhu selama kegiatan
Hasil pengukuran suhu menunjukkan bahwa
suhu antar kolam uji tidak menunjukkan perbedaan,
yaitu pada kontrol berkisar antara 23,0-26,70C, pada
perlakuan biokatalisator ikan bandeng dan probiotik
EM4 berkisar 21,0-26,20C dan pada
Perlakuan biokatalisator ikan bandeng dan
probiotik MBPI berkisar 22,0-26,50C. Nilai kisaran
suhu dari hasil pengamatan ini masih memenuhi
kisaran yang layak untuk pertumbuhan ikan, namun
belum optimal. Menurut Effendi, H (2003) kisaran
optimal untuk menunjang pertumbuhan ikan berkisar
25-30 0C.
Penggunaan biokatalisator ikan bandeng dan
pemberian probiotik EM4 maupun MBPI tidak
memberikan pengaruh nyata terhadap suhu
Pengukuran pH Air
Nilai pH (derajat keasaman) selama kegiatan
berlangsung menunjukkan bahwa nilai pH pada kolam
perlakuan (B & C) relatif stabil berkisar 6-8, sedang
pada kolam kontrol (A) menunjukkan fluktuasi yang
cenderung lebar yaitu berkisar antara 6 sampai 9.
Fluktuasi Suhu
21
22
23
24
25
26
27
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Minggu ke
Suhu (0C)
A
B
C
Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah
(Murtiati, K. Simbolon, T. Wahyuni, Juyana)
23
Hasil pengukuran pH disajikan pada Gambar 2
berikut:
Gambar 2. Fluktuasi pH selama Kegiatan
Penggunaan biokatalisator ikan bandeng dan
probiotik EM4 serta MBPI tidak memberikan
perbedaan terhadap nilai pH. Hal ini terlihat bahwa
nilai pH antar kolam uji dan kontrol menunjukkan
pola yang sama dan berada pada kisaran yang layak
untuk kehidupan ikan. Boyd (1982) menyatakan
bahwa kisaran pH yang dapat menunjang
pertumbuhan ikan adalah 6.5-9. Nilai kisaran pH pada
kontrol 6,0-8,6; pada kolam perlakuan biokatalisator
ikan bandeng dan EM4 berkisar 6,0-7,99; sedang pada
kolam perlakuan biokatalisator ikan bandeng dan
MBPI berkisar 6,0-8,52.
Pengukuran Oksigen Terlarut (DO2) Air
Hasil pengukuran kandungan oksigen terlarut
menunjukkan bahwa pada kolam kontrol konsentrasi
oksigen terlarut berkisar 1,24-4,84 mg/L; kolam
perlakuan biokatalisator ikan bandeng dan EM4 (B)
berkisar 0,85-8,24 mg/L; sedang kolam perlakuan
biokatalisator ikan bandeng dan MBPI berkisar 1,23-
5,89 mg/L. Nilai kisaran pada ketiga kolam uji masih
dalam batas kelayakan untuk pertumbuhan ikan.
Namun demikian terlihat bahwa kolam perlakuan
dengan biokatalisator ikan bandeng dan probiotik
EM4 maupun MBPI (C) memberikan pengaruh yang
baik pada peningkatan kadar oksigen terlarut, yaitu
pada kolam perlakuan ikan bandeng dan EM4
konsentrasi tertinggi mencapai 8,24 mg/l dan pada
kolam perlakuan ikan bandeng dan MBPI 5,89 mg/l.
Perlakuan biokatalisator ikan bandeng dan probiotik
EM4 memberikan pengaruh lebih baik dari perlakuan
biokatalisator ikan bandeng dan MBP-I. Hasil
pengukuran oksigen terlarut disajikan pada Gambar 3.
Gambar 3. Fluktuasi O2 terlarut selama Kegiatan
Pengukuran Amoniak (NH3-N)
Hasil pengukuran kandungan ammonia (Gambar
4) menunjukkan kisaran konsentrasi yang cukup lebar,
yaitu pada kolam kontrol berkisar 0,044-2,05 mg/L;
0,015-2,24 mg/L untuk kolam perlakuan
biokatalisator dan probiotik EM4; dan 0,03-2,04 mg/l
untuk kolam perlakuan biokatalisator dan probiotik
MBPI. Dari ketiga data ini dapat dilihat bahwa kolam
perlakuan biokatalisator dan probiotik MBPI,
kandungan ammonia cenderung lebih rendah daripada
kolam kontrol maupun kolamperlakuan biokatalisator
dan MBPI. Namun secara keseluruhan, konsentrasi
maksimum pada ketiga kolam relatif tinggi dan telah
melebihi kisaran yang disarankan untuk pemeliharaan
ikan yaitu < 1 mg/l (Pescod, 1973).
Fluktusi Oksigen
0.000
1.000
2.000
3.000
4.000
5.000
6.000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Minggu ke
K ons e ntra s i (m g/l)
A
B
C
Fluktuasi Ammonia
0.000
0.500
1.000
1.500
2.000
2.500
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Minggu ke-
Konsentrasi (mg/L)
A
B
C
Fluktuasi pH
0
2
4
6
8
10
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Minggu ke
N ila i pH
A
B
C
Jurnal Budidaya Air Tawar Volume 4 No. 1 Mei 2007 (19-26)
24
Gambar 4. Fluktuasi Amoniak (NH3-N) Terlarut
selama Kegiatan
Pengukuran Nitrit (NO2-N)
Konsentrasi nitrit pada kolam kontrol, kolam
perlakuan biokatalisator + EM4, dan kolam perlakuan
biokatalisator + MBPI berturut-turut adalah 0.022-
0.254 mg/l, 0.018-0.382 mg/l dan 0.023-0.178 mg/l.
Konsentrasi nitrit maximum yang diperbolehkan
dalam kegiatan budidaya ikan adalah < 0.06 mg/l
(Effendi, H, 2003). Dari hasil tersebut menunjukkan
bahwa perlakuan biokatalisator dan probiotik MBPI
memberikan pengaruh lebih baik dibandingkan
perlakuan biokatalisator dan probiotik EM4
(Gambar 5).
Gambar 5. Fluktuasi Nitrit (NO2-N) Terlarut
selama Kegiatan
Pengukuran Nitrat (NO3-N)
Gambar 6. Fluktuasi Nitrat (NO2-N) Terlarut
selama Kegiatan
Konsentrasi nitrat maksimum pada kolam
kontrol, yaitu berkisar 0,03-4,2 mg/L. Sedangkan
kandungan nitrat pada kolam perlakuan biokatalisator
+ probiotik MBPI lebih besar daripada kolam
perlakuan biokatalisator + EM4 (Gambar 6).
Keberadaan nitrat yang tinggi tidak membahayakan
bagi kehidupan ikan bahkan menunjukkan tingkat
kesuburan kolam. Dengan demikian, dapat dilihat
bahwa kolam perlakuan biokatalisator + probiotik
MBPI cenderung lebih subur daripada kolam
perlakuan biokatalisator + probiotik EM4.
Pengukuran CO2 (karbondioksida)
Konsentrasi karbondioksida pada kolam
perlakuan biokatalisator relatif lebih tinggi
dibandingkan kolam kontrol, yaitu 0-39,9 mg/L pada
kolam kontrol; 2,2-55,4 mg/L pada kolam perlakuan
biokatalisator ikan bandeng dan EM4; dan 4,4-52,8
mg/L pada kolam perlakuan biokatalisator dan MBPI.
Hal ini diduga karena ikan bandeng dan probiotik
dapat meningkatkan laju dekomposisi bahan organik
sehingga dapat meningkatkan konsentrasi
karbondioksida sebagai produk akhir. Nilai kisaran
karbondioksida pada ketiga kolam uji masih layak
untuk pertumbuhan ikan. Kandungan karbondioksida
yang baik untuk pertumbuhan ikan adalah tidak lebih
dari 5 mg/l, dan apabila oksigen tinggi ikan masih
dapat mentolerir kandungan karbondioksida kurang
dari 60 mg/l (Boyd, 1982).
Pengukuran PO4-N (Phosfat)
Kandungan phosfat pada perairan juga
menunjukkan tingkat kesuburan kolam. Kandungan
phosfat pada kolam perlakuan masih lebih rendah
daripada kolam kontrol. Namun bila dibandingkan
antara kolam perlakuan biokatalisator + probiotik
EM4 (berkisar 0-7,4mg/L) dan kolam perlakuan
biokatalisator + probiotik MBPI (0-9 mg/L)
menunjukkan kolam perlakuan biokatalisator +
probiotik MBPI cenderung lebih subur daripada
kolam perlakuan biokatalisator + probiotik EM4.
Hasil pengukuran kisaran dan rataan kualitas air
selama kegiatan disajikan pada Tabel 1, berikut :
Fluktuasi Nitrit
0.000
0.050
0.100
0.150
0.200
0.250
0.300
0.350
0.400
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Minggu ke-
Konsentrasi (mg/L)
A
B
C
Fluktuasi Nitrat
0.000
0.200
0.400
0.600
0.800
1.000
1.200
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Minggu ke-
Konsentrasi (mg/L)
A
B
C
Penggunaan Biokatalisator pada Budidaya Udang Galah
(Murtiati, K. Simbolon, T. Wahyuni, Juyana)
25
Tabel 1. Nilai Kisaran dan Rataan Kualitas Air
SUHU pH O2 CO2 ALKALI NH3 NO2 NO3 PO4 KEC
PERLAKUAN
(0C) (-) (mg/l) (mg/l) (mg/ l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (mg/l) (cm)
A (Kontrol) MAX 26.7 8.6 4.84 39.9 81.6 2.05 0.264 4.1 10 30
MIN 23 6 1.24 0 37.5 0.044 0.022 0.03 0.04 19
RATAAN 24.10 7.52 3.58 13.18 58.26 0.456 0.099 0.653 2.970 12.43
B (EM-4) MAX 26.2 7.99 8.24 55.4 96.6 2.24 0.382 1.25 7.4 40
MIN 21 6 0.85 2.2 30 0.015 0.018 0.04 0.032 15
RATAAN 24.38 6.81 3.38 20.71 62.15 0.430 0.137 0.504 1.573 24.17
C (MBP-I) MAX 26.5 8.52 5.89 52.8 110.5 2.04 0.178 2.8 9 31
MIN 22 6 1.23 4.4 25 0.03 0.023 0.01 0.04 12
RATAAN 24.20 7.23 3.00 19.57 64.00 0.429 0.069 0.500 2.521 21.57
Pertumbuhan Udang
Dari hasil pengukuran pertumbuhan berat dan
panjang (Tabel 2) udang menunjukkan bahwa,
pertumbuhan terbaik terlihat pada perlakuan
biokatalisator + EM-4 yaitu mencapai berat 22,78
gram dan panjang 12,66 cm. Sedang pertumbuhan
paling rendah pada perlakuan kontrol, yang hanya
mencapai berat 11,51 gram dan panjang 9,93 cm
Tabel 2. Hasil Pertumbuhan pada Awa
dan Akhir Kegiatan
AWAL AKHIR
PERLAKUAN BERAT
(g)
PANJANG
(cm)
BERAT
(g)
PANJANG
(cm)
A (Kontrol) 2.94 6.69 11.51 9.93
B (EM-4) 2.94 6.69 22.78 12.66
C (MBP-I) 2.94 6.69 15.28 11.38
Sintasan udang
Sintasan udang tertinggi pada perlakuan B
(Biokatalisator+EM-4) yaitu mencapai 80,16%,
sedang pada perlakuan C (Biokatalisator+MBP-I)
mencapai 68,16% dan sintasan terendah pada kontrol
yaitu hanya mencapai 651,11%. Perlakuan
pemanfaatan biokatalisator yang dipadukan dengan
probiotik diduga memberikan pengaruh yang baik
terhadap kestabilan media pemeliharaan, sehingga
menghasilkan sintasan udang yang cukup baik
(Tabel 3).
Tabel 3. Sintasan Udang Galah
PERLAKUAN
TEBAR AWAL
(ekor)
PANEN
(ekor)
SINTASAN
(%)
A (Kontrol) 6300 3850 61.11
B (EM-4) 3604 2889 80,16
C (MBP-I) 5936 4050 68,23
KESIMPULAN
Dari hasil kegiatan yang telah diuraikan
sebelumnya, kesimpulan yang dapat diambil adalah :
􀁸 Effektifitas ikan bandeng sebagai biokatalisator
menunjukkan kecenderungan positif terhadap
beberapa nilai parameter kualitas air, yaitu pH,
oksigen terlarut, nitrit dan nitrat.
􀁸 Sintasan udang mencapai 68,23-80,16%
􀁸 Sintasan bandeng 31,25-48,75%
DAFTAR PUSTAKA
Boyd, C.E. 1982. Water Quality Management for Pond Fish
Culture. Elsevier sci.Publ Co Amesterdam
Moriarty, D.J.W. 1996. Microbial Biotechnology : a key
Inggradient for sustainable Aaquaculture. Infofish
International.
Wididana,. G.H, K. Riyanto 1986. Tanya Jawab Teknologi
Efektive Microorganisme. Koperasii Karyawan
Departemen Kehutanan, Jakarta.

Senin, 10 Mei 2010

KLASIFIKASI IKAN

1. Ikan Mas Cyprinus carpio
Klasifikasi ikan mas Saanin (1984) dalam Sulistio (2001) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio L



Ikan Mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang dan agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (barbels) yang kadang-kadang satu pasang diantaranya rudimenter, ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata, 1983 dalam Wibawa, 2003).


2. Ikan Nila Oreochromis niloticus
Berdasarkan sistematika yang terdapat pada Tilapias; Taxonomy and Specification oleh Trewavas, 1982 (Saanin dalam Wibawa 2003) mengklasifikasikan ikan Nila sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Osteichtes
Sub kelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percormorphii
Sub ordo : Percoidae
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : O. niloticus


Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompress) dengan profil empat persegi panjang ke arah anterior posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah type ctenoid. Ikan nila (Oreochromis niloticus) juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, beitu pula pada bagian analnya. Dengan posisi sirip anal dibelakang sirip dada (abdominal). (Suyanto, 1994 dalam Wibawa, 2003).
Menurut Suyanto (1994) dalam Wibawa, (2003) ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal. Nila juga dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras alirannya, di waduk, rawa, sawah, tambak air payau, atau di dalam jaring terapung di laut.
Ikan Nila merah Florida mempunyai tingkat kelangsungan hidup lebih baik pada slinitas 18 ppt dibandingkan dengan salinitas lebih rendah dan yang lebih tinggi, walaupun dapat dipelihara sampai salinitas 36 ppt (Watanabe et. al, 1990 dalam Arifin, 1995).

3. Ikan Patin Pangasius hypopthalmus
Saanin (1984) mengklasifikasi Patin Siam sebagai berikut :
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub Ordo : Siluroidei
Famili : Schilbeidae
Genus : Pengasius
Spesies : Pangasius hypopthalmus.
Selain klasifikasi dia atas, ada juga para ahli yang menglasifikasi lain, sehingga Patin Siam itu ber-spesies Pangasanodon hypopthalmus.





4. Ikan Nila Oreochromis niloticus
Berdasarkan sistematika yang terdapat pada Tilapias; Taxonomy and Specification oleh Trewavas, 1982 (Saanin dalam Wibawa 2003) mengklasifikasikan ikan Nila sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Osteichtes
Sub kelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percormorphii
Sub ordo : Percoidae
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : O. niloticus



Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompress) dengan profil empat persegi panjang ke arah anterior posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah type ctenoid. Ikan nila (Oreochromis niloticus) juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, beitu pula pada bagian analnya. Dengan posisi sirip anal dibelakang sirip dada (abdominal). (Suyanto, 1994 dalam Wibawa, 2003).
Menurut Suyanto (1994) dalam Wibawa, (2003) ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal. Nila juga dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras alirannya, di waduk, rawa, sawah, tambak air payau, atau di dalam jaring terapung di laut.
Ikan Nila merah Florida mempunyai tingkat kelangsungan hidup lebih baik pada slinitas 18 ppt dibandingkan dengan salinitas lebih rendah dan yang lebih tinggi, walaupun dapat dipelihara sampai salinitas 36 ppt (Watanabe et. al, 1990 dalam Arifin, 1995).

5. Ikan Gurami Osphronemus goramy
Gurame merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, degan morfologi bentuk badan pipih lebar, bagian punggung berwarna merah sawo dan bagian perut berwarna kekuning-kuningan. Ikan gurame merupakan keluarga anabantidae. Keturunan helostoma dan dan bangsa labyrinthici. Dinas perikanan Jakarta (1997)
Klasifikasi ikan gurame :
Klas : pisces
Subkelas : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Sub ordo : anabantoidae
Family : anabantoidae
Genus : Osphronemus
Species : Osphronemus goramy



6. Ikan lele Clarias batrachus
Di Indonesia dikenal banyak jenis lele, di antaranya lele lokal, lele dumbo, lele phiton dan lele babon (lele Kalimantan). Namun, yang dibudidayakan hanya lele lokal dan (Clarias batrachus) dan lele dumbo (Clarias gaeriepinus). Jenis yang kedua lebih banyak dikembangkan karena pertumbuhannya lebih cepat dan ukurannya lebih besar daripada lele lokal (Bachtiar, 2006).
Klasifikasi ikan lele menurut Hasanuddin Saanin dalam Bachtiar (2006) yaitu sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Sub-kingdom : Metazoa
Phyllum : Chordata
Sub-phyllum : Vertebrata
Klas : Pisces
Sub-klas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub-ordo : Siluroidea
Familia : Clariidae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias batrachus


Habitat atau tempat hidup lele dumbo adalah air tawar. Air yang baik untuk pertumbuhan lele dumbo adalah air sungai, air sumur, air tanah, dan mata air. Namun, lele dumbo juga dapat hidup dalam kondisi air yang kurang baik seperti di dalam lumpur atau air yang memiiliki kadar oksigen rendah. Hal tersebut sangat dimungkinkan karena lele dumbo memiliki insang tambahan yaitu arborescent yang terletak di bagian atas lengkung insang kedua dan ketiga terdapat kantung insang tambahan yang berbentuk seperti pohon, karenanya dinamakan arborescent organ. Organ ini dipergunakan untuk pernafasan udara sehingga memungkinkan lele dumbo untuk mengambil napas langsung dari udara dan dapat hidup di tempat beroksigen rendah. Alat ini juga memungkinkan lele dumbo untuk hidup di darat, asalkan udara di sekitarnya memiliki kelembapan yang tinggi (Bachtiar, 2006).

7. Ikan Sepat Hias colisa fasciata

Gambar 5. Ikan sepat hias colisa fasciata
Sumber : translate.google.com

Rumus sirip dorsal, V-VII (jari-jari keras atau duri) dan 8–10 (jari-jari lunak); dan sirip anal XII-XIV, 25–30. Gurat sisi 30–37 buah. Panjang standar (tanpa ekor) kira-kira 2,4 kali tinggi badan. Sepasang jari-jari terdepan pada sirip perut berubah menjadi alat peraba yang menyerupai cambuk atau pecut, yang memanjang hingga ke ekornya, dilengkapi oleh sepasang duri dan 2-3 jumbai pendek. (Weber dan de Beaufort 1922). Sekali memijah biasanya betina akan mengeluarkan 150–200 butir telur. Telur ikan akan menetas setelah 24 jam kemudian. Beberapa hari berikutnya burayak (anak-anak ikan) mulai aktif berenang. Pada saat itu hendaknya ikan jantan dipisahkan dari anak-anaknya, agar burayak-burayak itu tidak dimakannya menurut Sastrapradja et. al (1981).
Klasifikasi ikan sepat hias :
Kingdom : Animalia
Phylum : chordate
Kelas : actinopterigi
Ordo : perciformes
Family : Ospronemidae
Genus : trichogaster
Species : T. leeri

8. Sistem ketahanan ikan
Hewan air membutuhkan oksigen dalam jumlah yang berbeda – beda tergantung pada jenis, ukuran, kondisi fisiologis dan variabel lingkungan seperti suhu, kadar oksigen terlarut, kadar CO, salinitas dan lain – lain. Ikan dan organisme akuatik lain membutuhkan oksigen terlarut dengan jumlah cukup (Effendi, 2003).
Menurut Fujaya( 2004) bahwa oksigen digunakan sebagai bahan pernapasan dibutuhkan oleh sel untuk berbagi reaksi metabolisme, sedangkan menurut (Afandi dan Tang, 2002) peranan oksigen dalam kehidupan ikan merupakan zat yang mutlak dibutuhkan untuk mengoksidasi makanan (karbohidrat, lemak, dan protein) sehingga dapat menhasilkan energi .
Pertukaran antara oksigen yang masuk ke dalam darah dengan karbondioksida yang keluar dari darah terjadi dengan cara difusi pada pembuluh darah dalam insang. Peredaran darah dalam filamen merupakan pertemuan antara pembuluh darah yang berasal dari jantung yang masih banyak mengandung karbondioksida dengan pembuluh darah yang akan meninggalkan filamen insang yang kaya akan oksigen (Tim Iktiologi, 1989).
Menurut Affandi (2002), organ pernafasan ikan dibagi menjadi dua yaitu alat pernafasan akuatik (insang) dan alat pernafasan udara ( air breathing fishes). Alat pernafasan akuatik berupa insang dalam, insang luar dan permukaan tubuh. Sedangkan alat pernafasan udara biasanya merupakan alat pernapasan tambahan terdapat pd ikan yang hidup di perairan bersuhu tinggi (tropis), stagnan, dan miskin oksigen. Selain memanfaatkan oksigen terlarut dalam air, beberapa jenis ikan mampu memanfaatkan oksigen secara langsung dari udara bebas dengan cara melakukan kontak langsung dengan udara (keluar di permukaan air. Umumnya ikan – ikan yang mempunyai kemampuan seperti ini hidup pada habitat air tawar di daerah tropis yang kandungan oksigennya sedikit bahkan anoksid.
Beberapa spesies ikan mempunyai alat pernafasan tambahan yang memungkinkan mereka dapat hidup di perairan dangkal atau perairan yang kurang oksigen. Menurut Brojo (2004), alat – alat pernafasan tambahan tersebut adalah: Labirin, berupa lipatan – lipatan lembaran tulang tapis yang tersusun seperti bunga mawar yang banyak sekali mengandung kapiler – kapiler darah untuk pertukaran oksigen dengan CO2, misalnya pada ikan sepat, ikan tambakan dan ikan betok. Arborescent organ, berbentuk seperti karang misalnya pada ikan lele yang terletak pada tulang lengkung insang pertama dan ketiga. Diverticula, yaitu lipatan – lipatan kulit di permukaan rongga bagian dalam mulut dan faring, misalnya pada ikan gabus. Alat pernafasan tambahan berbentuk tabung, misalnya pada ikan Saccobranchus, sejenis ikan lele yang hidup di perairan dalam. Lipatan – lipatan kulit tipis pada dinding bagian operculum, misalnya pada ikan blodok

MENYULAP ECENG GONDOK SEHINGGA BERNILAI EKONOMIS

Menurut Sastroutomo (1990) Eceng gondok merupakan tumbuhan air yang berasal dari brazil. Tumbuhan ini menyebar keseluruh dunia dan tumbuh pada daerah dengan ketinggian berkisar antara 0-1.600 m diatas permukaan laut yang beriklim dingin. Penyebaran tumbuhan ini dapat melalui kanal, sungai dan rawa serta perairan tawar lain dengan aliran lambat. Klasifikasi eceng gondok menurut ( Rizk dan Pav 1991) sebagai berikut :
Kingdom : Embryophytasi phonogama
Filum : magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Liliales
Famili : Pontederiaceae
Genus : Eichornia
Spesies : E. crassipes
Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang kadang berakar dalam tanah. Eceng gondok memiliki tinggi sekitar 0,4-0,8 m dan tidak mempunyai batang. Daun eceng gondoktunggal dan berbentuk oval, ujung dan pangkalnya meruncing , pangkal dan tangkai menggembung, permukaan daunya licin dan berwarna hijau. Bunga eceng gondok termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir kelopaknya berbentuk tabung. Biji eceng gondok berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau serta akarnya merupakan akar serabut sutikno (1997).
Eceng gondok diketahui mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan sangat baik sehingga dapat tumbuh dengan cepat pada keadaan kurang subur serta dapat memanfaatkan pula kesuburan yang tinggi. Disamping itu eceng gondok memiliki masa yang besar, tumbuh mengapung diatas permukaan air sehingga mudah dipanen dibandingkan tanaman air lainya. Eceng gondok merupakan tanaman pengganggu yang sulit diberantas. Tumbuhan ini hampir hidup disemua perairan saerah tropis maupun subtropis, banyak kerugian yang dapat disebabkan eceng gondok, antara lain mengangu irigasi dan pembangkit listrik tenaga air serta bidang perikanan sutikno( 1997).
Eceng gondok memiliki kemampuan tinggi dalam menetralkan senyawa-senyawa toksi dalam perairan diantaranya seyawa fenol sebesar 160 kg/ha selama 72 jam, fosfat 157 kg/ha, nitrat 693 kg/ha dan ammonium sebanyak 50 mg/liter selama kurang lebih 15 hari. Selain itu, akar tanaman ini menghasilkan zat alleopathy yang mengandung zat antibiotoka dan juga mampu membunuh bakteri coli. Eceng gondok mempunyai kemampuan menyerap logam berat. Kemampuan ini telah diteliti di laboratorium Biokimia, Institut Pertanian Bogor, dengan hasil yang sangat luar biasa yaitu menetralkan pencemaran, tanaman ini juga mampu menjernihkan/menurunkan kekeruhan suatu perairan hingga 120 mg/liter silika selama 48 jam sehingga cahaya matahari dapat menembus perairan dan dapat meningkatkan produkrtiviatas perairan melalui proses fotosintesis bagi tanaman air lainnya. Selain dapat menyerap logam berat, eceng gondok dilaporkan juga mampu menyerap residu pestisida, contohnya residu 2.4-D dan paraquat.
Disamping memiliki banyak manfaat, enceng gondok juga dapat merugikan bagi perairan. Eceng gondok ( Eihornia crassipes) merupakan tanaman gulma di wilayah perairan yang hidup terapung pada air yang dalam atau mengembangkan perakaranya di dalam Lumpur pada air yang dangkal. Eceng gondok berkembang biak dengan sangat cepat, baik secara vegetatif maupun generatif. Perkembangbiakan dengan cara vegetatif dapat melipat ganda dua kali dalam waktu 7-10 hari ( pasaribu dan Sahwalita 2006). Eceng gondok dapat tumbuh sangat cepat pada danau maupun waduk sehingga dalam waktu yang singkat dapat mengurangi oksigen perairan, mengurangi fitoplankton dan zooplankton serta menyerap air sehingga terjadi proses pendangkalan, bahkan dapat menghambat kapal yang berlayar pada waduk. Meningkatnya evapotranspirasi (penguapan dan hilangnya air melalui daun-daun tanaman), karena daun-daunnya yang lebar dan serta pertumbuhannya yang cepat. Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air (DO: Dissolved Oxygens). Tumbuhan eceng gondok yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan. Mengganggu lalu lintas (transportasi) air, khususnya bagi masyarakat yang kehidupannya masih tergantung dari sungai seperti di pedalaman Kalimantan dan beberapa daerah lainnya. Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia dan menurunkan nilai estetika lingkungan perairan.
Untuk mengeliminasi gangguan eceng gondok, misalnya, caranya bisa dengan membatasi populasinya. Pembatasan dapat dilakukan dengan membatasi penutupan permukaan waduk oleh eceng gondok tidak lebih dari 50 persen permukaannya. Akan jauh lebih baik lagi bila pembatasan populasi ini dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar. Sebab, dahan eceng gondok adalah serat selulosa yang dapat diolah untuk berbagai keperluan, seperti barang kerajinan maupun bahan bakar pembangkit tenaga listrik. Namun, masyarakat tidak disarankan untuk memberikan eceng gondok sebagai pakan pada ternak karena polutan yang diserapnya bisa terakumulasi dalam dagingnya.
Akar dari tumbuhan eceng gondok (Eichhornia crassipes) mempunyai sifat biologis sebai penyaring air yang tercemar oleh berbagai bahan kimia buatan industri [ Little (1968) dan Lawrence dalam Moenandir (1990), Haider (1991) serta Sukman dan Yakup (1991) ]. Tumbuhan ini mempunyai daya regenerasi yang cepat karena potongan-potongan vegetatifnya yang terbawa arus akan terus berkembang menjadi eceng gondok dewasa. Eceng gondok sangat peka terhadap keadaan yang unsur haranya didalam air kurang mencukupi, tetapi responnya terhadap kadar unsur hara yang tinggi juga besar. Proses regenerasi yang cepat dan toleransinya terhadap lingkungan yang cukup besar, menyebabkan eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai pengendali pencemaran lingkungan. (Soerjani, 1975). Sel-sel akar tanaman umumnya mengandung ion dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari pada medium sekitarnya yang biasanya bermuatan negative. Penyerapan ini melibatkan energi, sebagai konsekuensi dan keberadaannya, kation memperlihatkan adanya kemampuan masuk ke dalam sel secara pasif ke dalam gradient elektrokimia, sedangkan anion harus diangkut secara aktif kedalam sel akar tanaman sesuai dengan keadaan gradient konsentrasi melawan gradient elektrokimia. (Foth, 1991). Di dalam akar, tanaman biasa melakukan perubahan pH kemudian membentuk suatu zat khelat yang disebut fitosiderofor. Zat inilah yang kemudian mengikat logam kemudian dibawa kedalam sel akar. Agar penyerapan logam meningkat, maka tumbuhan ini membentuk molekul rediktase di membran akar. Sedangkan model tranportasi didalam tubuh tumbuhan adalah logam yang dibawa masuk ke sel akar kemudian ke jaringan pengangkut yaitu xylem dan floem, kebagian tumbuhan lain. Sedangkan lokalisasi logam pada jaringan bertujuan untuk mencegah keracunan logam terhadap sel, maka tanaman akan melakukan detoksofikasi, misalyna menimbun logam kedalam organ tertentu seperti akar.
Menurut Fitter dan Hay (1991), terdapat dua cara penyerapan ion ke dalam akar tanaman :
1. Aliran massa, ion dalam air bergerak menuju akar gradient potensial yang disebabkan oleh transpirasi.
2. Difusi, gradient konsentrasi dihasilkan oleh pengambilan ion pada permukaan akar.
Dalam pengambilan ada dua hal penting, yaitu pertama , energi metabolik yang diperlukan dalam penyerapan unsur hara sehingga apabila respirasi akan dibatasi maka pengambilan unsur hara sebenarnya sedikit. Dan kedua, proses pengambilan bersifat selektif, tanaman mempunyai kemampuan menyeleksi penyerapan ion tertentu pada kondisi lingkungan yang luas. (Foth, 1991).



PEMANFAATAN ECENG GONDOK

Bahan Utama (Batang dan Daun)
Eceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya. Akhir-akhir ini perkembangan tumbuhan air enceng gondok di perairan sungai, danau, hingga ke perairan payau sangat pesat. Sekilas tanaman enceng gondok tidak berguna. Bagi masyarakat di sekitar pinggiran sungai, enceng gondok adalah tanaman parasit yang hanya mengotori sungai dan dapat menyebabkan sungai menjadi tersumbat atau meluap karena enceng gondok terlalu banyak. Begitu pula bagi para masyakat disekitar pinggiran danau yang menganggap enceng gondok yang banyak didanau adalah penggau yang menghalangi aktivitas mereka di danau tersebut.
Kenyataan ini yang bisa menjadikan eceng gondok dianggap sebagai tanaman penggangu, tetapi bila kita jeli mencari peluang, maka tanaman eceng gondok sangat bermanfaat untuk memberikan peluang usaha sebagai bahan dasar kerajinan (handy craft). Seiring dengan perkembangan iptek, Salah satu upaya yang cukup prospektif untuk menanggulangi gulma eceng gondok di kawasan perairan danau adalah dengan memanfaatkan tanaman eceng gondok, terutama bagian batang dan daunnya untuk kerajinan seni, karena batang dan akarnya banyak mengandung serat-serat yang mudah untuk diolah. Eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas karena mengandung serat/selulosa (Joedodibroto, 1983). Pulp eceng gondok yang dihasilkan berwarna coklat namun dapat diputihkan dengan proses pemutihan (bleaching). Pulp juga dapat menyerap zat pewarna yang diberikan dengan cukup baik, sehingga berbagai variasi warna kertas dapat dihasilkan melalui proses ini bagian tumbuhan eceng gondok setelah dikeringkan ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tas wanita yang cantik, kopor, sendal, keranjang (tempat pakaian bekas), tatakan gelas, tikar, nampan dan sebagainya. Malah belakangan ini banyak dimanfaatkan untuk mendukung industri mebel den furniture, sebagai pengganti rotan yang harganya semakin melangit. Hingga saat ini sudah banyak daerah yang mampu mengembangkan eceng gondok untuk pembuatan barang-barang kerajinan, mebel den furniture. Antara lain di Purbalingga, Dl Yogyakarta, sekitar Kota Solo, Cirebon, Lampung, Surabaya dan Bali. Bahkan sebagian barang-barang kerajinan eceng gondok dengan model dan kualitas tertentu, banyak diekspor ke Eropa dan Amerika Serikat yang semakin gandrung dengan barang-barang produksi dari bahan-bahan alami (back to nature).
Pembuatan handy craft dari bahan eceng gondok ini dibutuhkan proses yang cukup lama. Eceng gondok terlebih dahulu harus dikeringkan sekitar dua minggu. Setelah eceng gondok mengering lalu dibentuk kepangan panjang yang dilakukan warga dan kelompok perajin. Setelah berbentuk kepangan panjang, eceng-eceng tersebut dianyam menjadi barang yang diinginkan. Mulai dari pot bunga, tempat sampah, box tissue, tas, topi, perlengakapan dapur hingga furniture. Untuk lebih meningkatkan daya tarik pembeli, hasil anyaman tersebut ditambahakan cat pernis. Sehingga, tampilannya lebih mengkilap dan menarik.
Rata-rata kerajinan ini dijual di pasaran dengan harga mulai dari Rp 15 ribu hingga 5 juta. Tergantung dari ukuran barang dan tingkat kesulitan anyaman.
Berikut adalah langkah-langkah dalam pembuatan karya kerajinan tangan dengan bahan eceng gondok :
• Pengumpulan eceng gondok
• Pemisahan pangkal tangkai
• Pengeringan pangkal tangkai
• Penguliran
• Pembentukan/penganyaman jadi karya seni (Tas, hiasan dinding, dompet, kursi dll)

Limbah atau sisa dari pohon eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang sudah tidak terpakai, jika diolah dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk, mulsa, media semai, pakan ternak, dan pulp/kertas. Di Jawa Tengah dan di Balige sendiri sudah dikembangkan sebagai bahan baku anyaman. Peluang bisnis ini relative lebih potensial jika dikembangkan di perkotaan. Merupakan suatu tantangan berbagai stakeholder untuk mencarikan sasaran target-target pemasarannya (Muladi, 2001). Menurut penelitian, Eceng Gondok kaya asam humat yang menghasilkan Senyawa Fitohara yang mampu mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Selain itu Eceng Gondok juga mengandung Asam Sianida, Triterpenoid, Alkaloid, dan kaya Kalsium.Pembuatan pupuk Eceng Gondok yang pertama sisa dari batang, daun dan akar yang tidak terpakai lagi dicacah, campur 10% dedak halus tambahkan Em-4 kemudian tutup pakai terpal plastik selama 4 hari. Selanjutnya, suhu akan meningkat 50 derajat celcius yang menandakan proses fermentasi tengah berlangsung. Fermentasi selesai setelah suhu menurun hingga 30 derajat celcius. Pemanfaatan pupuk organik Eceng Gondok untuk pemupukan beragan jenis sayuran seperti Bayam, Cabe, Tomat, Terong dan buah-buahan. Semoga langkah Bapak Sayadih menginspirasi masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai sehingga akan lahir Sayadih-Sayadih lainnya yang peduli terhadap nilai estetika lingkungan perairan yang ada. Karena sesungguhnya masih banyak lagi manfaat Eceng Gondok tersebut, misalnya sebagai bahan pembuatan kertas, perabotan, kerajinan tangan, sebagai media pertumbuhan bagi jamur merang, dsb.

KELUARAN ECENG GONDOK
Eceng gondok masuk ke Indonesia dari Brazilia. Tumbuhan ini mempunyai tinggi 0,3-0,5 m, terapung jika tumbuh di perairan dalam, sedangkan di perairan dangkal akarnya tumbuh di permukaan tanah. Eceng gondok memperbanyak diri secara vegetatif, membentuk kelompok mengapung di atas air. Perkembangannya sangat cepat dan "rakus" minum air. Eceng gondok mampu menyusutkan air waduk Saguling antara 3 sampai 4 kali lebih cepat dibanding jika tidak ada eceng gondoknya. Dari sifat inilah eceng gondok cepat menutupi daerah-daerah perairan air tawar, dan menjadi gulma yang sangat sulit dimusnahkan, menutupi seluruh permukaan air sehingga sinar matahari tidak bisa masuk ke dalam air, dan juga menyumbat saluran-saluran air. Perkembangbiakannya yang demikian cepat menyebabkan tanaman eceng gondok telah berubah menjadi tanaman gulma di beberapa wilayah perairan di Indonesia. Di kawasan perairan danau, eceng gondok tumbuh pada bibir-bibir pantai sampai sejauh 5-20 m. Perkembangbiakan ini juga dipicu oleh peningkatan kesuburan di wilayah perairan danau (eutrofikasi), sebagai akibat dari erosi dan sedimentasi lahan, berbagai aktivitas masyarakat (mandi, cuci, kakus/MCK), budidaya perikanan (keramba jaring apung), limbah transportasi air, dan limbah pertanian.
Salah satu upaya yang cukup prospektif untuk menanggulangi gulma eceng gondok di kawasan perairan danau adalah dengan memanfaatkan tanaman eceng gondok untuk kerajinan kertas seni. Eceng gondok dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kertas karena mengandung serat/selulosa (Joedodibroto, 1983). Pulp eceng gondok yang dihasilkan berwarna coklat namun dapat diputihkan dengan proses pemutihan (bleaching). Pulp juga dapat menyerap zat pewarna yang diberikan dengan cukup baik, sehingga berbagai variasi warna kertas dapat dihasilkan melalui proses ini. Kertas seni yang dihasilkan selanjutnya dapat digunakan untuk pembuatan berbagai barang kerajinan seperti kartu undangan, figura, tempat tissue dan perhiasan. Pengusahaan kertas seni seperti halnya di kawasan wisata Danau Singkarak, Sumatera Barat memiliki beberapa keuntungan. Pertama, upaya tersebut merupakan alternatif yang sangat baik untuk mengontrol pertumbuhan gulma eceng gondok di kawasan perairan Danau Singkarak. Pengusahaan ini tentunya akan didukung oleh pemerintah daerah setempat karena berdampak positif terhadap upaya pelestarian kawasan perairan Danau Singkarak. Apabila industri kerajinan eceng gondok tersebut berkembang, maka masyarakat pengrajin akan memanen gulma tersebut dari kawasan perairan danau sebagai sumber bahan bakunya. Kedua, pengembangan industri kerajinan tersebut juga akan menyediakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar sehingga akan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Terakhir, berkembangnya industri kerajinan di kawasan wisata Danau Singkarak akan memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat dengan penyediaan berbagai cenderamata yang berdampak positif terhadap pengembangan sektor wisata di wilayah tersebut.


respon Konsumen
Pemanfaaatan eceng gondok dan kertas bekas sebagai kertas seni sudah dilakukan Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera dengan hasil yang cukup memuaskan. Teknologi pengolahannya sangat sederhana, sehingga sangat mudah diadopsi oleh masyarakat sekitar danau. Peluang bisnis kertas seni ini cukup potensial dikembangkan di sekitar Danau Toba sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang memerlukan berbagai jenis souvenir etnik. Pemanfaatan eceng gondok ini memiliki fungsi ganda yaitu dalam rangka mengendalikan gulma di perairan dan sebagai bahan baku souvenir berbahan dasar kertas seni.
Sebenarnya bisnis kertas seni sudah lama digeluti orang-orang yang disebut dengan produk kertas daur ulang. Bisnis ini sudah mulai dikenal luas dan diminati oleh masyarakat, khususnya masyarakat yang tinggal di perkotaan. Produk ini sudah banyak ditemui di etalase-etalase toko berupa souvenir cantik dan bernilai seni tinggi. Di perkotaan bisnis ini banyak dilakukan oleh kaum muda, mahasiswa, dan kelompok pengrajin lainnya. Bisnis kertas seni berbahan eceng gondok dan kertas bekas ini sebenarnya suatu inovasi menggabungkan dua kepentingan. Di satu sisi produk berbahan eceng gondok ini menghasilkan kertas dengan nilai seni yang relatif lebih indah dan di sisi lain adalah upaya pengendalian gulma eceng gondok di perairan Danau Toba. Kata kunci dari bisnis ini adalah punya kemauan besar, kreatif, dan ingin maju. Kerajinan ini sebenarnya merupakan aktivitas sederhana, tapi hasilnya luar biasa dan bernilai positif. Dengan sedikit sentuhan seni, kegiatan tersebut bias menjadi sebuah produk karya seni yang laku di pasaran dengan harga tinggi. Produk-produk ini sudah mulai diusahakan masyarakat dalam skala industri rumah tangga (home industry) sampai skala menengah. Sebagian besar dari produk kertas daur ulang ini adalah sebagai barang kerajinan atau cenderamata. Berbagai produk yang biasa diproduksi dari bahan ini antara lain kartu-kartu ucapan, hiasan dinding, tempat pensil, amplop, blocknote, figura foto, dan lain sebagainya.
Eceng gondok jika diolah dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk, mulsa, media semai, pakan ternak, dan pulp/kertas. Di Jawa Tengah dan di Balige sendiri sudah dikembangkan sebagai bahan baku anyaman. Peluang bisnis ini relative lebih potensial jika dikembangkan di perkotaan. Merupakan suatu tantangan berbagai stakeholder untuk mencarikan sasaran target-target pemasarannya (Muladi, 2001).
Dalam rangka mendukung kelestarian danau dan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitarnya, Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera telah melaksanakan kegiatan workshop pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku kertas seni. Kegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Tobasa pada tahun 2004. Dari kegiatan ini telah terbentuk kelompokkelompok pengrajin pemanfaatan eceng gondok di sekitar Danau Toba.

Selasa, 30 Maret 2010

jantung ikan

Laporan Praktikum ke-3 Hari/Tanggal : Rabu / 24 Maret 2010
m.k. Fisiologi Hewan Air kelompok : 7
Asisten :




KONTRAKSI OTOT JANTUNG




Disusun Oleh :
Ahmad Fauzi
C2408022











DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Sistem kerja jantung bekerja seperti pompa memiliki dua mekanisme kerja yaitu sistole dan diastole. jantung mempunyai peranan esensial yaitu untuk memompakan darah ke dan dari seluruh tubuh agar sistem metabolism dan energi berjalan. Jantung bekerja dibawah kendali saraf otonom sehingga kita tidak bisa mengontrol kerja otot jantung. dengan demikian jantung yang dipisahkan ikan akan tetap aktif yang ditandain dengan adanya denyutan jantung selamawaktu tertentu sampai jantung tersebut kehabisan energi untuk melakukan aktivitas denyutnya.

1.2. Tujuan
Pratikum ini bertujuan untuk mengetahui kerja jantung tanpa pengaruh organ tubuh lain, mengetahui ketahanan jantung ikan diluar tubuh dan membuktikan bahwa otot jantung adalah otot lurik tetapi bekerja seperti otot polos.










II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Ikan Mas Cyprinus carpio
Klasifikasi ikan mas Saanin (1984) dalam Sulistio (2001) adalah sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Subordo : Cyprinoidea
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio L

Gambar 1. Ikan mas (Cyprinus carpio)
Sumber: images.google.com

Ikan Mas mempunyai ciri-ciri badan memanjang dan agak pipih, lipatan mulut dengan bibir yang halus, dua pasang kumis (barbels) yang kadang-kadang satu pasang diantaranya rudimenter, ukuran dan warna badan sangat beragam (Sumantadinata, 1983 dalam Wibawa, 2003).



2.2. Ikan Nila Oreochromis niloticus
Berdasarkan sistematika yang terdapat pada Tilapias; Taxonomy and Specification oleh Trewavas, 1982 (Saanin dalam Wibawa 2003) mengklasifikasikan ikan Nila sebagai berikut :

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub Filum : Vertebrata
Kelas : Osteichtes
Sub kelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percormorphii
Sub ordo : Percoidae
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : O. niloticus


Gambar 2. Ikan nila (Oreochromis niloticus)
Sumber ://synaptoman.files.wordpress.com, 2010

Ikan nila (Oreochromis niloticus) memiliki bentuk tubuh yang pipih ke arah vertikal (kompress) dengan profil empat persegi panjang ke arah anterior posterior. Posisi mulut terletak di ujung hidung (terminal) dan dapat disembulkan. Pada sirip ekor tampak jelas garis-garis vertikal dan pada sirip punggungnya garis tersebut kelihatan condong letaknya. Ciri khas nila adalah garis-garis vertikal berwarna hitam pada sirip ekor, punggung dan dubur. Pada bagian sirip caudal (ekor) dengan bentuk membulat terdapat warna kemerahan dan bisa digunakan sebagai indikasi kematangan gonad. Pada rahang terdapat bercak kehitaman. Sisik ikan nila adalah type ctenoid. Ikan nila (Oreochromis niloticus) juga ditandai dengan jari-jari dorsal yang keras, beitu pula pada bagian analnya. Dengan posisi sirip anal dibelakang sirip dada (abdominal). (Suyanto, 1994 dalam Wibawa, 2003).
Menurut Suyanto (1994) dalam Wibawa, (2003) ikan nila dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal. Nila juga dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras alirannya, di waduk, rawa, sawah, tambak air payau, atau di dalam jaring terapung di laut.
Ikan Nila merah Florida mempunyai tingkat kelangsungan hidup lebih baik pada slinitas 18 ppt dibandingkan dengan salinitas lebih rendah dan yang lebih tinggi, walaupun dapat dipelihara sampai salinitas 36 ppt (Watanabe et. al, 1990 dalam Arifin, 1995).
2.3. Jantung ikan
Jantung merupakan suatu pembesaran otot yang spesifik dari pembuluh darah atau suatu struktur muskular berongga yang bentuknya menyerupai kerucut dan dilingkupi atau diselimuti oleh kantung perikardial (perikardium). Pada ikan terdapat dibagian restral dari hati dan bagian ventral dari rongga mulut (Afandi dan Tang, 2002). Peranan jantung sangat penting dalam hubunganya dengan pemompaan darah keseluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah, sirkulasi darah adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi dan senyawa N, dari tempat asal keseluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliraqn darah sampai ke bagain-bagian jaringan jaringan tubuh (Groman dalam Afandi dan Tang, 2002).












Gambar 3. jantung ikan nila
Sumber : smith (1982) dalam fujaya (2004)
Menurut Fujaya (2004) sistem peredaran darah pada ikan bersifat tunggal, artinya hanya terdapat satu jalur sirkulasi peredaran darah, yakni dari jantung darah dipompa ke insang untuk melakukan pertukaran ke gas kemudian keberbagai organ tubuh, setelah itu darah kembali lagi kejantung. untuk menjamin aliran darah terus berlangsung, maka daerah dipompa dengan perbedaan tekanan. tekanan jantung lebih besar dari tekanan arteri, dan tekanan arteri lebih besar dari tekanan arterionale, akibat adanya perbedaan tekanan maka aliran darah dapat terjadi. Ada dua jenis energi yang disalurkan ke darah pada setiap kontraksi jantung yaitu energi kinetik yang menyebabkan darah mengalir dan energi yang tersimpan dalam pembuluh darah dan menimbulkan tekanan darah.
2.4. Larutan Isotonik
larutan fisiologis adalah larutan isotonik yang terbuat dari NaCl 0,9% yang sama dengan cairan tubuh atau darah (adhil, 2009) menurut Rustidja(1985) dalam dalam hidayaturahmah (2007) penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan urea karna dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit. larutan fisiologis lebih kecil dari NaCl 0,9 % (0,8 %; 0,6 %; 0,3 %; 0,1 %) disebut hipotonis. larutanfisiologis lbh besar dari NaCl 0,9 % ( 1 %; 2 %) disebut hipertonis. Darah bila dimasukkan ke dalam larutan hipotonis maka membran akan mengembang karena larutan hipotonis masuk ke dalam sel darah merah, kemudian pecah di satu tempat sehingga Hb keluar disebut dengan hemolisis. Darah bila dimasukkan ke dalam larutan hipertonis maka membran akan di tarik kesegala arah sehinga pecah di banyak tempat sehingga sel darah merah mengkerut akibatnya Hb juga keluar dan disebut krenasis Anonim (2010)
III. METEDOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum osmoregulasi dilaksanakan pada tanggal 24 maret 2010 pada pukul 8.00 – 10.00 pagi di laboratorium Fisiologi Hewan Air IPB.

3.2. Alat dan Bahan
Alat - alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah timbangan digital, gelas ukur, ember, aerator, lap, stopwatch, kaca pembesar, cawan petri, alat bedah dan alat tulis.
sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah hewan akuatik periran tawar dan laut. Ikan yang di gunakan adalah ikan mas dan nila, akuades, larutan fisiologis, larutan dengan salinitas 15 ppt, 12ppt dan 9 ppt.

3.3. Prosedur Kerja
Pertama berat ikan ditimbang, kemudian ikan yang masih hidup dipingsankan dahulu dengan cara ditusuk dibagian saraf di otak. setelah itu ikan dibedah mulai dari anus kearah depan hingga insang, kemudian digunting kearah permulaan sirip dorsal dengan hati-hati agar jantung tidak ikut tergunting. organ jantung dipisahkan dengan menggunakan pinset dan letakan pada larutan. pengamatan dilakukan dengan menghitung detak jantung tiap menit. pengamatan selesai dilakukan setelah jantung tidak berdetak lagi.







IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1. Jumlah detak jantung ikan pada larutan fisiologis
Menit Ikan Mas Cyprinus carpio Ikan nila Oreochomis niloticus
Ikan Mas Besar Ikan Mas Kecil Ikan Nila Besar Ikan Nila Kecil
1 60 40 64 70
2 66 40 72 85
3 60 37 62 98
4 56 43 55 110
5 53 54 51 129
6 50 69 47 106
7 48 72 32 110
8 44 60 34 100
9 43 70 30 110
10 33 64 28 104
11 27 64 28 120
12 27 43 25 120
13 23 36 21 123
14 22 40 22 95
15 19 31 26 115
16 19 40 27 70
17 16 35 25 10
18 16 30 21 18
19 14 33 15 0
20 13 32 6 0
21 13 12 1 0
22 12 14 1 0
23 11 30 0 0
24 10 36 0 0
25 9 29 0 0
26 8 20 0 0
27 10 16 0 0
28 7 14 0 0
29 8 7 0 0
30 10 2 0 0
31 6 5 0 0
32 8 7 0 0
33 10 2 0 0
34 8 0 0 0
35 7 0 0 0
36 7 0 0 0
37 8 0 0 0
38 8 0 0 0
39 6 0 0 0
40 9 0 0 0
41 10 0 0 0
42 11 0 0 0
43 11 0 0 0
44 10 0 0 0
45 7 0 0 0
46 10 0 0 0
47 14 0 0 0
48 3 0 0 0
49 12 0 0 0
50 9 0 0 0
51 6 0 0 0
52 15 0 0 0
53 0 0 0 0
54 17 0 0 0
55 12 0 0 0
56 7 0 0 0
57 5 0 0 0
58 2 0 0 0
59 5 0 0 0
60 3 0 0 0
Interpretasi : jumlah detak jantung ikan dalam larutan fisiologis pada ikan mas besar terbanyak adalah adalah 66 pada menit ke 2 dan belum berhenti setelah satu jam. Pada ikan mas kecil detak jantung terbanyak pada menit ke 7 sebanyak 72 detakan dan berhenti pada menit ke 33. Sedangkan pada ikan nila besar detak terbanyak yaitu 72 detakan pada menit ke 2 dan berhenti berdenyut pada menit ke 22. pada ikan nila kecil berdetak terbanyak pada menit ke 5 sebanyak 129 detakan dan berhenti pada menit ke 18.

Grafik 1. Jumlah detak jantung ikan mas Cyprinus carpio pada larutan fisiologis

Interpretasi : jumlah detak jantung ikan dalam larutan fisiologis pada ikan mas besar terbanyak adalah adalah 66 pada menit ke 2 dan belum berhenti setelah satu jam. Pada ikan mas kecil detak jantung terbanyak pada menit ke 7 sebanyak 72 detakan dan berhenti pada menit ke 33.

Grafik 2. Jumlah detak jantung ikan nila Oreochromis niloticus pada larutan
fisiologis


Interpretasi : pada ikan nila besar detak terbanyak yaitu 72 detakan pada menit ke 2 dan berhenti berdenyut pada menit ke 22. pada ikan nila kecil berdetak terbanyak pada menit ke 5 sebanyak 129 detakan dan berhenti pada menit ke 18.


Tabel 2. Jumlah detak jantung ikan pada larutan 15 ppt
Menit Ikan Mas Cyprinus carpio Ikan nila Oreochomis niloticus
Ikan Mas Besar Ikan Mas Kecil Ikan Nila Besar Ikan Nila Kecil
1 58 106 50 2
2 55 104 47 1
3 54 98 28 1
4 58 90 61 0
5 81 88 53 1
6 90 83 47 6
7 90 73 45 5
8 103 63 44 4
9 104 60 41 3
10 98 60 39 0
11 66 60 34 0
12 65 55 33 0
13 75 53 33 0
14 71 49 33 0
15 66 46 33 0
16 73 43 32 0
17 47 43 29 1
18 45 41 28 0
19 40 39 26 0
20 21 38 31 0
21 18 36 30 0
22 18 34 29 0
23 16 0 23 0
24 16 0 18 0
25 14 0 14 0
26 13 0 14 0
27 12 0 14 0
28 11 3 22 0
29 10 1 25 0
30 9 0 24 0
31 2 0 17 0
32 1 0 17 0
33 1 0 11 0
34 0 0 8 0
35 1 0 6 0
36 1 0 6 0
37 2 0 6 0
38 0 0 8 0
39 1 0 8 0
40 1 0 6 0
41 0 0 5 0
42 0 0 3 0
43 0 0 1 0
44 0 0 0 0
45 0 0 1 0
46 0 0 0 0
47 1 0 0 0
48 0 0 0 0
49 0 0 0 0
50 0 0 0 0
51 4 0 0 0
52 7 0 0 0
53 7 0 0 0
54 8 0 0 0
55 5 0 0 0
56 6 0 0 0
57 8 0 0 0
58 6 0 0 0
59 8 0 0 0
60 4 0 0 0
Interpretasi : jumlah detak jantung ikan dalam larutan 15 ppt pada ikan mas besar terbanyak adalah adalah 104 pada menit ke 9 dan belum berhenti setelah satu jam. Pada ikan mas kecil detak jantung terbanyak pada menit ke 2 sebanyak 104 detakan dan berhenti pada menit ke 29. Sedangkan pada ikan nila besar detak terbanyak yaitu 61 detakan pada menit ke 2 dan berhenti berdenyut pada menit ke 45. pada ikan nila kecil berdetak terbanyak pada menit ke 6 sebanyak 6 detakan dan berhenti pada menit ke 17.

Grafik 3. Jumlah detak jantung ikan mas Cyprinus carpio pada larutan 15 ppt

Interpretasi : jumlah detak jantung ikan dalam larutan 15 ppt pada ikan mas besar terbanyak adalah adalah 104 pada menit ke 9 dan belum berhenti setelah satu jam. Pada ikan mas kecil detak jantung terbanyak pada menit ke 2 sebanyak 104 detakan dan berhenti pada menit ke 29.
Grafik 4. Jumlah detak jantung ikan nila Oreochromis niloticus pada larutan 15 ppt

Interpretasi : pada ikan nila besar detak terbanyak yaitu 61 detakan pada menit ke 2 dan berhenti berdenyut pada menit ke 45. pada ikan nila kecil berdetak terbanyak pada menit ke 6 sebanyak 6 detakan dan berhenti pada menit ke 17.
Tabel 3. Jumlah detak jantung ikan pada larutan 12 ppt
Menit Ikan Mas Cyprinus carpio Ikan nila Oreochomis niloticus
Ikan Mas Besar Ikan Mas Kecil Ikan Nila Besar Ikan Nila Kecil
1 60 28 46 38
2 54 38 43 42
3 59 15 42 54
4 63 7 45 41
5 61 5 38 31
6 60 3 36 19
7 58 2 30 15
8 57 2 49 13
9 56 2 18 10
10 55 0 16 7
11 53 0 12 8
12 51 0 12 2
13 49 0 12 10
14 45 0 9 9
15 43 0 3 9
16 41 0 3 10
17 39 0 3 8
18 37 0 1 8
19 34 0 0 9
20 5 0 0 12
21 0 0 0 4
22 2 0 4 7
23 3 0 0 16
24 4 0 0 10
25 3 0 0 0
26 3 0 0 0
27 3 0 0 0
28 3 0 0 0
29 5 0 4 0
30 4 0 2 0
31 8 0 0 0
32 0 0 0 0
33 4 0 2 0
34 4 0 0 0
35 4 0 0 0
36 17 0 0 0
37 0 0 0 0
38 0 0 2 0
39 16 0 0 0
40 0 0 0 0
41 5 0 1 0
42 10 0 0 0
43 0 0 0 0
44 20 0 0 0
45 0 0 0 0
46 12 0 0 0
47 13 0 0 0
48 0 0 0 0
49 24 0 0 0
50 7 0 0 0
51 3 0 0 0
52 24 0 0 0
53 0 0 0 0
54 0 0 0 0
55 0 0 0 0
56 0 0 0 0
57 0 0 0 0
58 0 0 0 0
59 0 0 0 0
60 0 0 0 0
Interpretasi : jumlah detak jantung ikan dalam larutan 12ppt pada ikan mas besar terbanyak adalah adalah 63 pada menit ke 4dan belum berhenti setelah satu jam. Pada ikan mas kecil detak jantung terbanyak pada menit ke 2 sebanyak 38 detakan dan berhenti pada menit ke 9. Sedangkan pada ikan nila besar detak terbanyak yaitu 49 detakan pada menit ke 8 dan berhenti berdenyut pada menit ke 41. pada ikan nila kecil berdetak terbanyak pada menit ke 3 sebanyak 54 detakan dan berhenti pada menit ke 24.
Grafik 5. Jumlah detak jantung ikan mas Cyprinus carpio pada larutan 12 ppt

Interpretasi : jumlah detak jantung ikan dalam larutan 12ppt pada ikan mas besar terbanyak adalah adalah 63 pada menit ke 4dan belum berhenti setelah satu jam. Pada ikan mas kecil detak jantung terbanyak pada menit ke 2 sebanyak 38 detakan dan berhenti pada menit ke 9.


Grafik 6 Jumlah detak jantung ikan nila Oreochromis niloticus pada larutan 12 ppt

Interpretasi : pada larutan 12 ppt pada ikan nila besar detak terbanyak yaitu 49 detakan pada menit ke 8 dan berhenti berdenyut pada menit ke 41. pada ikan nila kecil berdetak terbanyak pada menit ke 3 sebanyak 54 detakan dan berhenti pada menit ke 24.
Tabel 4. Jumlah detak jantung ikan pada larutan 9 ppt
Menit Ikan Mas Cyprinus carpio Ikan nila Oreochomis niloticus
Ikan Mas Besar Ikan Mas Kecil Ikan Nila Besar Ikan Nila Kecil
1 68 70 19 27
2 63 78 32 45
3 66 80 17 41
4 58 84 15 36
5 66 86 19 16
6 68 79 22 6
7 71 92 23 5
8 74 92 24 4
9 73 82 14 2
10 71 77 15 4
11 70 85 16 8
12 70 83 14 5
13 68 78 16 5
14 66 69 12 9
15 65 66 10 6
16 62 76 9 7
17 56 64 10 13
18 50 59 7 7
19 30 53 11 7
20 27 46 33 6
21 24 53 20 6
22 21 57 13 4
23 17 58 6 5
24 14 54 0 5
25 15 50 0 4
26 12 46 0 4
27 10 41 0 4
28 10 45 0 5
29 11 25 0 4
30 9 28 0 4
31 9 38 0 7
32 10 35 0 4
33 9 37 0 7
34 9 40 0 6
35 8 32 0 6
36 10 25 0 13
37 9 13 0 11
38 9 0 0 8
39 8 0 0 5
40 8 0 0 5
41 7 0 0 2
42 7 0 0 0
43 4 0 0 0
44 4 0 0 0
45 9 0 0 0
46 5 0 0 0
47 5 0 0 0
48 10 0 0 0
49 0 0 0 0
50 6 0 0 0
51 7 0 0 0
52 0 0 0 0
53 7 0 0 0
54 1 0 0 0
55 2 0 0 0
56 1 0 0 0
57 4 0 0 0
58 4 0 0 0
59 2 0 0 0
60 2 0 0 0
Interpretasi : jumlah detak jantung ikan dalam larutan 9 ppt pada ikan mas besar terbanyak adalah adalah 74 pada menit ke 8 dan belum berhenti setelah satu jam. Pada ikan mas kecil detak jantung terbanyak pada menit ke 8 sebanyak 38 detakan dan berhenti pada menit ke 37. Sedangkan pada ikan nila besar detak terbanyak yaitu 24 detakan pada menit ke 8 dan berhenti berdenyut pada menit ke 23. pada ikan nila kecil berdetak terbanyak pada menit ke 2 sebanyak 45 detakan dan berhenti pada menit ke 41.
Grafik 7. Jumlah detak jantung ikan mas Cyprinus carpio pada larutan 9 ppt

Interpretasi : jumlah detak jantung ikan dalam larutan 9 ppt pada ikan mas besar terbanyak adalah adalah 74 pada menit ke 8 dan belum berhenti setelah satu jam. Pada ikan mas kecil detak jantung terbanyak pada menit ke 8 sebanyak 38 detakan dan berhenti pada menit ke 37.

Grafik 8 Jumlah detak jantung ikan nila Oreochromis niloticus pada larutan 9 ppt

Interpretasi :Di larutan 9 ppt pada ikan nila besar detak terbanyak yaitu 24 detakan pada menit ke 8 dan berhenti berdenyut pada menit ke 23. pada ikan nila kecil berdetak terbanyak pada menit ke 2 sebanyak 45 detakan dan berhenti pada menit ke 41.
Tabel 5. Jumlah detak jantung ikan pada akuades
Menit Ikan Mas Cyprinus carpio Ikan nila Oreochomis niloticus
Ikan Mas Besar Ikan Mas Kecil Ikan Nila Besar Ikan Nila Kecil
1 74 85 9 60
2 58 59 10 53
3 50 47 15 27
4 44 31 12 0
5 38 32 13 0
6 34 13 17 0
7 27 0 15 0
8 26 0 14 0
9 25 5 15 0
10 19 0 16 0
11 19 0 17 0
12 19 0 17 0
13 15 0 14 0
14 15 0 17 0
15 13 0 16 0
16 9 0 15 0
17 14 0 17 0
18 8 0 17 0
19 10 0 17 0
20 13 0 16 0
21 12 0 20 0
22 7 0 22 0
23 8 0 20 0
24 8 0 26 0
25 7 0 30 0
26 4 0 35 0
27 9 0 31 0
28 10 0 30 0
29 6 0 29 0
30 0 0 28 0
31 0 0 0 0
32 12 0 0 0
33 15 0 0 0
34 13 0 0 0
35 17 0 0 0
36 13 0 0 0
37 11 0 0 0
38 11 0 0 0
39 19 0 0 0
40 13 0 0 0
41 5 0 0 0
42 13 0 0 0
43 7 0 0 0
44 0 0 0 0
45 9 0 0 0
46 5 0 0 0
47 0 0 0 0
48 0 0 0 0
49 0 0 0 0
50 0 0 0 0
51 0 0 0 0
52 0 0 0 0
53 0 0 0 0
54 0 0 0 0
55 0 0 0 0
56 0 0 0 0
57 0 0 0 0
58 0 0 0 0
59 0 0 0 0
60 0 0 0 0
Interpretasi : jumlah detak jantung ikan dalam pada akuades pada ikan mas besar terbanyak adalah adalah 74 pada menit ke 1 dan berhenti pada menit ke 43. Pada ikan mas kecil detak jantung terbanyak pada menit ke 1 sebanyak 36 detakan dan berhenti pada menit ke 6. Sedangkan pada ikan nila besar detak terbanyak yaitu 35 detakan pada menit ke 36 dan berhenti berdenyut pada menit ke 31. pada ikan nila kecil berdetak terbanyak pada menit ke 1 sebanyak 60 detakan dan berhenti pada menit ke 3.

Grafik 9. Jumlah detak jantung ikan mas Cyprinus carpio pada akuades

Interpretasi : jumlah detak jantung ikan dalam pada akuades pada ikan mas besar terbanyak adalah adalah 74 pada menit ke 1 dan berhenti pada menit ke 43. Pada ikan mas kecil detak jantung terbanyak pada menit ke 1 sebanyak 36 detakan dan berhenti pada menit ke 6.

Grafik 10 Jumlah detak jantung ikan nila Oreochromis niloticus pada akuades

Interpretasi : pada ikan nila besar detak terbanyak yaitu 35 detakan pada menit ke 36 dan berhenti berdenyut pada menit ke 31. pada ikan nila kecil berdetak terbanyak pada menit ke 1 sebanyak 60 detakan dan berhenti pada menit ke 3.

Tabel 6. Bobot dan Lama pembedahan ikan pada larutan fisiologis
Keterangan Ikan Mas (Cyprinus carpio) Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Besar Kecil Besar Kecil
Berat tanpa jantung (g) 164,41 27,86 100.89 24.08
Berat jantung (g) 0,75 0,1 0.13 0.05
Lama Pembedahan (menit) 2’ 30” 3’ 5” 10 ’ 16” 5’ 56 ”

Tabel 7. Bobot dan Lama pembedahan ikan pada larutan 15 ppt
Keterangan Ikan Mas (Cyprinus carpio) Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Besar Kecil Besar Kecil
Berat tanpa jantung (g) 188.85 23.30 116,15 26,63
Berat jantung (g) 0.53 0.04 0,25 0,03
Lama Pembedahan (menit) 07’ 20’’ 1’ 50’’ 7’ 6’

Tabel 8. Bobot dan Lama pembedahan ikan pada larutan 12 ppt
Keterangan Ikan Mas (Cyprinus carpio) Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Besar Kecil Besar Kecil
Berat tanpa jantung (g) 175,90 13.63 155,69 23,58
Berat jantung (g) 0.67 0.001 0,16 0,04
Lama Pembedahan (menit) 3’ 30” 2’ 38” 13’ 16’




Tabel 9. Bobot dan Lama pembedahan ikan pada larutan 9 ppt
Keterangan Ikan Mas (Cyprinus carpio) Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Besar Kecil Besar Kecil
Berat tanpa jantung (g) 181.86 20.17 102,44 15,14
Berat jantung (g) 0.45 0.07 0,15 0,03
Lama Pembedahan (menit) 7’ 6’ 15’ 10’



Tabel 10. Bobot dan Lama pembedahan ikan pada akuades
Keterangan Ikan Mas (Cyprinus carpio) Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Besar Kecil Besar Kecil
Berat tanpa jantung (g) 176.16 18,65 84,27 gram 25,12 gram
Berat jantung (g) 0,78 0,14 0,2 gram 0.02
Lama Pembedahan (menit) 7’ 7’ 6’ 34” 3’

4.2 Pembahasan
Menurut Fujaya (2004) Untuk menjamin aliran darah terus berlangsung, maka daerah dipompa dengan perbedaan tekanan. tekanan jantung lebih besar dari tekanan arteri, dan tekanan arteri lebih besar dari tekanan arterionale, akibat adanya perbedaan tekanan maka aliran darah dapat terjadi. Ada dua jenis energi yang disalurkan ke darah pada setiap kontraksi jantung yaitu energi kinetik yang menyebabkan darah mengalir dan energi yang tersimpan dalam pembuluh darah dan menimbulkan tekanan darah. pada praktikum detak organ jantung terjadi perbedaan antara banyak dan kekuatan detakan jantung. pada ikan besar detakan jantung lebih banyak dibandingkan ikan kecil, karna ikan yang besar cenderung memiliki energi yang lebih besar dibanding ikan kecil. Waktu bertahanya otot jantung ikan diluar tubuh pada ikan besar lebih dari satu jam sedangkan pada ikan yang kecil relatif lebih rendah hanya sampai 33 menit atau setengah jam. perbedaaan waktu bertahanya jantung ikan berbeda-beda tiap perlakuan yang satu dengan dengan yang lain. pada larutan fisiologis jantung ikan berdetak lebih lama sedangkan pada larutan bersalinitas gerakan denyut jantung cepat tapi lebih cepat berhenti pula. Hal ini karena pada larutan fisiologis terkandung bahan yang komponenya lebih mirip dengan cairan yang ada pada tubuh ikan tersebut. sehingga energi yang digunakan jantung lebih sedikit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. sedangkan pada larutan bersalinitas berbeda dengan kondisi cairan dalam tempat tinggal jantung sebelumnya sehingga jantung perlu menyesuaikan diri kembali dengan lingkunganya. Akibatnya energi jantung banyak digunakan dan bekerja lebih berat akhirnya daya tahan jantung lebih cepat habis. jantung ikan terus dapat berdetak meskipun telah dikeluarkan hal ini karena jantung bekerja dibawah kendali saraf otonom sehingga ikan sendiri tidak dapat mengontrol kerja otot jantung. Faktor faktor yang mempengaruhi detak jantung ikan diantaranya adalah ukuran jantung, suhu, cairan isoosmotik dengan jantung. Fungsi larutan fisiologis diantaranya untuk mengetahui daya tahan maksimal detak jantung diluar tubuh yang dimanipulasi sehingga mirip dengan didalam tubuh ikan diantaranya seperti zat nutrisi, natrium oksigen dll. Peranan jantung sangat penting dalam hubunganya dengan pemompaan darah keseluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah, sirkulasi darah adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi dan senyawa N, dari tempat asal keseluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliraqn darah sampai ke bagain-bagian jaringan jaringan tubuh (Groman dalam Afandi dan Tang, 2002).
Pada praktikum kali ini menggunakan larutan akuades bertujuan mengetahui detak jantung pada kondisi air murni tanpa bahan organik. pada l arutan fisiologis digunakan untuk mengukur daya tahan jantung pada keadaan yang mirip dengan lingkugan sebenarnya. sedangkan pada salinitas yang berbeda beda digunakan untuk mengetahui reaksi yang ditimbulkan oleh jantung pada berbagai salinitas.
daya tahan detak jantung ikan nila berbeda dengan jantung ikan mas. Pada ikan mas daya tahanya lebih tinggi dibandingkan dengan ikan nila. namun pada ikan nila kecepatn detak jantungnya lebih tinggi dikarenakan jantung ikan nila lebih sulit menyesuaikan dengan lingkungan akibatnya energy yang digunakan lebih banyak dan jantung lebih cepat berhenti.












V.KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini jantung ikan pada saat berada diluar tubuh masih dapat bekerja lebih dari satu jam pada ikan mas dan kurang dari sejam pada ikan nila. Jantung pada ikan yang berat tubuhnya lebih tinggi memiliki energi yang lebih banyak untuk berdetak .Jantung ikan yang berukuran kecil memiliki detak jantung lebih cepat. Jantung ikan diluar tubuh dapat bertahan paling lama pada larutan fisiologi.

5.2. Saran
Kami berharap agar pada praktikum ini ikan yang digunakan ada yang dari laut juga. Sehingga kita dapat membandingkan detak jantungnya dan informasi yang diperoleh lebih memuaskan. Dan kami juga berharap semoga praktikum Fisiologi Hewan Air berikutnya akan lebih baik. .












DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R., D.S. Sjafei, M.F. Rahadjo, dan sulistiono. 1992
Fujaya, Y. 2004. Fisiologi ikan. Rinaka cipta.
Lewis, E.L. (1980). The Practical Salinity Scale 1978 and its antecedents. IEEE J. Ocean. Eng., OE-5(1): 3-8.
Tang. U.M. dan R Affandi. 2001. Biologi Reproduksi Ikan. P2kp2 Unri.
Unesco (1981a). The Practical Salinity Scale 1978 and the International Equation of State of Seawater 1980. Tech. Pap. Mar. Sci., 36: 25 pp.
http:// repository.ui.ac.id [24 maret 2010]


















LAMPIRAN
www.scribd.com

Senin, 29 Maret 2010

Respirasi

Proses Sistem Pernapasan/Respirasi Pada Manusia/Orang - Belajar Biologi Online
Thu, 31/01/2008 - 3:43am — godam64
Pengertian pernafasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari pengambilan oksigen, pengeluaran karbohidrat hingga penggunaan energi di dalam tubuh. Menusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang karbondioksida ke lingkungan.
Respirasi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu :
1. Respirasi Luar yang merupakan pertukaran antara O2 dan CO2 antara darah dan udara.
2. Respirasi Dalam yang merupakan pertukaran O2 dan CO2 dari aliran darah ke sel-sel tubuh.
Dalam mengambil nafas ke dalam tubuh dan membuang napas ke udara dilakukan dengan dua cara pernapasan, yaitu :
1. Respirasi / Pernapasan Dada
- Otot antar tulang rusuk luar berkontraksi atau mengerut
- Tulang rusuk terangkat ke atas
- Rongga dada membesar yang mengakibatkan tekanan udara dalam dada kecil sehingga udara masuk ke dalam badan.
2. Respirasi / Pernapasan Perut
- Otot difragma pada perut mengalami kontraksi
- Diafragma datar
- Volume rongga dada menjadi besar yang mengakibatkan tekanan udara pada dada mengecil sehingga udara pasuk ke paru-paru.
Normalnya manusia butuh kurang lebih 300 liter oksigen perhari. Dalam keadaan tubuh bekerja berat maka oksigen atau O2 yang diperlukan pun menjadi berlipat-lipat kali dan bisa sampai 10 hingga 15 kalilipat. Ketika oksigen tembus selaput alveolus, hemoglobin akan mengikat oksigen yang banyaknya akan disesuaikan dengan besar kecil tekanan udara.
Pada pembuluh darah arteri, tekanan oksigen dapat mencapat 100 mmHg dengan 19 cc oksigen. Sedangkan pada pembuluh darah vena tekanannya hanya 40 milimeter air raksa dengan 12 cc oksigen. Oksigen yang kita hasilkan dalam tubuh kurang lebih sebanyak 200 cc di mana setiap liter darah mampu melarutkan 4,3 cc karbondioksida / CO2. CO2 yang dihasilkan akan keluar dari jaringan menuju paruparu dengan bantuan darah.
Proses Kimiawi Respirasi Pada Tubuh Manusia :
1. Pembuangan CO2 dari paru-paru : H + HCO3 ---> H2CO3 ---> H2 + CO2
2. Pengikatan oksigen oleh hemoglobin : Hb + O2 ---> HbO2
3. Pemisahan oksigen dari hemoglobin ke cairan sel : HbO2 ---> Hb + O2
4. Pengangkutan karbondioksida di dalam tubuh : CO2 + H2O ---> H2 + CO2
http://organisasi.org/proses-sistem-pernapasan-respirasi-pada-manusia-orang-belajar-biologi-online
Jendela Iptek Seri 9: Tubuh Manusia
Oleh Steve Parker

B. RESPIRASI SEL
Didalam setiap sel hidup terjadi proses metabolism. Salah satu proses tersbut adalah katabolisme. Katabolisme disebut pula disimilasi, karena dalam proses ini energy yang tersimpan ditimbulkan kembali atau dibongkar untuk menyelenggarakan proses – proses kehidupan .
Respirasi sel berlangsung didalam mitokondria melalui proses glikolisis, yakni proses pengubahan atom C6 menjadi C3. Dilanjutkan dengan proses dekarboksilasi oksidatif yang mengubah senyawa C3 menjadi senyawa C2 dan C1 (CO2). Kemudian daur krebs mengubah senyawa C2 menjadi senyawa C1(CO2¬).
Pada setiap tingkatan ini dihasilkan energy berupa ATP (adenosine Tri Phosphat) dan Hidrogen . hydrogen yang berenergi bergabung dengan akseptor hydrogen untuk dibawa ke transfer electron ; energynya dilepaskan dan hydrogen diterima oleh O2 menjadi H2O .
Didalam proses respirasi dihasilkan senyawa antara CO2 yang merupakan bahan dasarproses anabolisme.
Didalam proses respirasi sel bahan bakarnya adalah gula heksosa. Pembakaran tersebut memerlukan oksigen bebas, sehingga reaksi keseluruhan dapat ditukis sebagai berikut :
C6h12O6 + 6 CO2 ---------------- 6 CO2 + 6H2O + 675 kal
Dalam respirasi aerob. Gula heksosa mengalami pembongkaran dengan proses yang sangat panjang. Pertamakali glukosa sebagai bahan dasar mengalami fosfolarisasi, yaitu proses penambahan fosfat kepada molekul – molekul glukosa hingga menjadi fruktosa -1, 6 – difosfat. Pada fosforilasi , ATP dan ADP memgang peranan penting sebagai pengisi fosfat.
Adapun pengubahan fruktosa – 1 , 6 – dipospat hingga akhirnya menjadi CO2 dan H2O dapat dibagi menjadi empat tahap , yaitu glikolisis, reaksi antara (dekarboksilasi oksidatif), siklus krebs, dan transfer electron.

1. Glikolisis
Adalah rangkaian reaksi pengubahan molekul glukosa menjadi asam piruvat dengan menghasilkan NADH dan ATP.
Sifat – sifat glikolisis ialah:
a. Dapat berlangsung secara aerob maupun anaerob
b. Dalam glikolisis terdapat kegiatan enzimatis dan AdenosineTrifosfat (ATP) serta Adenosine Difosfat (ADP)
c. ADP dan ATP berperan dalam pemindahan fosfat dari molekul satu ke molekul lainnya.


Glukosa sebagai substrat dalam respirasi aerob (maupun anaerob) diperoleh dari hasil fotosintesis.diawali dengan penambahan satu fosfat oleh ATPO terhadap glukosa, sehingga terbentuk glukosa – 6 fosfat dan ATP menyusut menjadi ADP . peristiwa ini disebut fosfolirasi yang berlangsung dengan bantuan enzim heksokinase dan ion Mg++ hasil akhir dari fosfolirasi berupa fruktosa-1, 6-difosfat dan dari sinilah dimulai glikolisis.
Glikolisis dimulai dari perubahan fruktosa -1, 6-difosfat yang memiliki 6 buah atom C diubah menjadi 3-difosfogliseral-dehida (dengan 3 buah atom C) dan dihidroksi-aseton-fosfat. Pembongkaran ini dibantu oleh enzim aldolase.
Dihidroksi aseton fosfat kemudian menjadi 3- fosfogliseraldehida juga dengan pertolongan enzim fosfitriosaisomerase.
Selanjutnya fosfogliseraldehida bersebyawa dengan suatu asam fosfat (H3PO4) dan berubah menjadi 1,3 –disfosfogliseraldehida.
1,3 – difosfogliseraldehida berubah menjadi asam 1,3 –difosfogliserat dengan bantuan enzimdehidrogenase. Peristiwa ini terjadi karena adanya penambahan H2.
Dengan bantuan enzim transfosforilase fosfogliserat serta ion – ion Mg++, asam 1,3-difosfogliserat kehilangan satu fosfat sehingga berubah menjadi asam – 3 – fosfogliserat.
Selanjutnya asam – 3 – fosfogliserat menjadi asam – 2 – fosfogliserat karena pengaruh enzim fosfogliseromutase.
Dengan pertolongan enzim enolase dan ion – ion Mg++, maka asam- 2-fosfofogliserat melepaskan H2O dan menjadi asam -2-fosfoenolpiruvat.
Perubahan terakhir dalam glikolisisadalah pelepasan satu fosfat dari asam-2-fosfoenolpiruvat menjadi asam piruvat. Enzim transfosforilase fosfopiruvat dan ion – ion Mg++ membantu proses ini sedang ADP meningkat menjadi ATP.
Gambar SKEMA PROSES GLIKOLISIS'




2. Reaksi Antara
Setelah glikolisis terjadi reaksi antara. (dekarboksilasi oksidatif), yaitu pengubahan asam piruvat menjadi 2 asetil KoA sambil menghasilkan CO2 dan 2NADH2 yang reaksinya adalah :

2 NAD 2NADH2
2(C3H4O3) 2 (C3H3O) – KoA + 2CO2
Piruvat Asetil KoA

Perubahan asam piruvat menjadi asetil KoA merupakan persimpangan jalan untuk menuju berbagai biosintesis yang lain. Asetil KoA yang terbentuk kemudian memasuki siklus krebs.

3. Siklus Krebs ( Siklus Asam Sitrat)

Pada siklus krebs ini (terjadi dimatriks mitokondria) asetil KoA diubah menjadi KoA. Asetil KoA bergabung dengan asam oksaloasetat membentuk asam sitrat. KoA dilepaskan sehingga memungkinkan untuk mengambil fragmen 2C lain dari asam piruvat.
SIKLUS KREBS



gambar:siklus krebs2.jpg
Pembentukan asam sitrat terjadi diawal siklus krebs , sementara itu sisa dua karbon dari glukosa dilepaskan sebagai CO2.
Selama terjadi pembentukan – pembentukan , energy yang dibutuhkan dilepaskan untuk menggabungkan fosfat denga ADP membentuk molekul ATP.
Pada siklus krebs , pemecahan rantai karbon pada glukosa selesai, Jadi, sebagai hasil dari glikoslisis , reaksi antara dan siklus krebs adalah pemecahan satu molekul glukosa 6 karbon menjadi 6 molekul 1 karbon, selain itu juga dihasilkan 2 molekul ATP dari glikolisis dan 2 ATP lagi dari siklus krebs.
Perlu diingat bahwa tiap – tiap proses melepaskan atom hydrogen yang ditranspor ke sistem transport electron oleh molekul pembawa .

4. Sistem transport electron
Pada sistem transpor electron berlangsung pengepakan energy dari glukosa menjadi ATP.
Reaksi ini terjadi didalam membaran dalam mitokondria, hydrogen dari siklus krebs yang tergabung dalam FADH2dan NADH diubah menjadi elektorn dan proton.
Pada sistem transport electron ini, oksigen adalah akseptor electron yang terakhir , setelah menerima electron , O2 akan bereaksi dengan H+ membentuk H2O. pada sistem ini dihasilkan 34 ATP.
Jadi total ATP yang dihasilkan dari respirasi seluler adalah sebagai berikut:
Secara tidak langsung secara Lewat sistem transport elektron langsung
Glikolisis 2 NADH2 = 6 ATP 2 ATP
Reaksi antara 2 NADH2 = 6 ATP
Siklus Krebs 6 NADH2 = 18 ATP 2 ATP
2 FADH2 = 4 ATP
------------------------------------ ------------------
34 ATP 4 ATP

5. Respirasi Aerob dan Anaerob
Respirasi aerob adalah suatu proses pernapasan yang membutuhkan iksigen dari udara.
Ada beberapa tumbuhan yang kegiatan respirasinya menurun bila konsentrasi oksigen di udara dibawah normal, misalnya bayam, wortel dan bebrapa tumbuhan lainnya.
Respirasi anaerob dapat pula disebut fermentasi atau respirasi intramolekul. Tujuan fermentasi sama dengan respirasi aerob, yaitu mendapatkan energy. Hanya saja energi yang dihasilkan jauh lebih sedikit dari respirasi aerob.
Perhatikan reaksi dibawah ini!
Respirasi aerob :
C6H12O6 ---- 6 CO2 + 6 H2O + 675 kal + 38 ATP
Respiasi anaerob:
C6H12O6 ------ 2 C2H5OH + 2CO2 + 21 kal + 2 ATP
Pernapasan anaerob dapat berlangsung didalam udara bebas, tetapi proses ini tidak menggunakan O2 yang disediakan di udara. Fermentasi sering pula disebut sebagai peragian alcohol atau alkoholisasi.
Pada respirasi aerob maupun anaerob, asam piruvat hasil proses glikolisis merupakan substrat.
Perhatikan skema dibawah ini !

Respirasi aerob dan respirasi anaerob

a) Asam piruvat dalam respirasi anaerob

b) Asam piruvat dalam respirasi aerob
Pembongkaran sempurna terjadi pada oksidasi asam piruvat dalam respirasu aerob. Dari proses ini dihasilkan CO2 dan H2O serta energy yang lebih banyak , yaitu 38 ATP.
http://www.crayonpedia.org/mw/Respirasi_Sel_12.1
Respirasi Sel
10 Maret 2010
by DELTA FORCE
Respirasi sel, juga dikenal sebagai ‘metabolisme oksidatif’, adalah salah satu cara kunci sel berguna mendapatkan energi. Ini adalah himpunan reaksi metabolik dan proses-proses yang terjadi dalam organisme ‘biokimia sel untuk mengubah energi dari nutrisi menjadi adenosin trifosfat (ATP), dan kemudian melepas produk-produk limbah. Reaksi respirasi yang terlibat dalam reaksi katabolik yang melibatkan oksidasi satu molekul dan pengurangan lain.
Nutrisi biasa digunakan oleh sel-sel hewan dan tumbuhan dalam respirasi termasuk glukosa, asam amino dan asam lemak, dan agen oksidasi yang umum (penerima elektron) adalah molekul oksigen (O2). Bakteri dan archaea juga dapat lithotrophs dan organisme ini dapat bernafas menggunakan berbagai molekul anorganik sebagai donor dan akseptor elektron, seperti belerang, ion logam, methane atau hidrogen. Organisme yang menggunakan oksigen sebagai akseptor elektron terakhir dalam digambarkan sebagai respirasi aerobik, sedangkan mereka yang tidak disebut sebagai anaerobik .
Energi yang dilepaskan dalam respirasi digunakan untuk mensintesis ATP untuk menyimpan energi ini. Energi yang tersimpan dalam ATP kemudian dapat digunakan untuk mendorong proses-proses yang membutuhkan energi, termasuk biosintesis, gerak atau pengangkutan molekul melintasi membran sel.
Respirasi Aerobik
Respirasi aerobik memerlukan oksigen untuk menghasilkan energi (ATP). Meskipun karbohidrat, lemak, dan protein dapat semua akan diproses dan dikonsumsi sebagai pereaksi, itu adalah metode paling disarankan untuk pemecahan dari glikolisis piruvat dan piruvat mensyaratkan bahwa mitokondria masukkan agar dapat sepenuhnya dioksidasi oleh siklus Krebs. Produk dari proses ini adalah energi dalam bentuk ATP (adenosin trifosfat), oleh fosforilasi tingkat substrat, NADH dan FADH2.
Sederhana reaksi: C6H12O6 (aq) + 6 O2 (g) → 6 CO2 (g) + 6 H2O (l)
ΔG = -2.880 kJ per mol C6H12O6
ΔG negatif menunjukkan bahwa produk-produk dari proses kimia toko sedikit energi dari reaktan dan reaksi dapat terjadi secara spontan; Dengan kata lain, tanpa sebuah input energi.
Potensi yang mengurangi NADH dan FADH2 dikonversi menjadi lebih ATP melalui rantai transpor elektron dengan oksigen sebagai “terminal akseptor elektron”. Sebagian besar ATP dihasilkan oleh respirasi sel aerobik dibuat oleh fosforilasi oksidatif. Ini bekerja dengan energi yang dilepaskan dalam konsumsi piruvat yang digunakan untuk menciptakan potensi kemiosmotik oleh memompa proton melintasi membran. Potensi ini kemudian digunakan untuk menggerakkan ATP sintase dan memproduksi ATP dari ADP. Buku pelajaran biologi sering menyatakan bahwa 38 molekul ATP dapat dibuat per molekul glukosa dioksidasi selama respirasi selular (2 dari glikolisis, 2 dari siklus Krebs, dan sekitar 34 dari sistem transportasi elektron). Namun, hasil maksimal ini tidak pernah cukup mencapai akibat kerugian (bocor membran) serta biaya pindah dan ADP piruvat ke matriks mitokondria dan perkiraan arus kisaran sekitar 29-30 ATP per glukosa.
Metabolisme aerobik adalah 19 kali lebih efisien daripada metabolisme anaerob (yang menghasilkan 2 mol ATP per 1 mol glukosa). Mereka berbagi jalur awal glikolisis tapi metabolisme aerobik terus dengan siklus Krebs dan fosforilasi oksidatif. Glikolitik pos reaksi terjadi di mitokondria dalam sel eukariotik, dan di sitoplasma dalam sel prokariotik.
Glikolisis
Glikolisis adalah jalur metabolik yang ditemukan dalam sitoplasma sel dalam semua makhluk hidup dan anaerobik (yakni, oksigen tidak diperlukan). Proses mengkonversi satu molekul glukosa menjadi dua molekul piruvat, dan membuat energi dalam bentuk dua molekul ATP bersih. Empat molekul ATP per glukosa diproduksi sebenarnya, namun dua dikonsumsi untuk tahap persiapan. Awal fosforilasi glukosa diperlukan untuk menggoyang untuk pembelahan molekul menjadi dua triose gula. Selama membayar-off tahap glikolisis, empat gugus fosfat ditransfer ke ADP oleh fosforilasi tingkat substrat untuk membuat empat ATP, dan dua NADH yang dihasilkan ketika gula triose dioksidasi. Reaksi keseluruhan dapat dinyatakan dengan cara ini:
Glucose + 2 NAD+ + 2 Pi + 2 ADP → 2 pyruvate + 2 NADH + 2 ATP + 2 H+ + 2 H2O
Dekarboksilasi oksidatif piruvat
Yang piruvat dioksidasi menjadi asetil-KoA dan CO2 oleh piruvat dehidrogenase kompleks, sekelompok enzim-banyak salinan dari masing-masing dari tiga enzim-terletak di mitokondria dari sel-sel eukariotik dan di dalam sitosol dari prokariota. Dalam proses satu molekul NADH dibentuk per piruvat dioksidasi, dan 3 mol ATP dibentuk untuk setiap mol piruvat. Langkah ini juga dikenal sebagai reaksi link, seperti link glikolisis dan siklus Krebs.
Siklus Asam Sitrat
Ini juga disebut siklus Krebs atau siklus asam trikarboksilat. Ketika oksigen hadir, asetil-KoA yang dihasilkan dari molekul piruvat diciptakan dari glikolisis. Setelah asetil-KoA terbentuk, dua proses dapat terjadi, aerobik atau respirasi anaerobik. Ketika oksigen hadir, mitokondria akan mengalami respirasi aerobik yang mengarah pada siklus Krebs. Namun, jika oksigen tidak ada, fermentasi dari molekul piruvat akan terjadi. Dengan keberadaan oksigen, ketika asetil-KoA yang dihasilkan, molekul kemudian memasuki siklus asam sitrat (Siklus Krebs) di dalam matriks mitokondria, dan akan teroksidasi menjadi CO2, sementara pada saat yang sama mengurangi NAD menjadi NADH. NADH dapat digunakan oleh rantai transpor elektron untuk membuat ATP lebih lanjut sebagai bagian dari fosforilasi oksidatif. Mengoksidasi sepenuhnya setara dengan satu molekul glukosa, dua asetil-KoA harus dimetabolisme oleh siklus Krebs. Dua produk limbah, H2O dan CO2, diciptakan selama siklus ini.
Siklus asam sitrat adalah sebuah 8-langkah proses yang melibatkan enzim dari 8. Di seluruh siklus, asetil-KoA akan berubah menjadi sitrat, Isositrat, α-ketoglutarat, suksinil-CoA, suksinat, Fumarat, malat, dan akhirnya, oksaloasetat. Memperoleh energi bersih dari satu siklus adalah 3 NADH, 1 FADH, dan 1 ATP. Dengan demikian, total jumlah energi seluruh hasil dari satu molekul glukosa (2 piruvat molekul) adalah 6 NADH, 2 FADH, dan 2 ATP.
Fosforilasi oksidatif
Pada eukariota, fosforilasi oksidatif terjadi di krista mitokondria. Ini terdiri dari rantai transpor elektron yang membentuk gradien proton (kemiosmotik potensial) melintasi membran dengan mengoksidasi yang NADH yang dihasilkan dari siklus Krebs. ATP disintesis oleh enzim ATP sintase ketika gradien kemiosmotik digunakan untuk mendorong fosforilasi ADP. Elektron akhirnya ditransfer ke eksogen oksigen dan, dengan tambahan dua proton, air terbentuk.
Teoritis
Produktivitas dalam tabel di bawah ini untuk satu molekul glukosa sepenuhnya teroksidasi menjadi karbon dioksida. Diasumsikan bahwa semua koenzim tereduksi dioksidasi oleh rantai transpor elektron dan digunakan untuk fosforilasi oksidatif.
Step coenzyme yield ATP yield Source of ATP
Glycolysis preparatory phase -2 Fosforilasi glukosa dan fruktosa 6-fosfat menggunakan dua ATP dari sitoplasma.
Glycolysis pay-off phase 4 Fosforilasi tingkat substrat
2 NADH 4 (6) Fosforilasi oksidatif. Hanya 2 ATP per NADH sejak koenzim harus disisipkan kedalam rantai transpor elektron dari sitoplasma daripada matriks mitokondria. Jika alik malat digunakan untuk memindahkan NADH ke mitokondria ini mungkin menghitung sebagai 3 ATP per NADH.
Oxidative decarboxylation of pyruvate 2 NADH 6 Fosforilasi oksidatif
Krebs cycle 2 Fosforilasi tingkat substrat
6 NADH 18 Fosforilasi oksidatif
2 FADH2 4 Oxidative phosphorylation
Total yield 36 (38) ATP Dari lengkap oksidasi satu molekul glukosa menjadi karbon dioksida dan oksidasi koenzim semua berkurang.
Meskipun ada hasil teoritis 36-38 molekul ATP per glukosa selama respirasi sel, kondisi seperti itu umumnya tidak menyadari akibat kerugian seperti biaya bergerak piruvat (dari glikolisis), fosfat, dan ADP (substrat untuk sintesis ATP) ke mitokondria. Semua secara aktif diangkut menggunakan operator yang memanfaatkan energi yang tersimpan dalam proton gradien elektrokimia.
* Piruvat diambil oleh yang spesifik, km rendah transporter untuk membawa ke dalam matriks mitokondria untuk oksidasi oleh kompleks dehidrogenase piruvat.
* The fosfat translokase symporter dan merupakan kekuatan pendorong untuk memindahkan ion fosfat ke dalam mitokondria adalah proton gaya penggeraknya.
* Para pembawa adenin nukleotida adalah antiporter dan pertukaran ADP dan ATP melintasi membran. Kekuatan pendorong ini disebabkan oleh ATP (-4) memiliki muatan negatif yang lebih daripada ADP (-3) dan dengan demikian itu menghantarkan beberapa komponen listrik proton gradien elektrokimia.
Hasil dari proses transportasi ini menggunakan proton gradien elektrokimia adalah bahwa lebih dari 3 H + yang diperlukan untuk membuat 1 ATP. Jelas ini mengurangi efisiensi teoretis seluruh proses dan maksimum yang mungkin lebih dekat dengan 28-30 molekul ATP. Dalam praktik efisiensi mungkin lebih rendah lagi karena membran mitokondria agak bocor untuk menjadi proton. Faktor lain mungkin juga menghilangkan gradien proton menciptakan bocor tampaknya mitokondria. Uncoupling protein yang dikenal sebagai thermogenin dinyatakan dalam beberapa jenis sel dan merupakan saluran yang dapat transportasi proton. Ketika protein ini aktif dalam membran sirkuit pendek yang coupling antara rantai transpor elektron dan sintesis ATP. Energi potensial dari gradien proton tidak digunakan untuk membuat ATP tapi menghasilkan panas. Hal ini terutama penting dalam lemak cokelat thermogenesis dari mamalia yang baru lahir dan berhibernasi.
Fermentasi
Tanpa oksigen, piruvat tidak dimetabolisme oleh respirasi sel tetapi mengalami proses fermentasi. Yang piruvat tidak diangkut ke dalam mitokondria, tetapi tetap dalam sitoplasma, di mana waktunya akan diubah ke produk-produk limbah yang dapat dikeluarkan dari sel. Ini melayani tujuan pembawa mengoksidasi hidrogen sehingga mereka dapat melakukan glikolisis lagi dan mengeluarkan kelebihan piruvat. Produk limbah ini bervariasi tergantung pada organisme. Dalam kerangka otot, produk limbah asam laktat. Jenis ini disebut fermentasi asam laktat fermentasi. Dalam ragi, produk limbah etanol dan karbon dioksida. Jenis ini dikenal sebagai fermentasi alkohol atau fermentasi etanol. ATP dihasilkan dalam proses ini adalah dibuat oleh fosforilasi tingkat substrat, yang tidak memerlukan oksigen.
Fermentasi kurang efisien dalam menggunakan energi dari glukosa sejak 2 ATP diproduksi per glukosa, dibandingkan dengan 38 ATP per glukosa diproduksi oleh respirasi aerobik. Hal ini karena produk-produk dari fermentasi limbah masih mengandung banyak energi. Etanol, misalnya, dapat digunakan di bensin (bensin) solusi. Glikolitik ATP Namun, dibuat lebih cepat. Untuk prokariota untuk melanjutkan tingkat pertumbuhan yang cepat ketika mereka dialihkan dari lingkungan aerobik ke lingkungan anaerobik, mereka harus meningkatkan laju reaksi glikolitik. Untuk organisme multiseluler, selama semburan pendek aktivitas berat, sel-sel otot menggunakan fermentasi untuk melengkapi produksi ATP dari respirasi aerobik lebih lambat, sehingga fermentasi dapat digunakan oleh sebuah sel bahkan sebelum tingkat oksigen habis, seperti yang terjadi dalam olahraga yang dilakukan tidak mengharuskan atlet untuk kecepatan sendiri, seperti berlari.
Respirasi Anaerobik
Respirasi anaerobik digunakan oleh beberapa mikroorganisme di mana tidak ada oksigen (aerobik respirasi) maupun piruvat piruvat atau derivatif (fermentasi) adalah akseptor elektron terakhir. Sebaliknya, seorang akseptor anorganik (misalnya, Sulfur) digunakan.
1. ^ Campbell, Neil A.; Brad Williamson; Robin J. Heyden (2006). Biology: Exploring Life. Boston, Massachusetts: Pearson Prentice Hall. ISBN 0-13-250882-6. http://www.phschool.com/el_marketing.html.
2. ^ a b c Rich, P. R. (2003). “The molecular machinery of Keilin’s respiratory chain”. Biochemical Society Transactions 31 (Pt 6): 1095–1105. doi:10.1042/BST0311095. PMID 14641005. edit
3. ^ Porter, Rk; Brand, Mdvhhvkkdoc (1 September 1995). “Mitochondrial proton conductance and H+/O ratio are independent of electron transport rate in isolated hepatocytes” (Free full text). The Biochemical journal 310 ( Pt 2) (Pt 2): 379–82. ISSN 0264-6021. PMID 7654171.& PMC 1135905. http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?tool=pubmed&pubmedid=7654171. h m edit



Wiki: Respirasi
Respirasi dalam biologi adalah proses mobilisasi energi yang dilakukan jasad hidup melalui pemecahan senyawa berenergi tinggi (SET) untuk digunakan dalam menjalankan fungsi hidup. Dalam pengertian kegiatan kehidupan sehari-hari, respirasi dapat disamakan dengan pernapasan. Namun demikian, istilah respirasi mencakup proses-proses yang juga tidak tercakup pada istilah pernapasan. Respirasi terjadi pada semua tingkatan organisme hidup, mulai dari individu hingga satuan terkecil, sel. Apabila pernapasan biasanya diasosiasikan dengan penggunaan oksigen sebagai senyawa pemecah, respirasi tidak melulu melibatkan oksigen.
Pada dasarnya, respirasi adalah proses oksidasi yang dialami SET sebagai unit penyimpan energi kimia pada organisme hidup. SET, seperti molekul gula atau asam-asam lemak, dapat dipecah dengan bantuan enzim dan beberapa molekul sederhana. Karena proses ini adalah reaksi eksoterm (melepaskan energi), energi yang dilepas ditangkap oleh ADP atau NADP membentuk ATP atau NADPH. Pada gilirannya, berbagai reaksi biokimia endotermik (memerlukan energi) dipasok kebutuhan energinya dari kedua kelompok senyawa terakhir ini.
Kebanyakan respirasi yang dapat disaksikan manusia memerlukan oksigen sebagai oksidatornya. Reaksi yang demikian ini disebut sebagai respirasi aerob. Namun demikian, banyak proses respirasi yang tidak melibatkan oksigen, yang disebut respirasi anaerob. Yang paling biasa dikenal orang adalah dalam proses pembuatan alkohol oleh khamir Saccharomyces cerevisiae. Berbagai bakteri anaerob menggunakan belerang (atau senyawanya) atau beberapa logam sebagai oksidator.
Respirasi dilakukan pada satuan sel. Proses respirasi pada organisme eukariotik terjadi di dalam mitokondria.
http://wapedia.mobi/id/Respirasi

menurut saudara apa yang perlu ditambahkan?